PASAL KETIGAPULUH SATU :
KEPRIBADIAN SEORANG MUKMIN LEBIH BAIK DARI YANG DIBERITAKAN, SEDANGKAN KEPRIBADIAN SEORANG MUNAFIK SEBALIKNYA
Kepribadian seorang mukmin yang bertakwa lebih baik dari berita dan penyebutannya meskipun beritanya baik dan indah. Jika engkay makin lama mengenal dan bergaul baik dengannya, maka kecintaanmy akan bertambah besar kepadanya, karena engkau melihat dirinya selalu mentaati Allah, banyak beribadah kepada Allah, selalu mengagungkan Allah, selalu cepat mencapai ridha Allah, menjauhi segala dosa dan menjalankan perintah-perintah Allah dengan baik demi untuk menjauhi murka Allah.
Kepribadian seorang munafik jauh lebih buruk dari berita dan penyebutannya meskipun beritanya sudah buruk. Jika engkau makin lama mengenal dan bergaul dengannya, maka kebencianmu akan bertambah besar kepadanya, karena engkau melihat dirinya tidak mencintai Allah, meremehkan perintah-perintah Allah, suka menyebabkan Allah murka dan kurang menjaga perintah-perintah Allah yang diwajibkan kepadanya.
Engkau akan mengetahui apa saja yang kami sebutkan bahwa pengalaman seorang mukmin lebih baik dari pengalaman seorang munafik dan seorang munafik selalu berusaha untuk menghalangi perbuatan yang baik.
Demikianlah kita harus mengambil pelajaran dari orang-orang yang sangat perhatian terhadap agama dari kaum ulama dan orang-orang saleh maupun orang-orang yang mempunyai kedudukan tinggi dalam urusan duniawi, seperti para penguasa dan sultan. Jika mereka lebih banyak berhubungan dan lebih dekat dengan kebaikan, maka hal ini menunjukkan kebaikan dan kelurusan urusan mereka. Tetapi jika mereka lebih banyak berhubungan dengan orang-orang yang jauh dari kebaikan, maka hal ini berbeda dengan yang di atas. Adapun penyebabnya adalah karena lemahnya mereka dalam menjalankan hakhak dan kewajiban yang menjadi tugas mereka atau juga karena mereka lalai dan sibuk dengan urusan yang tidak penting pertama.
Jika seorang yang menjauh dari mereka, maka berarti ia sedikit kebaikannya dan kesalehannya, sedangkan seorang yang dekat dengan mereka, maka berarti ia orang
yang lebih baik dan saleh. Hal ini menunjukkan kebaikan mereka. Meskipun demikian mereka masih lemah dan lalai menjalankan tugas mereka untuk memperingatkan dari hal-hal yang bertentangan dengan agama.
Adakalanya hal itu disebabkan karena daerah kekuasaan sang penguasa sangat luas dan rakyatnya bertambah banyak dan tersebar dimana-mana, seperti yang dikatakan oleh Amirul mukminin Umar bin Khaththab ra. di akhir kekuasaannya berikut:
“Ya Allah, sesungguhnya usiaku makin bertambah tua, kekuatanku makin bertambah lemah, rakyatku makin bertambah banyak. Karena itu, jika engkau mematikan aku, maka matikanlah aku tanpa teruji dan tanpa menQur’angi kewajibanku terhadap mereka.”
Umar ra. juga berkata:
“Sungguh jika ada suatu binatang yang mati di tepi sungai Furat secara sia-sia, maka aku takut jika dimintai pertanggungan Jawab oleh-Mu tentangnya.”
Maka kalian bertambah jelas bahwa kekuasaan Umar Ibnu Khaththab ra. pada waktu itu sangat luas, sehingga tidak pantas dikuasai oleh seorang yang lemah untuk mengerjakannya. Karena itulah banyak ulama yang tidak mau diberi kekuasaan apapun, karena Nabi saw. pernah bersabda:
“Jiwa yang dapat memperhitungkan dirinya sendiri lebih baik dari kekuasaan yang tidak dapat memperhitungkan kekuasaan: nya.”
Maksud dari hadits di atas, seorang yang tidak mampu menegakkan atau menjalankan kekuasaan, maka hal itu akan menjadi pertanggungan jawab baginya.
PASAL KETIGAPULUH DUA :
PERBEDAAN TUJUAN BERGAUL ATAU BERSAHABAT DENGAN ORANG-ORANG BAIK
Bersahabat dengan orang-orang yang kuat agamanya, orang-orang yang baik dari kaum ulama yang mengamalkan ilmunya dan dengan hamba-hamba Allah yang saleh sangat dianjurkan untuk melakukannya. Karena bergaul dengan mereka akan mendatangkan kebaikan segera ataupun kemudian.
Tentang masalah ini banyak disebutkan dalam berita-berita dan atsar, tetapi manusia yang mencari hal ini terbagi menjadi bermacammacam niat dan tujuan.
Adapun yang paling utama adalah yang bergaul dengan mereka dengan tujuan untuk mengambil pelajaran yang terbaik dari diri mereka, meniru kesalehan perbuatan dan tutur kata mereka, agar dapat meniru perbuatan baik mereka. Ia tidak mempunyai tujuan apapun, kecuali untuk meneladani ucapan dan perbuatan mereka.
Adapun yang bergaul baik dan mencintai mereka, karena mereka lebih mengutamakan keselamatan agamanya, mengerjakan perintahNya, menyibukkan diri dengan mentaati-Nya dan mengamalkan perbuatan baik yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah, mengikuti budi pekerti yang baik dan meniru amal-amal yang baik, sehingga ia mencintai mereka dan mengajak orang lain untuk bergaul baik dengan mereka dan dirinya ingin berbuat baik seperti yang mereka kerjakan. Tetapi siapapun yang tidak dapat meniru kebaikan mereka, maka ia akan menyesalinya dan ia ingin sekuat tenaga jika ada kesempatan untuk melakukan kebaikan seperti yang dilakukan oleh mereka, seperti yang disebutkan dalam hadits Nabi saw. berikut:
“Seorang akan dikumpulkan dengan seorang yang dicintainya.” Selain itu, Nabi saw. juga bersabda:
“Barangsiapa yang meniru perilaku sekelompok orang, maka ia termasuk dari golongan mereka.”
Adapun yang bergaul baik dengan mereka agar ia mendapat berkah dan kebaikan doa mereka. Sedikitpun ia tidak mempunya niat untuk berbuat apapun kecuali hanya
untuk mengikuti perilaku mereka, karena seorang yang mengikuti mereka akan mendapat berkah dan ia termasuk orang yang disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi berikut:
“Mereka adalah kelompok orang yang tidak akan merugi yang duduk dengan mereka.”
Sampaipun seorang yang bergaul erat dengan mereka, maka ia akan mendapat perlindungan Allah dari gangguan setan, manusia dan jin, dan ia tidak akan merugi sedikitpun dari keberkahan orang-orang baik.
Adapun yang diharamkan bagi seorang yang bergaul erat dengan orang-orang baik jika tujuannya untuk menutupi dirinya dari segala perbuatan maksiat yang biasa dilakukannya.
Imam Ghazali telah membagi riya’ menjadi beberapa tingkatan.
Ada seorang yang riya’ dengan menunjukkan perbuatan baiknya agar dikenal sebagai orang baik. Hal itu dapat dilakukan oleh setiap orang yang suka berbuat dosa. Jika seorang melakukan perbuatan semacam itu yaitu bergaul erat dengan orang-orang yang saleh, maka ia akan bersikap sebagai orang-orang saleh, sedangkan setan adalah musuh yang terang yang mempunyai berbagai macam untuk menipu manusia agar manusia dapat berbuat buruk dan kemungkaran. Semoga Allah menjauhkan kami dari setan, karena Allah adalah sebaik-baik untuk dimintai perlindungan.









One Comment