PASAL KEDUAPULUH DELAPAN :
PENYAKIT HATI LEBIH MEMBAHAYAKAN DARIPADA PENYAKIT TUBUH
Perlu diketahui bahwa penyakit-penyakit hati lebih besar bahaya dan komplikasinya, bahkan lebih buruk dari penyakit yang diderita oleh badan seorang dari segala sisinya dan wujudnya beraneka ragam. Penyakit hati dapat membahayakan seorang dari agamanya, sehingga akan menyengsarakan seorang ketika di dunia dan di akhiratnya, karena penyakit hati akan bedampak negatif ketika seorang berada di akhirat, jaakan kekal dalam siksa Allah untuk selama-lamanya. Adapun penyakit yang menimpa jasad seseorang tidak terlalu bahaya bagi penderitanya, kecuali di dunia yang fana yang sebentar lagi ia akan meninggalkannya. Adapun penyakit pada badan seorang akan menyebabkan kematian, jadi penyakit yang menimpa jasad seorang masih lebih bermanfaat bagi agamanya dan di akhiratnya lebih banyak manfaatnya daripada ketika ja masih di dunia, karena seorang yang diuji dengan penyakit yang besar oleh Allah, maka ia akan diberi pahala yang besar juga. Di antara keuntungan penyakit yang menimpa jasad seorang, baik yang bersifat cepat maupun lambat telah disebutkan dalam berbagai ayat dan berbagai hadits tentang pahalanya.
Ada sejumlah penyakit hati yang tidak dapat dirasa oleh seorang, karena penyakit hati tidak dapat dirasakan sakitnya, sedangkan penyakit yang menimpa jasad seorang dapat dirasa secara terang. Karena itu, orang yang terkena penyakit pada tubuhnya, maka ia lebih cepat mencari obatnya daripada orang yang terkena penyakit hati.
Imam Ghazali berkata: “Seorang yang terkena penyakit belang, maka ia tidak merasakan apapun pada tubuhnya, hanya kawannya yang memberitahu, bahkan ia tidak percaya bahwa kulit tubuhnya terkena penyakit belang.”
Demikian pula segala penyakit yang disebutkan ancamannya oleh agama adalah penyakit hati yang mana pelakunya akan disiksa di akhirat dan penyakit ini biasanya
dianggap remeh oleh orang yang terkena penyakit hati, bahkan di antara mereka ada yang merasa heran yang ada di hatinya.
Seorang yang terkena penyakit hati menganggap biasa, karena ia merasa ghurur terhadap Allah dan ia tidak berharap banyak terhadap ampunan dan keselamatan daripada penyakit yang menimpa jasadnya.
Adapun macam-macam penyakit hati berupa misteri dan tidak tampak jelas, karena itu orang-orang yang menderita penyakit hati selalu meremehkannya dan tidak mau berusaha untuk mengobatinya, bahkan jika ada seorang di antara kita terkena penyakit hati, maka ia tidak mengerti cara menghilangkannya karena ia tidak peduli kepadanya. Andaikata ia mengetahui adanya penyakit pada tubuhnya, maka ia berusaha sekuat mungkin untuk mengobatinya.
Adapun penyebabnya, penyakit hati tidak dapat dirasa dengan perasaan, tidak sama dengan penyakit yang menimpa jasad seorang, bahkan ia melalaikannya, sedangkan siksa yang dijanjikan oleh Allah merupakan perkata yang gaib yang terjadi setelah kematiannya dan tiba di kampung akhurat.
Orang yang bodoh menganggap kematian masih jauh, apalagi kejadian setelahnya. Andaikata ia berakal dan yakin, pasti ia menyadari bahwa kematian adalah perkara gaib yang ditunggu, seperti yang disebutkan dalam sabda Nabi saw. berikut:
“Surga akan lebih dekat kepada kalian daripada tali sandalnya dan begitu juga neraka.”
Perlu diketahui bahwa penyakit hati banyak jumlahnya dan yang paling berbahaya adalah jika seorang tidak percaya kepada agamanya atau jika seorang lemah keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada hari akhirat. Di antara penyakit hati adapula penyakit riya’, sombong kepada orang lain, kikir, dendam ingin berbuat jahat, ingin berbuat curang terhadap kaum muslimin, terutama cinta kepada dunia dan sangat menyanyanginya, banyak berangan-angan dan melupakan hari akhirat. Seorang yang melupakan akhirat sehingga ia tidak menyiapkan dirinya dengan
memperbanyak amal kebajikannya, maka hal itu termasuk penyakit hati yang paling besar.
Karena hati selalu tertutup dengan hijab, maka perasaan semacam itu tidak biasa terlihat oleh panca indra, bahkan tidak dapat dilihat dengan peralatan yang paling canggih, sehingga seorang yang berakal yang selalu perhatian kepada agamanya dan keselamatan akhiratnya dan selalu berusaha untuk mengenalinya dan mengobati penyakit hatinya sebelum ja dijemput kematian dan menemui Tuhannya dengan hati yang kotor sehingga ia rugi dan celaka. Seorang yang mempunyai penyakit hati akan terlihat tanda-tanda lahiriyahnya, di antaranya adalah malas untuk beribadah dan berbuat kebajikan, bahkan ia selalu ingin berbuat maksiat dan kesenangan. Adapun keinginannya untuk membersihkan hatinya sangat sedikit sekali. Karena itu, siapapun yang merasa bahwa hatinya ada suatu penyakit, maka hendaknya ia berusaha sekuat mungkin untuk mengobatinya. |
Adapun cara yang paling baik adalah mencari seorang guru mursyid yang dapat mengetahui penyakit hatinya, sehingga ia akan diberi petunjuk tentang penyakit hatinya. Tetapi jika ia tidak mendapat seorang guru mursyid, maka ia harus mencari seorang saudara yang baik yang dapat memberinya nasihat.
Adapun jika seorang mempunyai penyakit hati, hendaknya ia memperbanyak membaca kitab Ihya’ karya Imam Ghazali, khususnya tentang Rub’ul Muhlikat, karena Imam Ghazali menulis judul itu dengan tujuan agar hatinya terlepas dari segala penyakit dan mendapatkan obatnya yang terbaik, dan juga tanda-tanda yang menunjukkan keberadaannya serta kuat lemahnya tanda-tanda itu. Tetapi segala nasihat yang terdapat di dalam kitab itu tidak seampuh guru yang arif dan teman yang saleh, tetapi kitab itu adalah jalan alternatif bagi yang tidak menemukan guru mursyid atau teman yang saleh yang membimbingnya ke jalan Allah.
Sesungguhnya Allah menolong seorang yang mempunyai kemauan keras untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, karena Allah adalah sebaik-baik Tuhan Yang dapat dimintai pertolongan.









One Comment