Kitab Tasauf

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 4

17. SIFAT RENDAH HATI DAN KESOMBONGAN

  1. Sesungguhnya sifat rendah hati adalah akhlak yang mulia. Allah telah memerintah Nabi-Nya untuk bersifat rendah hati.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang beriman.” (QS. Asy-Syu’ara’: 215)

“… Sekiranya kamu bersifat keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu …..” (QS. Ali-Imran:159).

Didalam menyifati para wali-Nya, Allah Azza wa Jalla berfirman: “….. yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang yang kafir ….” (QS. Al-Maidah:54)

“Dan hamba-hamba yang baik dari Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati dan apabila orangOrang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan:63).

Dengan bersifat rendah hati, naiklah derajat manusia di dunia dan akhirat. Maka, hendaklah kamu mewajibkan atas dirimu akhlak yang mulia ini. Nabi saw. bersabda: “Apabila hamba bersikap rendah hati, Allah mengangkat (derajatnya) sampai ke langit tujuh.”

Selanjutnya beliau bersabda: “Sifat rendah hati itu hanyalah menambah kemuliaan manusia, maka bersikaplah rendah hati, semoga Allah merahmati kamu.”

  1. Apabila manusia mengenal dirinya dengan sebenar-benarnya, maka tahulah dia, bahwa dirinya rendah dan hina – serta tidaklah layak baginya, kecuali bersifat rendah hati.

Dia pun akan mengenal Tuhannya Yang Maha Tinggi dan Maha Besar serta hanya Allah Ta’ala sajalah yang patut memiliki keagungan dan kebesaran.

Dalam hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman: “Kesombongan itu selendang-Ku, sedang keagungan itu sarung-Ku. Maka, barang siapa menentang-Ku mengenai sifat itu atau salah satu dari keduanya, Aku pun melemparkannya ke neraka Jahanam dan Aku tidak peduli,” Yakni, keagungan dan kesombongan itu dua sifat yang khusus dimil.k: Allah Ta’ala dan diserupakan-Nya dengan sarung dan selendang.

  1. Waspadalah dari sifat sombong dan membanggakan diri. Allah telah mencela kesombongan di beberapa ayat dari AI-Our’an.

Firman-Nya: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku.” (QS. AlA’raf:146). l

“Sesungguhnya Dia (Allah) tidak menyukai orangorang yang sombong.” (QS. An-Nahl:23)

“Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Al-Mukmin:60)

Allah Ta’ala berfirman tentang menggambarkan musuh-musuh-Nya: “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: ‘Laa ilaaha illallah’ (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri.” (AS. Ash-Shaffat:35)

“Dan (juga) Karun, Fir’aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong (di muka) bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput (dari kehancuran itu),” (QS. Al-Ankabut: 39).

Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orany yang paling kami cintai di antara kamu dan paling dekat di antara kamu terhadap kami di akhirat aaalah orangorang yang terbaik akhlaknya di antara kamu.

Dan sesungguhnya orang yang paling kami benci di antara kamu dan paling jauh di antara kamu terhadap kami adalah orang-orang yang banyak bicara tanpa guna dan suka membual serta Al-Mutafaiqihuun.”

Para sahabat berkata: “Wahai Rasululah, telah kami ketahui orang-orang yang banyak bicara tanpa guna dan pembual, lalu apa itu Al-Mutafaigihuun?” Rasulullah saw. menjawab: “Orang-orang yang sombong.” Dilanjutkan: “Orang-orang yang sombong dibangkitkan pada hari Kiamat dalam bentuk seperti semut-semut kecil yang diinjak oleh orang-orang. Kemudian mereka digiring ke penjara di neraka Jahanam yang bernama ‘Bulas’ yang dipenuhi api, sedang mereka diberi minum thiinatul khabaal, yaitu keringat penghuni neraka.”

  1. Sebab-sebab kesombongan adalah banyak, di antaranya kesombongan dengan ilmu. Nabi saw. bersabda: “Cacat ilmu adalah kesombongan.” Adalah buruk sekali bila orang alim sombong. Lebih patut baginya bersikap rendah hati, sebagaimana kata penyair:

Apabila bertambah ilmu manusia ia semakin merendahkan diri.

Jika manusia semakin bodoh, ia pun semakin tinggi hati.

Begitulah ranting yang memikul buah dapat kamu capai walaupun ia semakin kuat karena memikul buah.

Hal itu disebabkan orang alim menyadari kebesaran tanggung jawab ilmu. Sesungguhnya dia tidak dapat menunaikan syukur kepada Allah atas nikmat ilmu dan takut bahaya kesudahan hidupnya. Oleh karena itu, dia pun tetap tunduk kepada Tuhannya. Khawatir atas dirinya dan rendah hati kepada orang lain, karena dia tahu bahwa kesombongan itu tidak patut, kecuali bagi Allah.

Apabila dia sombong, Tuhan membencinya: dan apabila dia bersikap rendah hati, maka Tuhan akan mencintal dan memimpinnya. Dalam hadits Qudsi dijelaskan “Sesungguh nya kamu mempunyai derajat di sisi-Ku, selama kamu tidak melihat derajat bagi dirimu. Jika kamu melihat de rajat bagi dirimu, maka tiada derajat bagimu di sisi-Ku,”

  1. Di antaranya: Menyombongkan Ibadah dan kesha lihan, harta dan ketampanan, nasab (keturunan) dan kekuatan serta sebab-sebab lainnya. Oleh karena itu, jauhilah silat sombong, walaupun sedikit. Dalam hadits disebutkan: “Tidaklah masuk surga orang yang terdapat sedikit sifat sombong di dalam hatinya.” Hal itu disebabkan sifat sombong mencegah pemiliknya dari memiliki akhlak yang baik, yang merupakan pintu-pintu surga. Maka dia tidak dapat bersikap rendah hati dan tidak mencintai saudaranya, seperti mencintai dirinya sendiri. Dia pun tidak dapat memaafkan dan bersabar.

Sebaliknya, kesombongan mendorongnya untuk berakhlak buruk, yang merupakan pintu-pintu neraka, misalnya dendam, dengki, dusta, marah, penghinaan terhadap orang lain dan keengganan menerima nasihat. Orang yang sombong tertutup hatinya dan petunjuk yang diberikan, sedikit pun tidak akan dihiraukan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “….. Demikianlah Allah menutup hati orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS. Al-Mukmin: 35).

Iblis dahulu menyembah Allah bersama para malaikat selama ribuan tahun. Ketika ia sombong, Allah melaknat dan mengusirnya dari surga. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam’, maka sujudlah mereka kecuali iblis. la enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34).

Allah berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. A-A’raf: 13).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker