Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Fushul Al Ilmiyah Lengkap

PASAL KEDUAPULUH LIMA :

TIDAK SEPANTASNYA MENGAGUNGKAN ORANG YANG BODOH MESKIPUN DARI KETURUNAN YANG TERHORMAT

Seorang tidak boleh memuliakan orang bodoh meskipun ia berasal dari keturunan yang mulia dan salaf saleh, karena jika seorang memujinya secara lahiriyah, maka akan dapat menimbulkan fitnah dalam agamanya, membuatnya tertipu akan karunia Allah, menghalanginya untuk berbuat baik dan selalu lalai untuk akhiratnya. Sedangkan orang yang memujinya menyebabkan orang itu terlena dan tertipu, karena itu ia patut mendapat murka dari Allah dan Rasul-Nya dan dari kaum salaf saleh yang selalu bersikap tegas terhadap orang-orang yang bodoh.

Bagaimana mungkin seorang dapat membanggakan dirinya karena ja mempunyai nasab yang baik tanpa disertai ketakwaan? Padahal Rasulullah saw. pernah berkata kepada Siti Fatimah ra.: “Wahai Fatimah, takutlah engkau kepada Allah, karena aku tidak dapat membelamu dari hukuman Allah sedikitpun.”

Demikian juga sebuah hadits yang menyatakan: “Wahai Bani Abdul Muthalib, wahai fulan, wahai fulan yang menjadi kerabat Rasulullah saw.,” mereka dianjurkan untuk menjaga diri mereka sendiri dari murka Allah. Bahkan beliau saw. berkata kepada seorang yang memuji orang lain:

“Sungguh engkau celaka, karena jika engkau memujinya maka ia tidak dapat menyelamatkan dirinya dari sikap sombong.”

Dalam salah satu sabda Nabi saw. yang lain disebutkan:

“Jika seorang menemui saudaranya dengan membawa pisau yang terhunus, maka hal itu lebih baik daripada jika ia memujinya di hadapannya.”

Pujian seorang terhadap orang yang bodoh akan mencelakakan diri orang yang dipuji, karena ia tidak mengerti sedikitpun tentang agamanya dan keyakinannya.

Adapun seorang ulama yang mengetahui keyakinan dirinya terhadap Tuhannya, maka pujian apapun bagi dirinya tidak akan membawa keburukan bagi dirinya, seperti

ketika Rasulullah saw. memuji sebagian sahabat beliau saw., bahkan pujian beliau saw. terhadap mereka tidak menambah mereka kecuali mereka ingin menambah kebaikan, ibadah dan ketaannya kepada Allah.

Disebutkan dalam sebuah hadits:

“Jika seorang mukmin dipuji oleh saudaranya, maka keimanannya akan bertambah teguh dalam dirinya.”

Tetapi orang-orang yang mengerti dan kuat agamanya tidak ingin dipuji orang lain di masa kini, sebaliknya orang-orang yang bodoh jumlahnya bertambah banyak. Karena itu, hendaknya seorang mukmin yang bertakwa kepada Tuhannya dan sayang terhadap agamanya mewaspadai segala sesuatu yang membahayakan dirinya atau kaum muslimin lainnya.

Terkadang jika ada salah seorang dari ahlul bait yang melakukan perbuatan dosa, lalu orang lain memujinya dan menganggap perbuatan dosanya kecil karena mereka akan dibela oleh Rasulullah saw.

Ia tidak tahu bahwa pujian itu akan membawa kebinasaan bagi dirinya, karena Allah akan memlipatgandakan pahala bagi ahlul bait yang melakukan kebaikan dan akan melipatgandakan dosa bagi mereka yang melakukan dosa, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

“Hai isteri-isteri Nabi, siapa-siapa di antaramu yang mengerjakan perbuatan keji yang nyata, niscaya akan di lipat gandakan siksaan kepada mereka dua kali lipat.” (QS. Al- Ahzab: 30)

