PASAL KESEMBILANBELAS :
KENIKMATAN DUNIA ADALAH KESENGSARAAN, SEMAKIN BANYAK TUNTUTANNYA SEMAKIN BANYAK PULA KESENGSARAAN
Ketahuilah bahwa kebanyakan manusia yang kehidupannya tenang dan kenikmatannya langgeng adalah orang-orang yang senantiasa berusaha dengan keras, bersabar dan kesusahannya datang silih berganti pada dirinya, sehingga mereka bagai para penguasa dan orang-orang kaya. Tetapi orang yang paling tenang kehidupannya dan tidak rakus terhadap keduniawiannya adalah orang yang tidak diberi kesusahan apapun, mereka bagai orang-orang fakir dan miskin.
Adapun penyebab utamanya adalah karena kesenangan dunia yang selalu berlomba dengan hawa nafsu yang menyebabkan ketidak tenangan hati seorang, karena orang- orang yang berlomba untuk mendapatkan kelayakan hidup dan orang-orang yang menghasudnya tidak terbilang jumlahnya. Karena itu, setiap orang yang ingin mendapatkan berbagai kesenangan hidup, maka ia harus menghadapi berbagai kesulitan hidup dan kesenangan hawa nafsunya, sehingga para penguasa dan orang- orang kaya engkau dapati hidupnya tidak pernah tenang meskipun nampaknya mereka dapat bersenang-senang dalam lahinyahnya.
Berbeda dengan kaum fakir miskin, mereka tidak banyak memikirkan kesenangan duniawi dan tidak berharap banyak untuk mendapatkan kesenangan duniawi. Karena itu, dirinya senantiasa mendapat ketenangan hidup.
Peru diketahui bahwa seorang yang mencari sumber hidupnya cukup untuk kebutuhan sehari, maka kesulitan dan pemikirannya lebih tenang daripada seorang yang mencari sumber hidupnya untuk kebutuhannya selama satu minggu. Demikian pula seorang yang mencari sumber hidupnya untuk kebutuhannya selama satu bulan, maka kesulitannya lebih ringan dari seorang yang mencari sumber hidupnya untuk selamanya. Pokoknya, makin banyak tuntutan hidupnya, maka makin sulit pula untuk merasakan ketenangan.
Seorang yang selalu mementingkan mencari kesenangan hidupnya dan memenuhi kehendak hawa nafsunya, maka ketika di dunia ia mendapat tekanan dan kesulitan,
demikian pula di hari kiamat kelak ia akan menghadapi perhitungan, siksaan, kesulitan dan kerisauan.
Pernah ditanyakan kepada orang-orang bijak: “Untuk siapakah kesenangan di akhirat?”
Jawab mereka: “Kesenangan di akhirat diberikan bagi yang mencarinya.” Ditanyakan pula: “Untuk siapakah kesenangan dunia?”
Jawab mereka: “Kesenangan dunia hanya diberikan kepada orang yang tidak butuh kepada kesenangan dunia.”
Ibrahim bin Adham pernah berkata kepada orang-orang miskin yang sedang kesusahan dan ia tidak mementingkan kesenangan dunia sedikitpun: “Sesungguhnya andaikata para penguasa mengetahui kesenangan yang diberikan kepada kami, pasti mereka akan berlombalomba untuk mendapatkannya walaupun dengan berperang.”
Adapun penyebab utama mengapa Ibrahim bin Adham meninggalkan istananya adalah karena ia telah melihat pada siang hari seorang fakir yang telah bersandar di bawah pepohonan, ia mengeluarkan sepotong roti, kemudian roti itu dimakan dan ia minum seteguk air di bawah naungan istananya, maka Ibrahim merasa heran dengan ketenangan orang fakir itu, sehingga ia bertanya kepada si fakir itu: “Apakah engkau merasa puas dengan makan sepotong roti ini?” jawab si fakir: “Ya, aku telah merasa puas.” Maka Ibrahim berkata dalam hatinya: “Jika seorang telah merasa puas dengan dunia yang dimilikinya, maka apa gunanya aku mempunyai kekayaan yang besay tetapi aku tidak dapat merasakan kebahagiaan sedikitpun.” Maka pada malam harinya ia keluar dari istananya, kemudian ia mengembara mencari Tuhannya agar ia mendapat kehidupan yang tenang.
Dari kisah-kisah di atas dapat disimpulkan bahwa ketenangan dunia dan hawa nafsunya akan menjadi penyebab utama kesusahan bagi setiap orang. Tetapi semakin seorang tidak mempunyai harta, maka kehidupannya lebih bahagia dari
seorang yang memiliki harta yang banyak, karena pemikirannya selalu khawatir akan berkurangnya hartanya, sehingga ia tidak dapat menikmati kebahagiaan hidup.
Nasihat yang aku berikan ini adalah nasihat yang perlu engkau perhatikan dengan benar.









One Comment