Kitab Tasauf

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 4

14. BEBERAPA KISAH DARI ORANG-ORANG YANG PANDAI MENAHAN DIRI

  1. Diceritakan, Hathith Az-Zayyat dibawa menghadap kepada Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsagafi. Ketika dia masuk kepada Hajjaj, Hajjaj berkata: “Engkau yang bernama Hathith?” Hathith menjawab: “Ya, tanyakanlah apa yang Anda Suka. Karena -aku berjanji kepada Allah ketika berdiri di hadapan Maqam Ibrahim atas tiga perkara: Pertama. jika aku ditanya, aku akan menjawab dengan benar: kedua, jika aku mengalami cobaan, aku akan bersabar: ketiga, jika diberi keselamatan, aku akan bersyukur.”

Hajjaj bertanya: “Apa pendapatmu mengenai diriku?”

Hathith menjawab: “… Aku katakan, sesungguhnya Anda termasuk musuh Allah di muka bumi. Anda melanggar larangan Allah dan membunuh dengan sangkaan.” Hajjaj bertanya: “Apa pendapatmu tentang Amirul Mukminin Abdul! Malik bin Marwan?”

Hathith menjawab: “Dia lebih besar dosanya daripada Anda. Sesungguhnya Anda adalah salah satu dosa-dosanya.” Maka Hajjaj berkata: “Siksalah dia.”

Maka, sampailah penyiksaan terhadapnya dengan dibelahkan kayu bambu, kemudian ditusukkan ke daging (tubuh)nya, lalu diikat dengan tali dan dibentangkan diatas kayu-kayu hingga bercerai berai dagingnya. Akan tetapi mereka tidak mendengarnya mengucapkan sesuatu.

Kemudian diberitakan kepada Hajjaj, bahwa Hathith dalam keadaan menjelang ajal (sekaratulmaut). Maka Hajjaj berkata: “Keluarkan dia dan lemparkan ke pasar.”

Ja’far berkata: “Kemudian aku bersama seorang temanku mendatanginya. Kemudian kami tanyakan kepadanya: ‘Hathith, apakah kamu punya keperluan?’ Hathith menjawab: ‘Seteguk air.’ Kemudian mereka membawa segelas air, lalu dia meninggal. Waktu itu Hathith berusia 18 tahun, semoga Allah merahmatinya.”

  1. Ada seorang ulama didatangi oleh seorang temannya. Dia menyajikan makanan kepadanya. Kemudian keluarlah istri orang bijak itu. Perempuan tersebut adalah seorang yang berakhlak buruk. Dia mengangkat hidangan dan memulai memaki orang bijak itu. Lalu temannya keluar sambil marah-marah. Maka orang bijak itu mengikutinya dan berkata kepadanya:

“Engkau ingat pada hari ketika kita makan dirumahmu, lalu seekor ayam terjatuh menimpa hidangan sehingga merusakkannya, namun tidak seorangpun yang marah di antara kita?” Temannya menjawab: “la.” Orang bijak itu ber. kata: “Anggaplah perempuan ini seperti ayam itu.” Maka redalah kemarahan orang itu dan ia pun pergi. Temannya berkata: “Benarlah orang bijak itu. Sifat menahan diri adalah penyembuh dari setiap penyakit.”

  1. Seorang laki-laki memukul kaki seorang hiiak hingga menyakitkannya. Namun dia tidak marah. Maka dikatakan kepadanya mengenai hal itu. Orang bijak itu berkata: “Aku menganggapnya seperti batu yang membuat aku tersandung, maka aku sembelih kemarahanku.”
  1. Seorang laki-laki memaki sahabat Abdullah bin Abbas ra. Setelah selesai, Abdullah berkata: “Hai Ikrimah,: apakah orang itu punya keperluan, agar kita penuhi?” Maka, orang itu pun menundukkan kepalanya dan merasa malu.
  1. Diceritakan, seorang ahli ibadah (‘Aabid) mempunyai seekor kambing. Orang itu melihat kambingnya berkaki tiga. Kemudian dia berkata: “Siapa yang melakukan ini terhadapnya?” Seorang sahayanya berkata: “Aku.” Orang itu berkata: “Kenapa?” Sahaya itu menjawab: “Supaya tuan susah.” Orang itu berkata: “Tidak, bahkan aku akan menyusahkan orang yang menyuruhmu. Pergilah! Engkau bebas (merdeka).”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker