PASAL KEENAMBELAS :
MEMBUKA KEBINGUNGAN SEBAGIAN PARA SALIK KARENA KEBANYAKAN ILMU
Adakalanya orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah melihat ilmu-ilmu yang diperintah untuk mempelajarinya cukup banyak, sehingga ia bingung, buku atau ilmu mana yang harus ia pelajari. Tetapi Jika ia menemukan seorang guru mursyid, maka ia akan diberi petunjuk untuk mempelajari atau mendalami berbagai ilmu yang bermanfaat bagi dinnya. Terutama lagi, ilmu-ilmu yang berhubungan dengan keteguhan iman seorang dan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan ilmu syariat, seperti ilmu bersuci, ilmu untuk shalat dan puasa. Semua ilmu yang kami sebutkan, hendaknya diketahui oleh seorang mukmin dengan baik. Jika sudah mengetahuinya, hendaknya ia mempelajari dan mengamalkannya dengan baik sesuai dengan keadaannya, yang cocok dengan hatinya dan yang lebih mendekatkan diri kepada Tuhannya. Dan hal itu tidak tersembunyi sedikitpun dari Allah tentang niatnya, harapannya, permintaannya dan usahanya untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pada saat itu orang-orang akan menempuh jalan Allah dengan caranya masing- masing. Ada sebagian cara yang cocok bagi dirinya dan adapula yang tidak cocok, kecuali bagi orang lain. Ada sebagian orang yang menempuh jalan dengan mengasingkan dirinya atau beruzlah dan menjaga kepribadiannya dengan baik, tetapi adapula yang tidak mau mengasingkan diri. Pokoknya seorang murid tidak akan menjadi baik, kecuali jika ia telah terlepas diri dari segala sesuatu yang dianggap menguntungkan dirinya. Demikian pula jika sebagian orang ada yang menempuh perjalanan jauh atau selalu tinggal di negerinya, semua iv mereka kerjakan demi untuk mencepai ridha Allah.
Jika seorang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah dan ia tidak mendapatkan jalan yang lebih cocok daripada mendekatkan dirinya kepada Allah, maka sebaiknya ia tidak mengingkari cara itu, karena mengingkarinya bertentangan dengan keadaannya masing-masing. Pokoknya, setiap orang yang ingin mendekatkan dirinya kepada Allah harus mengetahui ilmunya, kiranya jalan apa yang harus ditempuh untuk mendekatkan dirinya kepada Allah, karena Allah Yang Maha Terpuji menjadikan
segala ilmu ada ahlinya dan ada pengamalannya. Demikian pula setiap kedudukan adapula yang menempuh jalan itu.
Tidak semudah itu seorang akan menempuh jalan Allah, kecuali jika ja telah mencukupi ilmunya dan telah mendapatkan bimbingan dari orangorang saleh yang telah dibuka oleh Allah baginya segala rahasia yang gaib.
Demikian pula bagi seorang yang ingin menempuh jalan Allah, jika ja mempunyai ilmu dan mengamalkannya sedangkan ia mengetahui bahwa perjalanan yang ditempuhnya tidak cocok dengan kehendak hatinya, maka hendaknya ia menghentikan cara itu dan tidak melanjutkannya, karena jalan itu tidak cocok bagi dirinya.
Perlu diketahui bahwa ilmu pengetahuan, pengamalannya dan jalurjalur yang dapat mendekatkan diri kepada Allah cukup banyak jumlahnya. Karena itu, setiap orang wajib menempuhnya, apakah ia cocok untuk menempuh jalur itu ataukah tidak cocok. Jika ia merasa cocok, maka ia boleh meneruskannya. Tetapi jika ia tidak merasa cocok, maka ia harus segera menghentikannya, karena banyaknya jalur yang hendak ia tempuh bagai pasar-pasar yang menjual segala keperluan hidup, ada barang- barang yang ia perlukan dan adapula barang-barang yang tidak ia perlukan.
Jika engkau telah mengetahui maksud itu, maka hendaknya ia memilih salah satu jalur yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah.
