Kitab Tasauf

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 4

  1. Alangkah indahnya perkataan yang benar! Dan alangkah bahagianya manusia yang berkata benar. Dia hidup bahagia dan terhormat serta dipercaya di antara masyarakat. Apabila berbicara, orang-orang membenarkan perkataannya karena mereka tidak menuduhnya berdusta. Alangkah buruknya kedustaan itu, karena ia adalah pokok setiap dosa dan penyebab setiap kejahatan serta sumber setiap kesengsaraan dan kehinaan. Pendusta itu lebih keji dari pada pencuri, karena pencuri adalah mencuri hartamu, sedangkan pendusta adalah mencuri akalmu.

Penyair berkata:

Aku mampu menghadapi orang yang mengadu domba, sedang terhadap pendusta aku tidak berdaya.

Siapa berbohong dalam apa yang dikatakan, maka sedikitlah dayaku terhadapnya.

Alangkah sengsaranya manusia yang berdusta dalam perkataannya. Dia telah kehilangan kepercayaan manusia terhadapnya dan tidak berharga sedikit pun di sisi mereka.

Mereka enggan berteman dengannya dan tidak mempercayai mengenai segala sesuatu, walaupun dia benar.

Sebagaimana kata penyair:

Engkau berdusta dan orang yang berdusta, maka sama balasannya bila ia berkata benar, tidaklah ia dipercaya.

Penyair lain berkata:

Apabila manusia dikenal suka berdusta, ja pun tetap dianggap pendusta oleh masyarakat, walaupun berkata benar.

Jika dia berkata, teman-teman duduknya tidak memperhatikan dan tidak mendengar omongannya, walaupun dia bicara.

Apabila kamu melakukan kesalahan, maka akuilah kesalahanmu, walaupun ayah atau gurumu marah kepadamu. Janganlah kamu mengemukakan alasan atas kesalahan itu secara dusta.

Semoga Allah membalas kebaikan penyair yang berkata:

Hendaklah kamu berkata benar, walaupun kebenaran itu membakarmu dengan api ancaman.

Carilah ridha Tuhan, karena manusia yang paling dungu jalah yang membuat murka Tuhan dan mencari kerelaan para hamba-Nya.

  1. Dusta adalah penyakit yang jahat. Apabila manusia terbiasa melakukannya, sulitlah baginya untuk melepaskannya. Sebagaimana kata Yahya bin Khalid: “Kami melihat peminum khamar berhenti, dan pencuri mengakhiri per, buatannya, serta pelaku perbuatan-perbuatan keji bertobat tetapi kami tidak melihat pendusta berubah menjadi orang yang benar”.

Penyair berkata:

Biasakan lisanmu berkata benar, maka kamu pun menjadi benar.

Sesungguhnya lisan itu terbiasa dengan apa yang kamu biasakan.

la bertugas menurut apa yang kamu buat dalam kebaikan dan keburukan, maka lihatlah, bagaimana kamu membiasakannya.

Oleh sebab itu, waspadalah agar jangan mudah berdusta dalam pembicaraan atau senda guraumu.

Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah penjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta, walaupun dia bergurau.”

Dan janganlah kamu berdusta, walaupun terhadap anak kecil. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa berkata kepada anak kecil: ‘Kemarilah, ambil ini’, kemudian dia tidak memberinya, maka itu adalah dusta.” Ini adalah ajaran dari Rasul saw. bagi setiap orang yang mengurusi pendidikan anak-anak, hingga mereka menjadi besar di atas kebenaran sejak mereka kecil dan tidak menganggap dusta sebagai dosa kecil.

Allah Ta’ala berfirman: “…. dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal ia di sisi Allah adalah besar.” (QS. An-Nur:15)

  1. Termasuk dusta pula ialah kecurangan dan ingkar janji, kesaksian palsu, dusta mengenai nasab (keturunan). dusta mengenai mimpi, dusta dalam sumpah dan buruk Sangka.

Nabi saw. bersabda: “Maukah aku beritahukan tentang dosa terbesar?” (diulang tiga kali). Kami menjawab: “Tentu.” Beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah, durhaka kepada ibu-bapak dan membunuh jiwa.” Tadinya beliau bersandar, lalu duduk dan bersabda: “Ketahuilah, dan perkataan dusta: ketahuilah, dan kesaksian palsu.” Beliau terus mengulanginya hingga kami katakan: “Semoga beliau diam.” Beliau bersabda lagi:

“Sesungguhnya termasuk dusta terbesar adalah apabila seseorang mengaku anak dari selain bapaknya, mengatakan melihat sesuatu yang tidak dilihatnya atau mengatakan sebagai perkataanku, padahal aku tidak mengatakannya.”

Dusta terhadap Rasul saw. adalah macam dusta paling besar. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits: “Sesungguhnya dusta terhadap diriku, tidaklah seperti dusta terhadap seseorang. Maka, barangsiapa berdusta terhadapku dengan sengaja, biarlah dia menduduki tempatnya di dalam neraka.”

Mengenai larangan berburuk sangka dan bersumpah dusta dikatakan dalam hadits: “Janganlah kamu berburuk sangka, karena sangkaan itu adalah pembicaraan paling dusta. Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah telah mewajibkan neraka baginya dan mengharamkan surga atasnya.”

Kemudian seorang laki-laki berkata kepadanya: “Walaupun sesuatu yang sedikit, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Meskipun sebatang kayu arok.”

  1. Kebenaran itu menyebabkan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia, maka lihatiah (perhatikanlah) para dokter, pedagang dan tukang, apabila mereka bertindak benar dalam pekerjaannya, bagaimana orang-orang mencintai dan mempercayai mereka!

Mereka pun mendapat keuntungan besar. Kebalikan dari itu adalah dusta. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Dusta itu mengurangi rezeki.”

Kebenaran juga menyebabkan pahala yang banyak dan kenikmatan yang kekal di akhirat. Sebagaimana tersebut dalam Al-Our’an: “Allah berfirman: Ini adalah suatu hari ‘ yang bermanfaat bagi orang-orang yang benar kebenaran mereka. Bagi mereka surga yang di bawahnya mengali, sungai-sungai, mereka kekal didalamnya, selama, lamanya: Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha terhadap-Nya. Itulah keberuntungan yang paling besar’.” (QS. Al-Maidah:119).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker