Kitab Tasauf

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 4

Pada waktu marah, janganlah kamu lupa memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu ditimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah ….” (QS. Al-A’raaf:200).

Hendaklah kamu membaca do’a sesuai dengan hadits: “Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Ya, Allah, Tuhan dari Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkan kejengkelan hatiku dan lindungilah aku dari fitnah-fitnah yang menyesatkan.”

Jika kamu masih marah, maka berwudhu’lah, sesuai dengan sabda Nabi saw.: “Apabila seseorang di antara kamu marah, hendaklah dia berwudhu’ dengan air, karena marah itu dari api.”

  1. Di antara cara-cara menenangkan marah, hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, renungkanlah ayat-ayat Al-Our’an dan haditshadits Nabi, yang menerangkan keutamaan menahan diri dan memberi maaf. Beliau bersabda:

“Seorang malaikat berseru di hari Kiamat: ‘Barangsiapa mempunyai pahala yang menjadi tanggungan Allah Azza wa Jalla, hendaklah ia berdiri.’ Maka berdirilah orang-orang yang suka memaafkan orang lain.”

Kemudian beliau membaca ayat: “… maka, barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah …” (QS. Asy-Syura:40).

Kedua, hendaklah kamu mengingat Allah dan membayangkan bahwa kekuasaan Allah atas dirimu lebih besar daripada kekuasaanmu untuk membalas orang yang berbuat jahat kepadamu.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa ….” (QS. Al-Kahfi:24).

Sahabat Ikrimah berkata, yakni, “Jika kamu marah.” Diriwayatkan bahwa Nabi mengutus seorang pelayan dalam suatu keperluan. Ternyata pelayan itu lambat. Ketika dia datang, Nabi saw. bersabda: “Kalau bukan karena takut Oishash, tentu aku telah menyakitimu.” (Qishash yaitu pembalasan hukuman di akhirat).

Ketiga, janganlah kamu mendengarkan perkataan setan, bahwa tidak membalas dendam itu merupakan kerendahan dan kehinaan. Ini adalah kedustaan dari setan terkutuk.

Yang benar adalah hal itu merupakan kemuliaan dan kehormatan. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Sifat rendah hati tidaklah menambahi seorang hamba, kecuali kemuliaan.

Maka, bersikap rendah hatilah kamu. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajatmu. Maaf itu tidaklah menambah seorang hamba, kecuali kemuliaan. Maka, berilah maaf. Semoga Allah memuliakan kamu.”

Keempat, hendaklah kamu memperingatkan diri akan keburukan akibat pembalasan dendam, karena ia menambah permusuhan dan memperbanyak musuh, serta mendatangkan rasa gembira mereka terhadap musibah-musibah (bencana) yang menimpa dirimu, sehingga hidupmu menjadi keruh. Kemarahan itu tidak dapat memusatkan pikiranmu untuk menuntut ilmu dan beribadah, tidak pula untuk pekerjaanpekerjaanmu yang khusus.

Kelima, hendaklah kamu berpikir tentang keburukan rupamu pada waktu marah. Wajah yang cemberut, kedua mata yang memerah, pipi yang membengkak dan anggotaanggota tubuh yang bergetar. Terkadang menginjak bumi dengan kedua kaki dan memukul dadanya serta bersikap Seperti anjing atau hewan buas yang menyerang. Mungkin juga seperti orang gila yang mengamuk. Karena kemarahan telah menghilangkan kesadaran akalnya. Terkadang memaki pintu bila sulit baginya untuk membuka. Mematahkan pena yang digunakan untuk menulis. Melaknat kendaraan yang dinaiki dan memaki angin jika tertiup ke arahnya. Sebagai. mana diriwayatkan, seorang laki-laki diterpa angin hingga serbannya terlepas, kemudian dia melaknatnya. Maka Nabi saw. bersabda: .

“Janganlah kamu melaknat angin, karena ia diperintahkan dan tunduk. Sesungguhnya orang yang melaknat sesuatu yang tidak patut dilaknat, maka kembalilah laknat itu menimpa dirinya.”

  1. Kebalikan dari itu adalah sifat menahan diri. Sifat tersebut bisa menjadikan kamu musuh sebagai teman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “…. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fush Shilat:34).

Orang yang pandai menahan diri akan mendapat pertolongan dari orang lain. Sebagaimana kata Imam Ali karramallahu wajha: “Imbalan pertama bagi orang yang pandai menahan diri, adalah orang-orang akan membelanya terhadap orang yang bodoh.”

Maka patutlah orang berakal tidak melakukan permusuhan antara dia dan seseorang menurut kemampuannya. Disebutkan dalam hadits: “Memperlihatkan cinta (kasih sayang) kepada orang lain adalah setengah dari akal.”

Apabila dia tidak pandai menahan diri dan suka membalas dendam, maka boleh jadi kemarahan akan menyebabkan dia membunuh musuhnya. Apabila dia tidak mampu, barangkali dia akan membunuh dirinya, karena sangat marah dan kesal. Semua itu termasuk dosa besar.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahannam. Dia kekal didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuk serta menyediakan baginya azab yang besar.” (QS. An-Nisa’:93).

Dalam hadits disebutkan: “Membunuh orang mukmin itu lebih besar akibatnya di sisi Allah daripada kelenyapa” dunia.” :

Sifat menahan diri dan pemaal, termasuk akhlak para Nabi dan Rasul, ulama dan orang-orang shalih. Marah dan balas dendam termasuk akhlak setan yany sombong dan orang-orang yang bodoh serta rendah budinya. Orang yang sangat kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika bangkit kemarahannya.

Sebagaimana dijelaskan dalam hadits: “Bukanlah orang yang kuat itu karena pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.”

  1. Adapun marah karena Allah, bukan karena menuruti hawa nafsu, adalah sifat terpuji dan diperintahkan melakukannya serta dinamakan keberanian yang bersifat pendidikan. Hal itu disebabkan melihat kemungkaran yang dikerjakan dan kezaliman dilakukan serta kebenaran diingkari. Sifat menahan diri pada waktu itu sangat buruk dan dilarang.

Aliah Ta’ala berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru pada kebajikan, menyuruh pada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar: merekalah orang-orang yang beruntung …” (QS. Ali-Imran:104).

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israel dengan lisan Dawud dan Isa, putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah:78-79).

Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan li’sannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Itulah Selemah-lemah iman.”

Macam kemarahan yang paling utama, ialah kemarahan ‘ terhadap raja yang zalim, atau penguasa yang berkhianat dan menjual negerinya atau merusak urusan-urusan agama dan negara. Dalam hadits diceritakan, Rasulullah saw. ditanya: “Jihad apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Perkataan yang hak di hadapan raja yang zalim.”

  1. Maka, jadilah kamu termasuk kaum yang dicinta. Allah dan mereka mencintai-Nya.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersifat keras terhadap orang yang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui …” (qS. Al-Maidah:54).

Janganlah kemarahan dan kecemburanmu menjadi lemah ketika menyaksikan kemungkaran, sehingga kamu menjadi penjilat (mencari muka) dan penakut yang tidak berdaya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker