Selain itu, Ali ra. juga berkata:
“Sesungguhnya sangat beruntung sekali orang-orang yang selalu zuhud ketika di dunia, mereka selalu mengharap kehidupan di akhirat, mereka menjadikan bumi sebagai tempat tidur dan tempat duduk, airnya mereka jadikan sesuatu yang baik, sedangkan doa dan membaca Al-Qur’an sebagai pakaian mereka, mereka menolak dunia seperti kehidupan Isa Al-Masih as.”
Zainal Abidin Ali bin Husam ra. berkata: “Sesungguhnya Allah telah menyembunyikan tiga perkara di dalam tiga perkara: Allah menyembunyikan ridha-Nya di dalam ketaatan seorang hamba, karena itu janganlah kalian meremehkan ketaatan kalian kepada Allah sedikitpun yang mungkin keridhaan-Nya berada di dalamnya. Allah menyembunyikan kemurkaan-Nya dalam perbuatan maksiat, maka jangan engkau meremehkan perbuatan maksiat sedikitpun, mungkin Allah akan murka kepada-Mu. Allah menyembunyikan wilayah-Nya di dalam makhluk-Nya, karena itu janganlah engkau meremehkan seorangpun dari makhluk-Nya, mungkin ia adalah seorang wali Allah sehingga Allah murka kepadamu. Senjata orang-orang buruk adalah perkataannya yang kotor.”
Putranya, Al-Imam Muhammad AI-Baglqir ra. berkata: “Dulu aku mempunyai dua kawan dan keduanya sangat aku agungkan. Aku mengagungkannya karena ia menganggap kecilnya nilai dunia.”
Putranya, Ja’far Ash-Shadig ra. berkata: “Kemuliaan telah pergi, sehingga sulit untuk mencarinya kembali. Jika masih ada sebagian kecil dari kemuliaan, maka kemuliaan itu boleh jadi tidak dapat dilihat oleh mata. Jika kemuliaan itu tersembunyi dalam sifat kemalasan, maka hampir saja kemuliaan itu tidak dapat terlihat oleh kasat mata. Tidak ada suatu apapun yang lebih indah dari menutupi diri. Jika kita berada seorang diri, maka tidak berkata-kata merupakan pakaian yang indah untuk dipakai. Jika ia bersembunyi di dalam diri kita, maka hal itu bagai ucapan kaum salaf saleh. Adapun seorang yang berbahagia adalah seorang yang senantiasa hidup menyendiri dari orang lain.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Kematian telah memperburuk kerusakan dunia, sehingga orang yang berakal sehat tidak pernah merasa gembira.”
Beliau juga berkata: “Janganlah engkau selalu berangan-angan mengharap ampunan Allah tanpa berbuat kebajikan sedikitpun, karena banyak orang yang berangan-angan untuk mendapatkannya sehingga ja meninggal dunia dalam keadaan merugi karena tidak pernah berbuat kebaikan apapun. Janganlah engkau selalu berangan-angan yang baik, karena berangan-angan yang baik merupakan suatu lembah yang selalu ditinggalkan oleh orang-orang yang bodoh.”
Ketika Umar bin Abdul Aziz ra. diberi pakaian seharga 1000 dirham, maka ia berkata: ” Alangkah indahnya pakaian ini andaikata tidak kasarnya.” Kemudian ketika ia diberi pakaian seharga 10 dirham, maka ia berkata: ” Alangkah indahnya pakaian ini andaikata tidak ada halusnya.”
Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang melarang orang-Orang muslim melaknat Ali bin Abi Thalib ra. pada mimbar-mimbar dan ia menyuruh mereka membaca firman Allah berikut sebagai ganti pelaknatan itu:
“Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.” (QS. Al-Hasyr: 10)
Atau membaca membaca firman Allah:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An- Nahl: 90)
Atau membaca kedua ayat tersebut.
Alangkah indahnya ucapan Syarif Ridha ketika ia memuji Umar bin Abdul Aziz: “Wahai putra Abdul Aziz, andaikata mata menangisi kematian seorang, pasti aku akan
menangisi kematianmu. Engkau telah membersihkan kami dari cacian kepada umat Islam. andaikata kami dapat memberimu imbalan, maka kami akan memberimu imbalan yang terbaik. Semoga limpahan rahmat selalu dicurahkan mayat Umar bin Abdul Aziz, karena ia adalan sebaik-baik orang mati dari keluarga Marwan.”
Abu Hazim Al-Madani ra. berkata:
l”Jika seorang masih mempunyai harta maka hidupnya senang, tetapi jika hartanya telah habis maka ia hanya beranganangan saja.”
Ia juga berkata:
“Tidaklah engkau mendapat dunia melainkan orang-orang yang berdosa telah mendahuluimu untuk mendapatkannya.”
Jika Malik bin Dinar ra. keluar dari rumahnya, maka ia mengikat tangannya dan berkata: “Andaikata tidak karena sejumlah anjing, maka aku buka tanganku,” karena ia tidak punya harta sedikitpun.
Ia didatangi seorang wanita yang mengambil Al-Qur’an dan selimutnya, kemudian ia mengikuti wanita itu dan berkata: “Wahai wanita, apakah engkau mempunyai seorang anak untuk membaca? Apakah engkau mempunyai seorang suami untuk membaca?” Jawab wanita itu: “Tidak ada.” Jawab Malik ra.: “Kalau begitu, kembalikan Al-Qur’an dan ambillah selimutku.”
Fudhail bin Iyadh berkata:
“Meninggalkan perbuatan baik karena manusia adalah riya’, mengamalkan perbuatan baik karena manusia adalah syirik. Adapun yang ikhlas adalah jika engkau terpelihara oleh Allah dari keduanya.”
Fudhail juga berkata:
“Andaikata dunia itu emas dan ia segera pergi, sedangkan akhirat itu sebuah kulit yang kekal abadi, maka bagi orang yang berakal sehat lebih memilih kulit yang kekal abadi, maka bagaimanakah akhirat yang lenyap sedangkan dunia akan kekal dan menyesalkan?”
Ibrahim bin Adham berkata:
“Aku pernah melewati sebuah batu dan di dalamnya tertulis: ‘Baliklah aku agar engkau mendapat pelajaran,” setelah aku membaliknya, maka aku dapatkan tulisan: “Engkau mengetahui apa yang tidak pernah engkau ketahui, mengapa engkau mencari ilmu yang tidak engkau lakukan.”









One Comment