Perlu diketahui bahwa jalur yang ditempuh oleh seorang untuk menuju kepada Allah ada empat macam:
1. Adapula seorang yang jika melihat banyaknya jumlah makanan dan kesenangan, maka ia akan memilih yang paling cocok bagi dirinya. Itulah cara seorang yang berakal sehat. karena ia dapat memilih segala sesuatu yang berguna bagi dirinya.
2. Adapula seorang yang mengambil segala apa saja yang berguna bagi dirinya dan tidak mengambil apa yang tidak berguna bagi dirinya, tetapi ia mengira bahwa tidak
ada orang lain yang mau menerimanya. Contoh orang macam ini adalah orang yang bodoh dan pendek pikirannya.
3. Adapula seorang yang ingin mendapatkan segala sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya ataupun yang tidak bermanfaat bagi dirinya. Ia berharap apa yang tidak baik bagi dirinya pada waktu itu, tetapi la mengambilnya agar berguna bagi dirinya pada waktu yang lain. Yang sedemikian itu adalah kebodohan, keingin tahuan yang tidak berguna bagi dirinya.
4. Adapula seorang yang jika melihat banyaknya makanan dan kesenangan, maka ia berhenti karena ia bingung apa yang seharusnya ja cari.
Keempat keadaan di atas termasuk pembagian yang sering dipilih oleh sebagian orang dari berbagai ilmu dan pengamalan serta jalurjalur yang selalu berubah-ubah. Ada seorang yang berharap memiliki segala sesuatu, adapula seorang yang bingung sehingga ia tidak mengetahui apa yang cocok bagi dirinya, adapula seorang yang berpegang teguh pada sesuatu yang dianggapnya sangat cocok bagi dirinya dan ia membenci segala sesuatu yang tidak cocok bagi dirinya.
Kesemua itu menunjukkan bahwa dirinya sangat picik dan tidak berlapang dada.
Wahai muridku, hendaknya kalian selalu memahami baik-baik apa yang kami terangkan di atas, karena apa yang kami terangkan di atas sangat berguna bagimu.
Disebutkan bahwa Abul Hasan Asy-Syadzili di awal perilakunya untuk menempuh jalan menuju Allah, maka ia selalu bingung apakah ia harus mengumpulkan banyak ilmu ataukah ia harus beribadah sepenuhnya sampai ia mendapat scorang guru yang dapat mengeluarkan dirinya dari kebingungannya. Cerita masalah ini cukup banyak dan terkenal.
Demikian pula masalah keraguan dan kebingungan pernah dirasakan oleh Syeikh Abdullah bin As’ad Al-Yaff’i. Ia berkata: “Ketika aku dalam keadaan bingung apakah aku harus mempelajari banyak ilmu ataukah harus memperbanyak ibadah dan
memfokuskan diriku kepada Allah, maka aku mendapat selembar kertas yang isinya berbeda dengan kertas-kertas yang lain dan di dalamnya tertulis:
“Tinggalkan segala sesuatu yang membingungkan perasaanmu dan serahkan semua takdir itu kepada Allah.”
Engkau akan mengetahui bahwa apa yang kami terangkan di atas banyak dialami oleh orang-orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah. Pada waktu itu disebutkan bahwa Sayyid Al-Arif Abdurrahman bin Syeikh Aidid Ba’alawi telah mendapat surat dari salah seorang tokoh sufi yang bernama Abdullah bin Muhammad Alawi yang senantiasa hidupnya berdampingan dengan kota Madinah. Beliau mengirim surat kepadanya agar ia membaca berbagai kitab sebelum ia menempuh perjalanannya menuju Allah, agar perjalanannya tidak tersesat di tengah jalan.
Kami sering berkumpul dengan Sayyid Abdullah tersebut dan kami sering berziarah ke makam Rasulullah saw. dan duduk berdialog dengan beliau, karena beliau termasuk salah seorang tokoh sufi yang tidak pernah menampakkan kesalehannya.









One Comment