Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Fushul Al Ilmiyah Lengkap

PASAL KEDELAPAN :

ORANG FAKIR YANG SABAR DAN YANG TIDAK SABAR, KEFAKIRAN YANG TERPUJI DAN YANG TERCELA

Seorang yang menginginkan harta sebesar kebutuhannya atau lebih banyak dari kebutuhannya, maka hal itu tidak mudah baginya, karena ia harus membagi hartanya sepenuh kebutuhannya. Yang sedemikian Itu termasuk orang yang miskin, tetapi ia tidak tergolong dari orangorang yang zuhud. Ia termasuk orang wara’ dan takwa ketika menerima hartanya, kemudian ia bersabar atas kecukupannya itu, sehingga ia menjadi seorang miskin yang sabar.

Adapun kemiskinan yang terpuji telah disebutkan keutamaannya oleh Al-Qur’an dan sejumlah hadits Nabi saw., seperti yang disebutkan dalam sabda Nabi saw. berikut:

“Orang-orang miskin yang bersabar adalah orang-orang yang dekat di sisi Allah pada hari kiamat kelak.”

Tetapi siapapun yang kehilangan takwa dan wara’nya ketika mencari dunia, merasa kurang atas pemberian Allah kepadanya, tidak bersabar dan tidak puas atas kehendak Allah, merasa susah dan kecewa atas ketentuan Allah, maka ia termasuk orang miskin yang tercela. Mungkin kefakiran itu yang dimaksud dalam salah satu sabda Nabi saw. berikut:

“Ada kemungkinan kemiskinan akan menyebabkan seorang menjadi kafir”

Mungkin kemiskinan seperti inilah yang menyebabkan Nabi saw. kelalu mohon perlindungan dari-Nya.

Kemiskinan seperti inilah yang menyebabkan seorang terhina di kalangan masyarakatnya, tetapi meskipun demikian jumlahnya tidak banyak, karena ia memelihara dirinya dari minta-minta kepada orang lain.

Kiranya hanya Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui keadaan mereka.

PASAL KESEMBILAN :

TIDAK ADA KETENANGAN HIDUP DI DUNIA, KECUALI BAGI ORANG-ORANG YANG BODOH

Seorang mukmin yang berakal, pasti merasa tidak senang ketika mendapatkan harta, karena jika ia merasa tenang tetapi ketenangannya “lalu diikuti kelalaian terhadap Tuhannya dan hari akhiratnya. Adapun seorang bodoh akan merasa tenang di dunia, karena ja tidak berpikir bahwa dunia akan menyebabkannya sengsara, hatinya selalu risau meskipun hartanya banyak, karena setiap orang senantiasa membutuhkan hidup tenang yaitu hidup yang tidak ternodai oleh kesusahan apapun. Pokoknya orang-orang yang pandai dan berakal selalu berharap ketenangan di dalam hidupnya, tetapi orang-orang yang bodoh atau tidak berakal selalu merasa senang dengan harta yang ia miliki.

Seorang  akan  mendapat  ketenangan  jiwanya  jika  ia  senantiasa  mgat  kepada

Tuhannya, seperti yang diucapkan oleh Al-Mutanabbih dalam bait-baitnya berikut: .

“Adakalanya hidup dirasa lenang bagi orang yang bodoh alay seorang yang lalai, karena ia telah lalai dari kesusahan yang pernah menghimpitnya dan kesusahan yang akan terjadi. Seorang yang menilai salah tentang kebenaran dirinya, maka nafsunya Selalu perharap sesuatu yang tidak akan tercapai dalam hidup”

Al-Mutanabbih juga berkata: .

“Orang berakal akan merasa  sengsara ketika  ia menerima  kesenangan  dengan akalnya, tetapi orang yang bodoh akan merasa susah jika ia menerima kesenangannya.”

PASAL KESEPULUH :

KEADAAN SEORANG MENJADI BAIK DENGAN BERTAKWA DAN MENJADI BURUK DENGAN KEMAKSIATAN

Perlu diketahui bahwa segala sesuatu akan dirasa indah ketika ia menerimanya dengan takwa dan ihsan daripada seorang yang tidak menerima takdir Allah dengan senang  hati,  seperti kemiskinan,  kekayaan,  kesehatan,  penyakit,  kemuliaan  dan kehinaan. Sedangkan perasaan tidak menonjolkan diri dan ketenaran juga akan dirasa bahagia. Tetapi sebaliknya segala sesuatu akan dirasa mengecewakan dirinya jika seorang tidak dapat mensyukuri karunia yang diberikan Allah kepadanya.

Adapun keterangannya tentang hal itu adalah ketika seorang merasa yakin dan berbaik sangka kepada Allah, maka segala kesulitan yang ia hadapi akan dirasa puas karena ia didukung oleh Allah dengan berbagai perasaan yang menggembirakan hatinya, seperti perasaan puas, mau menerima apa adanya, bersabar, wara’ dan tidak butuh kepada pemberian orang lain. Pokoknya ia senantiasa menjaga dirinya dari sifat-sifat yang terhina, karena Allah telah memberinya rasa kepuasan, kedekatan, bantuan, kesabaran, pertolongan dan berbagai sifat mulia yang lain. Meskipun demikian, ia tetapi terlihat jaya dan bahagia, karena ja bisa menutupi kekurangan dirinya sehingga orang lain banyak yang memujinya.

