PASAL KETIGAPULUH SEMBILAN :
PENYESALAN MUAWIYAH ATAS PERBUATANNYA TERHADAP ALI RA.
Diriwayatkan bahwa Muawiyah bin Abu Sufyan pernah berkata kepada Dhirar bin Dhamrah: “Wahai Dhirar, sebutkan kepadaku sifat Ali.” Tanya Dhirar: “Apakah engkau akan mema’afkan aku, wahai amirul mukminin?” jawab Muawiyah: “Pokoknya sebutkan saja.” Maka Dhirar berkata: “Ali bin Abi Thalib adalah orang yang sangat kuat tubuhnya, ucapannya tegas, pemikirannya adil, lebih senang makanan yang kasar dan pakaian yang tidak baik, ia senantiasa menganggap hina dan segala kesenangannya dan lebih senang jika malam hari dan kegelapannya telah tiba. Aku bersaksi bahwa aku telah melihat pribadinya pada suatu malam hari yang gelap. Ia berdiri di atas mihrabnya dan ia bergerak| gerak seperti orang sehat tetapi ia menangis seperti orang yang sedang kesusahan, ia memegang janggutnya seraya berkata: “Wahai dunia, godalah orang lain, aku telah menceraimu tiga kali dan aku tidak akan kembali lagi kepadamu, karena usiamu sangat pendek, nilaimu sangat hina, bahayamu sangat besar. Aduh celakanya diriku jika bekalku ke alam akhirat sangat sedikit sedang perjalanannya sangat panjang dan sangat sulit.” Mendengar ucapan Dhirar seperti itu Muawiyah menangis, kemudian ia berkata: “Sungguh apa yang engkau katakan tentang Abul Hasan itu adalah benar.”
Ucapan Dhirar itu menyebabkan Muawiyah menjadi menyesal karena ia telah memerangi Ali, demikian pula Aisyah, Thalhah, Zubair, demikian pula Abdullah bin Umar yang tidak berpihak dengan Ali ketika Ali dan pengikutnya berperang seorang diri. Tetapi itulah ketentuan yang telah ditentukan oleh Allah terhadap sejumlah sahabat Rasulullah Saw.
Adapun bait-bait puisi yang diucapkan oleh Shahibul Burdah berikut ini sangat tinggi nilainya:
“Aku mohon ampun kepada Allah dari segala tutur kata tanpa perbuatan. Aku telah menasabkan diriku kepada seorang yang mandul. Aku telah menyuruhmu berbuat baik, tetapi aku sendiri tidak melakukannya. Aku tidak istiqamah terhadap ucapanku yang aku sampaikan kepadamu. Aku tidak membekali diri sebelum mati dengan amal- amal sunnah dan aku tidak melakukan shalat, kecuali yang fardhu dan aku pun tidak
rajin berpuasa. Sungguh aku telah menzalimi sunnah Nabi yang senantiasa yang menghidupkan malam harinya sampai beliau saw. merasa kedua telapak kakinya bengkak. Beliau saw. mengikat perutnya karena lapar dan melipat. Pinggangnya yang halus kulitnya di bawah batu. Beliau saw. ditawari berbagai bukit menjadi emas, tetapi ditolak Oleh beliau saw. dengan baik. Kezuhudannya terhadap dunia merupakan kebiasaan hidupnya. Kemudharatannya tidak sampai menjadikan beliau saw. melanggar dosa. Bagaimana engkau akan mengajak kita mencintai dunia padahal jika pribadi beliau saw. tidak diciptakan, maka dunia seisinya tidak akan tercipta.
Muhammad adalah pemimpin alam dunia dan akhirat, manusia dan jin, serta dua golongan bangsa Arab dan Ajam (non-Arab).”
Selain itu, Al-Bushiri menyebutkan dalam bait syairnya berikut yang berakhir dengan huruf lam:
“Sampai kapan engkau terus bersenang-senang dengan duniawi? Padahal engkau melalaikan segala sesuau yang akan dipertanyakan. Setiap hari engkau berharap untuk bertaubat esok pagi, sedangkan kemauanmu tidak engkau laksanakan sedikitpun.”
Al-Khalil bin Ahmad berkata dalam bait syairnya berikut:
“Tidaklah waktu itu hanya berganti malam setelah malam yang kemarin. Setiap harinya juga berganti setelah hari kemarin. Demikian pula, bulan terus berganti setelah bulan yang lalu. Pergantian waktu itu selalu mendekatkan yang baru kepada kehancuran, mengantarkan jasad semua orang-orang mulia ke dalam kubur dan mereka ditinggal oleh para istri yang dulunya selalu cemburu kepada orang lain dan merampas kesenangan yang mengelilingi orang yang pelit.”
Seorang penyair yang lain juga berkata:
“Aku melihat kesenanganmu kepada harta makin bertambah, seolah-olah engkau tidak akan mati. Apakah itu yang engkau tuju jika pada suatu hari kekayaan itu akan engkau tolak karena banyaknya.”
Seorang penyair yang lain berkata:
“Wahai orang yang selalu berharap kehidupan, padahal semuanya mengandung kesulitan. Engkau telah menghabiskan masa-masa kesenanganmu di masa lalu, padahal untuk mencapainya engkau harus mengarungi lautan yang berbahaya dan engkau tidak memperoleh semua air yang engkau inginkan kecuali hanya sedikit. Seorang yang mau menerima apa adanya tidak pernah takut jadi miskin dan ia tidak butuh teman jika ia mengalami kesulitan.”









One Comment