Dikatakan kepada Ibrahim bin Adham:
“Sesungguhnya harga daging makin naik.” Maka ia berkata: “Murahkan harganya dengan meninggalkan makan daging.”
Ia juga berkata:
“Perbaikilah sumber makananmu, maka engkau tidak perlu beribadah di malam hari dan tidak perlu berpuasa di siang hari.” Ada seorang berkata kepada Daud Ath-Tha’i: ” Nasihatilah aku.”
Maka Daud berkata:
“Berpuasalah dari harta dan jadikan bukamu di akhirat, berlarilah dari manusia seperti engkau berlari dari kejaran singa.”
Ma’ruf Al-Karkh berkata:
“Aku melewati Ibnu Sammak ketika ia sedang menasihati orang lain, maka aku mendengarkan ia berkata: “Siapapun yang bersungguh-sungguh berharap kepada Allah, maka Allah akan bersungguh-sungguh untuk memberi pengharapannya dan siapapun yang berpaling dari Allah, maka Allah pun akan berpaling darinya. Barangsiapa yang sesekali menghadap kepada Allah, maka Allah pun sesekali akan menghadap kepadanya.” Maka aku beritahukan kepada Ali bin Musa Ar-Ridha ra., katanya: “Cukuplah apa yang engkau dengar sebagai nasihat bagimu, maka aku meninggalkan segala kesibukanku tentang harta, kecuali pengabdianku kepada Ali bin Musa Ar-Ridha ra.”
Sirri As-Saqathi berkata:
“Siapapun yang mengenal Allah dengan baik, maka ia akan hidup senang. Siapapun yang mencintai dunia, maka ia akan hidup sengsara. Seorang berakal adalah seorang yang dapat mengendalikan dirinya, sedangkan seorang yang bodoh adalah Seorang yang setiap harinya melakukan suatu yang tidak berguna.”
Al-Junaid bin Muhammad ra. berkata:
“Kami tidak mempelajari thasawuf dari ucapan orang lain, tetapi kami mempelajarinya dari menahan lapar dan tidur, menolak dunia dan memutuskan segala yang menyenangkan.”
Para sahabatnya mendengar ketika ia sedang sekarat, maka ia mengkhatamkan Al- Qur’an dan ia mengawali bacaannya kembali dari awal dan dikatakan kepadanya: “Dalam keadaan inilah engkau merasa nikmat.” Jawabnya: “Siapakah yang lebih merasa nikmat daripadaku sedangkan buku catatanku telah ditutup?”
Bisyir Al-Hafi berkata:
“Siapa yang mengharap mendapat harta, maka ia tercela dan ja terhina di hari kiamat. Tetapi siapapun yang tidak peduli kepada mereka, maka ia akan diberi kemuliaan di akhirat.”
Ada seorang yang datang ke rumahnya dalam keadaan yang sangat dingin dan ia telah melepas pakaiannya, kemudian orang itu bertanya dan beliau menjawab: ” Aku mengingat kepedihan yang dialami orang-orang miskin ketika mereka kedinginan dan aku tidak mempunyai sesuatu untuk aku berikan kepadanya.”
Al-Harits Al-Muhasibi ra. berkata:
“Barangsiapa yang menghiasi batinnya dengan muragabah dan ikhlas, maka Allah akan menghiasi lahiriyahnya dengan mujahadah dan mengikuti sunnah.”
Yahya bin Mu’adz berkata:
“Aku sengaja meninggalkan harta, karena banyak membawa kesulitan, mempercepat lenyapnya, sedikit keperluannya dan menghinakan para pemiliknya.”
Sahal At-Tusturi ra. berkata:
“Tidak ada penolong kecuali Allah, tidak ada penunjuk jalan kecuali Rasulullah saw., tidak ada perbekalan kecuali takwa dan tidak ada amal kebaikan kecuali kesabaran.”
Abu Sa’id Al-Khurazi berkata:
“Barangsiapa yang mengira bahwa dengan usaha amal kebajikannya ia akan sampai, maka ia termasuk orang yang keliru dan siapapun yang mengira bahwa tanpa usaha amal kebajikannya ia akan sampai, maka ia termasuk orang yang berangan-angan.”
Abul Hasan Asy-Sya’roni berkata: “Aku pernah melihat Manshur bin Ammar ra. dalam mimpiku. Lalu aku berkata kepadanya: “Apa yang dilakukan Allah kepadamu?” Jawabnya: “Allah menyuruhku berdiri di hadapan-Nya, kemudian Dia berkata: “Apakah engkau bernama Manshur bin Ammar?” Maka aku menjawab: ” Benar wahai Tuhanku.” Tanya Tuhanku: “Apakah engkau zuhud dalam kehidupan dunia sedangkan engkau berharap mendapatkannya?” Jawabku: “Benar wahai Tuhanku, akan tetapi aku tidak menjadikan dunia sebagai tempat dudukku, kemudian aku memuji kepada-Mu dan bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. dan sepertiganya untuk aku jadikan sebagai nasihat untuk hamba-hamba-Mu.” Maka Allah berfirman: “Sungguh apa yang engkau ucapkan adalah benar. Letakkan ia pada kursi agar ia dapat memuji-Ku di hadapan para malaikat-Ku seperti ketika ia memujiKu di bumi-Ku di antara hamba-hamba-Ku.”
Disebutkan juga bahwa ada seorang budak milik seorang pedagang melewati majelis Manshur bin Ammar. Pada saat itu ia mendengar Manshur berkata: “Siapapun yang mau memberi empat dirham kepada orang miskin ini, maka Allah akan memberinya ganti dan mengabulkan hajatnya.” Kemudian ia menyerahkan uang itu kepada orang miskin itu, padahal ia sedang disuruh oleh majikannya untuk suatu keperluan. Setelah
ia memberikan uang empat dirham itu, maka Manshur bin Ammar mendoakannya dengan empat doa. Kemudian ia kembali kepada majikannya tanpa membawa uang sepeserpun. Maka ia ditanya tentang doa yang dipanjatkan oleh Manshur bin Ammar, kemudian ia berkata: “Ia mendoakanku: “Semoga Allah melepaskan diriku dari perbudakan.” Maka sang majikan membebaskannya. Kemudian sang majikan bertanya lagi: “Lalu apa doa yang kedua?” Ia menjawab: “Semoga Allah memberi ganti beberapa dirham bagiku.” Maka majikannya berkata: “Aku memberimu empat ribu dirham, kemudian apa doanya yang ketiga?” Ia berkata: “Semoga Allah menerima taubat bagi diriku dan dirimu.” Maka majikannya berkata: “Sekarang aku bertaubat kepada Allah. Lalu doa yang keempat?” Maka ia menjawab: “Semoga Allah memberi ampun bagiku, bagimu dan kepada si pemberi ceramah dan orang-orang yang hadir.” Kemudian sang majikan berkata: “Untuk doa yang keempat tidak ada hubungannya denganku.” Ketika malam hari sang majikan sedang tidur dan mimpi bertemu dengan Allah: “Apakah engkau mengira bahwa engkau telah melakukan kewajibanmu dan Aku tidak melakukan kewajibanku? Ketahuilah bahwa Aku telah mengampunimu, budakmu, pemberi ceramah dan orang-orang yang hadir.”









One Comment