Firman Allah di atas menunjukkan bahwa istri-istri beliau termasuk ahlul bait beliau saw. Siapapun yang beranggapan bahwa tidak mentaati Allah dan melakukan perbuatan maksiat tidak akan membahayakan bagi diri seorang yang mulia nasabnya atau mulia orang tuanya, maka orang itu telah tertipu terhadap Allah. Itulah yang disepakati oleh seluruh umat Islam. Tetapi bagi ahlul bait Rasulullah saw. mempunyai kemuliaan dan beliau saw. memberi perhatian lebih terhadap mereka. Beliau saw.

mewasiatkan kepada umatnya untuk memperhatikan dan mencintai mereka, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:

“Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” (QS. Asy-Syu’araa’: 23)

Firman Allah di atas menyuruh umat Islam menghormati keluarga Nabi saw., asalkan tidak berlebihan dari porsinya. Kemudian di antara mereka masih terdapat orang- orang mulia, karena mereka berhubungan nasab dengan Rasulullah saw. Mereka selalu berbuat kebajikan yang diridhai Allah dan mengikuti jejak dari sesepuh mereka, seperti Ali bin Abi Thalib ra., Al-Hasan dan Al-Husain ra. keduanya adalah cucu Rasulullah saw., Ja’far bin Abi Thalib, termasuk juga Hamzah dan Abdullah Ibnu Abbas, ayahnya Imam Al-Abbas paman Rasulullah saw., Imam Zainal Abidin, Imam Muhammad Al-Bagrr, Imam Ja’far Ash-Shadig. Mereka itulah yang semua perbuatannya boleh diikuti.

Jika di antara keluarga Nabi saw. ada yang tidak mengikuti perbuatan baik para salah saleh dari kalangan mereka karena mereka bodoh, maka mereka tetap harus dihormati karena mereka masih berhubungan darah dengan Rasulullah saw. Hendaknya mereka selalu diberi nasihat yang baik agar mereka mau mengikut jejak kaum salaf saleh mereka, mulai dari menuntut ilmu, beramal saleh, berperilaku yang baik dan bertindak yang baik. Karena itu, mereka wajib diberitahu lebih dulu daripada orang lain. Jika hanya mengandalkan nasab saja, maka tidak akan dapat mengangkat derajat seseorang apabila ia mengabaikan ketakwaan, lebih sibuk dengan urusan duniawi, tidak menjalankan perintah agama dan mengotori dirinya dengan dosa, seperti yang diucapkan oleh seorang penyair berikut:

“Demi Allah, kemuliaan seorang hanya tergantung kepada kebaikan agamanya, janganlah ia meninggalkan ketakwaan karena mempunyai nasab yang mulia. Islam telah mengangkat Salman Al-Farisi dengan keteguhan imannya, sebaliknya Islam menghina Abu Lahab meskipun sangat dekat kekerabatannya dengan beliau saw.”

Al-Mutanabbi berkata:

” Jika kedudukan seorang mulia tidak seperti kemuliaan para sesepuhnya, maka apa faedahnya kedudukan yang tinggi itu?”

Seorang penyair yang lain berkata:

“Apa gunanya keturunan Bani Hasyim jika dirinya tidak semulia para leluhurnya?” Membicarakan tentang keturunan orang-orang saleh tidak berbeda dengan seorang

yang membicarakan kemuliaan  keluarga  Nabi  saw. Siapapun  dari  mereka  yang mengikuti jejak para sesepuhnya, maka ia akan mendapat kemuliaan, keagungan dan berkah. Tetapi jika seorang bodoh melakukan perbuatan yang melanggar kemuliaan para sesepuhnya, maka ia perlu dibimbing dan diarahkan kejalan yang baik, tetapi juga harus tetap dihormati karena sesepuh mereka yang mulia. Bagaimana tidak, bukankah Allah telah berfirman tentang dua pemuda dan tembok itu:

“Dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh.” (QS. AlKahfi: 82)

Kami diberitahu bahwa sesepuh keduanya yang ketujuh dari arah ibunya, tetapi dunia dan harta mereka masih dipelihara oleh Allah, apalagi tentang masalah akhiratnya.

Ketahuilah dan pahamilah masalah ini baik-baik dan letakkan pada tempatnya yang tepat, kemudian mintalah pertolongan Allah agar diberi kebahagiaan dan petunjuk.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker