PASAL KEDUAPULUH ENAM :
UKURAN UNTUK MENGETAHUI KENAIKAN DAN PENURUNAN DERAJAT
Jika seorang ingin dirinya dihormati orang lain dari segi agamanya, apakah ia telah menyempurnakan sifat keagamaannya ataukah ia telah merugikannya, maka lihatlah keadaannya dan perbuatannya di dalam sebulan telah lewat atau dalam setahun telah lewat. Jika perbuatannya di tahun lalu lebih baik daripada yang sekarang, maka ia dalam keadaan merugi. Tetapi jika perbuatannya sekarang lebih baik dari yang lalu, maka ja dalam keadaan beruntung.
Telah diriwayatkan dalam sebuah hadits:
“Siapapun yang perbuatannya pada hari ini lebih baik daripada kemarin, maka ia merugi. Dan siapapun yang perbuatannya pada hari ini lebih buruk dari yang kemarin, maka ia terkutuk.”
Maksudnya, ia jauh dari rahmat Allah karena ia telah berbuat dosa. Adapun keterangannya secara terperinci adalah jika engkau telah berbuat baik pada hari-hari yang lalu, maka engkau harus mempertahankan perbuatan baikmu seperti pada hari- hari sebelumnya. Tetapi jika engkau berbuat yang tidak baik pada hari ini, maka ketahuilah bahwa dirimu nilainya telah menurun, termasuk juga perbuatanmu untuk akhiratmu, karena itu waspadailah masalah ini baikbaik. Jika engkau melihat perbuatanmu pada hari ini lebih baik dari perbuatanmu yang kemarin, maka engkau harus lebih banyak bersyukur, karena hanya Allah yang menjadikanmu sebagai orang yang lebih baik dari yang kemarin. Jika engkau tidak mensyukurinya, maka permasalahannya adalah seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:
“Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki- Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nuur: 21)
PASAL KEDUAPULUH TUJUH :
MENYAMAKAN ANTARA DUNIA DENGAN AKHIRAT ADALAH SUATU KEBODOHAN
Ketahuilah bahwa siapapun yang menyamakan antara akhiratnya dengan dunianya dalam perhatiannya, maka ia termasuk orang yang bodoh. Lalu bagaimana dengan nasib seorang yang lebih mengutamakan dunianya daripada akhiratnya? Lalu bagaimana dengan nasib seorang yang tidak memiliki perhatiannya terhadap akhiratnya? Semoga Allah melindungi kami dan orang-orang dekat kami dari berbagai cobaan yang dapat membinasakan kami dan kaum muslimin.
Adapun seorang yang menyamakan urusan akhiratnya dengan dunianya dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan dunianya, maka ia termasuk orang yang paling bodoh, karena ia menyamakan sesuatu yang lebih baik, yang kekal, yang lebih bersih dan lebih luas dengan sesuatu yang lebih buruk, cepat hancur, kotor dan tidak nyaman. Perumpamaan orang itu bagai seorang yang menyamakan batu yang mulia dengan kotoran, antara emas dengan tanah, bahkan yang lebih mengherankan, meskipun di akhirat tidak ada kebaikan yang lain kecuali hanya keabadian dan keselamatan dari segala keburukan, maka sebaiknya ia lebih memilih kesenangan di akhirat dan tidak memilih kesenangan di dunia, seperti yang dikatakan oleh kaum salah saleh: “Andaikata dunia terbuat dari emas yang fana sedangkan akhirat terbuat dari tanah liat yang kekal, pasti kita lebih memilih tanah liat yang kekal. Lalu bagaimana bila keadaannya berbalik?”
Maka sudah jelas bahwa seorang yang lebih mengutamakan kesenangan duniawi daripada kesenangan akhirat adalah orang yang ragu dan celaka. Sedangkan seorang yang menyamakan antara keduanya adalah orang yang bodoh. Dan orang yang lebih mengutamakan kepentingan akhirat daripada dunia, maka ia adalah seorang mukmin yang pandai.
Segala keutamaan hanya milik Allah, Dia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, termasuk juga petunjuk hanya di tangan Allah dan Dia akan memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan hanya Allah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.









One Comment