23. GHIBAH (MEMBICARAKAN AIB)
- Ghibah, termasuk cacat lisan terbesar dan dosa besar. la mempunyai berbagai bahaya besar, karena ia membangkitkan api fitnah dan memutuskan ikatan-ikatan kerukunan dan cinta kasih di antara orang-orang.
Arti ghibah disebutkan dalam sebuah hadits: “Tahukah kalian, apakah ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah saw. bersabda: “Apabila kamu menyebut saudaramu dengan sifat yang tidak disukainya.” Ada yang mengatakan: “Apakah pendapatmu jika pada saudaraku terdapat apa yang aku katakan?”
Rasulullah saw. menjawab: “Jika terdapat padanya apa yang kamu katakan, maka kamu telah menggunjingnya. Jika tidak terdapat padanya apa yang kamu katakan, maka kamu telah memfitnahnya (berdusta dengannya).”
Ghibah itu dilakukan dengan menyebut aib-aib dalam agama orang yang digunjingkan, badan, nasab (silsilah keturunan) atau akhlaknya, dan dalam setiap sifat yang dinisbatkan (dihubungkan) kepadanya hingga mengenai baju dan rumahnya. Hal itu dilakukan dengan perkataan, tulisan, isyarat atau tiruan, misalnya, berjalan di belakang orang pincang dengan pura-pura pincang.
- Telah disebutkan mengenai tercelanya ghibah dan peringatan serta ancaman terhadapnya dalam ayat-ayat dan beberapa hadits. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman: “Celakalah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al Humazah:1). Yakni, orang yang banyak menggunjingkan orang.
Allah menyerupakan pelakunya dengan pemakan daging bangkai. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: “…. dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya…” (QS. Al-Hujurat:12).
Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu menggunjing orang, karena penggunjingan (ghibah) itu lebih berat daripada zina. Adakalanya orang yang zina kemudian bertobat, lalu Allah menerima tobatnya. Tetapi pelaku ghibah tidak diampuni dosanya hingga orang yang digunjingkan memaafkannya.”
- Sabdanya pula: “Ketika aku mi’raj, aku melewati suatu kaum yang mempunyai kuku-kuku tembaga dan mencakar muka dan dada mereka. Kemudian aku berkata: ‘Siapakah mereka itu, wahai Jibril?’ Jibril menjawab: ‘Orang-orang yang makan daging orang lain dan mencaci maki kehormatan mereka’.”
Dari Aisyah ra., dia berkata: Aku berkata pada Rasulullah saw. “Cukuplah engkau, bahwa shafiyah (salah seorang istri Nabi) mempunyai sifat begini dan begini.” .
Seorang perawi berkata: Maksudnya pendek. Maka Rasul saw. bersabda: “Kamu telah mengucapkan perkataan yang seandainya dicampur dengan air laut, niscaya ia menodainya.” Yakni membusukkan dan mengubah baunya.
Dari Jabir bin Abdillah ra., dia berkata: “Kami sedang bersama Rasulullah saw. ketika tertiup angin busuk.” Maka Rasulullah saw. bertanya: “Tahukah kalian, apakah angin ini? Ini adalah angin orang-orang yang menggunjingkan orang-orang mukmin.”
Dalam hadits pula: “Barang siapa makan daging saudaranya di dunia, maka daging itu dihidangkan kepadanya pada hari Kiamat. Kemudian dikatakan kepadanya: Makanlah ia dalam keadaan mati, sebagaimana kamu memakannya dalam keadaan hidup. Maka ia pun memakannya dan cemberut serta berteriak.”
- Banyak sebab yang menimbulkan ghibah, di antaranya. A. Apabila marah kepada seseorang dan ingin melampiaskan kejengkelan terhadapnya, sehingga dia menggunjingkannya. Apabila dia tidak mampu melakukan itu, tertahanlah kemarahannya di dalam hatinya dan menjadi dendam. Sebab dendam itu dia selalu menggunjingkan orang lain.
- Apabila dia menghadiri suatu majlis, lalu penghuninya menggunjingkan seseorang sehingga dia ikut serta dengan mereka dalam bermaksiat, karena berbasa-basi dengan mereka dan takut mereka kecewa padanya serta memusuhinya, seandainya dia menegur atau meninggalkan majlis mereka.
- Kesombongan. Orang yang sombong biasanya merendahkan dan mengejek orang lain serta menghina mereka, baik secara tegas atau sindiran. Misalnya, dia berkata: Si Fulan bodoh dan bebal. Untuk menyatakan, bahwa dirinya seorang yang pandai dan cerdas.
- Dengki, karena dia tidak suka orang-orang memuji orang lain. Maka dia pun mencelanya di dekat mereka agar mereka tidak mencintai dan menghormatinya.
- Menghabiskan waktu untuk tertawa dan omong kosong, sehingga dia bergurau dengan mencela kehormatan orang lain.
- Ghibah itu mudah diucapkan, karena sering dilakukan dan menjadi kebiasaan. Oleh karena itu, lihatlah, banyak orang tidak menjauhi maksiat yang besar ini. Maka, tidaklah kamu mendapati kebanyakan majlis, kecuali penuh dengan ghibah, terutama pada kaum wanita, karena ghibah itu menyenangkan dan hiburan bagi mereka. Maka, waspadalah terhadap kebiasaan yang tersebar ini, agar kamu selamat di dunia dan akhirat serta hidup senang.
Hendaklah kamu menyendiri bila tidak menemukan teman yang shalih, agar kamu selamat dari ghibah.
Dalam hadits dijelaskan: “Menyendiri itu lebih baik daripada teman yang buruk, sedang teman yang shalih lebih baik daripada menyendiri.”
Hiburlah dirimu dengan menaati Tuhanmu dan membaca kitab-kitabmu, karena di sana terdapat keselamatan dan afiat serta keberuntungan yang besar.
Al-Mutanabbi rahimahullah berkata:
Tempat termulia di dunia adalah punggung orang yang berenang dan sebaik-baik teman duduk di setiap waktu adalah kitab.
- Hendaklah kamu menjaga lisan, karena sebagaimana dikatakan orang bijak: “Kecil bentuknya, tetapi besar dosanya.”
Penyair berkata:
Hai manusia, jagalah lidahmu,
Jangan sampai ia menyengatmu, karena ia adalah ular.
Banyak orang di dalam kubur terbunuh karena lisannya.
Padahal banyak pemberani takut menghadapinya.
Apabila kamu mendengar penggunjingan terhadap seorang muslim, maka belalah dia dan cegahlah penggunjing itu dari meneruskan ghibahnya, dan putuskanlah omongannya serta bicaralah tentang masalah lain.









One Comment