Sebaliknya, jika seorang ditimpa kemiskinan dan ia tidak merasa puas dan bersabar atas kesulitan yang dihadapi, maka ia akan merasa jengkel, bermuka cemberut dan selalu berharap mendapatkan harta seperti yang diberikan kepada orang lain.

Orang semacam itu selalu tidak pernah merasa puas, tidak merasa mendapat pertolongan dan tidak pernah bersabar, karena ia selalu menunjukkan kemiskinannya di hadapan orang lain dan ia selalu mengumpat kemiskinannya, karena ia tidak pandai memilih bagi dirinya, tidak pandai menjaga kebaikan dirinya dan ia selalu berburuk sangka kepada Allah yang telah mengujinya dengan kemiskinan di dunia.

Tetapi berbeda dengan seorang yang bertakwa dan berbaik sangka kepada Allah, maka Allah memberikannya perasaan cukup dan kepuasan tersendiri, sehingga ia senantiasa  bersyukur,  mengagungkan  nikmat  Allah  dan  menggunakannya  untuk

mentaati Tuhannya, selalu memberikan hartanya untuk berbuat kebajikan dan ia akan selalu berbuat baik kepada orang yang jauh maupun kepada orang yang dekat.

Pokoknya, ia senantiasa ridha dan puas, apalagi ketika ia diberi kenikmatan yang lebih baik dari yang ia miliki, sehingga setiap orang membicarakan bahwa dirinya adalah orang yang baik, karena ia suka berbuat kebaikan, sehingga orang lain juga mendoakannya semoga ia diberi kemudahan, keluasan dan lain sebagainya.

Tetapi jika orang itu suka berbuat dosa dan menyakiti orang lain meskipun ia diberi harta yang cukup, maka ia akan bersifat ingin mengumpulkan harta sebanyak- banyaknya, kikir dan selalu berharap diberi kekayaan yang lebih dari yang dimilikinya dan ia berharap segala keburukan akan tertimpa pada orang lain.

Seharusnya setiap orang mensyukuri tentang ketakwaan, kebajikan, kesehatan dan keselamatan dirinya dari perasaan yang tidak puas dan hendaknya ia selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan menggunakan segala karunia Allah untuk mendekatkan dirinya kepada Allah.

Jika seorang telah bersikap demikian, maka Allah akan ridha dan memberi kemuliaan kepadanya,  sehingga orang  lain  banyak  yang  memuji  dirinya  karena  amal-amal kebajikannya dan ia senantiasa meningkatkan amal-amal kebajikannya dan ketaatannya.

Orang semacam itu meskipun dalam keadaan sakit dan tidak pernah sehat tetapi ia selalu merasa puas, bersabar dan menyerah kepada kehendak Allah, tidak pernah murka atau putus asa kepada Allah dan tidak pernah pula mengadukan kemiskinannya atau keburukannya kepada orang lain.

Maka Allah akan memberinya  kepuasan, pertolongan, bantuan, kelembutan dan ketenangan hatinya. Pokoknya, setiap orang yang melihat diri orang itu akan memujinya, karena ia senantiasa bersabar atas kesulitan. penyakit dan segala cobaan yang ia hadapi. Ia yakin bahwa semua yang diberi oleh Allah dapat menghapus dosanya dan dapat meninggikan kedudukannya.

Lain halnya dengan seorang yang suka berbuat dosa, meskipun dirinya diberi kesehatan, keselamatan dan kekayaan, pasti ia akan bersikap sewenang-wenang terhadap orang lain dan malas beribadah. Pokoknya segala karunia yang diberikan Allah kepadanya digunakan untuk berbuat dosa dan berbagai maksiat.

Maka orang seperti itu akan dimurkai dan dijauhi oleh Allah dan lisan orang-orang baik akan selalu mencelanya atas kesewenangannya dan atas perilakunya yang selalu ingin berbuat dosa.

Orang semacam itu jika tertimpa suatu cobaan atau ujian yang ringan, maka hatinya akan dongkol, tidak bersabar dan putus asa dengan takdir Allah dan ia akan bersikap yang buruk kepada siapapun.

Maka orang seperti itu akan dimurkai oleh Allah dan diusir dari rahmat-Nya dan orang- orang yang akan menyebutnya sebagai orang-orang buruk yang disebabkan oleh penyakit, perbuatan dosa yang pernah ia lakukan, kezaliman dan banyaknya dosa- dosa yang lain. Tentang masalah seperti itu, maka lihatlah bahwa kemuliaan, kehinaan, menutup diri dari ketenaran dan kesenangan, pasti akan berdampak yang baik atau yang buruk di antara manusia. Tetapi jika gorang yang bertakwa suka berbuat kebajikan dan mentaati Allah, Phaka orang itu berbeda dengan orang yang suka berbuat dosa, karena orang lain sering menuduh dan mencela perbuatan dosanya.

Sudah seharusnya setiap orang memikirkan masalah ini baik-baik, gar ia terlepas dari segala kesulitannya. Jika kita memperpanjang pembahasan tentang masalah ini, maka akan membutuhkan waktu dan pembahasan yang luas. Tetapi bagi seorang jenius, maka masalah ini dianggap cukup, karena ia selalu berharap kebaikan dari Allah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker