12. TELADAN TINGGI DALAM HAL KESABARAN
- Sayyidah Aisyah ra., berkata: Nabi saw. melakukan shalat pada waktu malam hingga pecah-pecah kakinya. Maka aku bertanya kepadanya: “Mengapa Anda lakukan ini, waha, Rasulullah, padahal telah diampuni dosamu terdahulu dan terkemudian?”” Beliau menjawab: “Bukankah aku harus menjadi seorang hamba yang bersyukur?”
- Al-Faqih Abu Ishaq: Muhammad bin Oasim bin Sya’ban Al-Qurtubi rahimahullah —tidak keluar dari rumahnya, melainkan bila beliau memegang kaki ibunya, lalu meletakkan di pipinya seraya berkata: “Ya Allah, Engkau katakan dalam Kitab-Mu: “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (OS. Al-Isra’:24). Sesungguhnya aku telah merendahkan diriku kepadanya, maka ampunilah dosaku, wahai Tuhan Yang Maha Penyayang.”
- Diceritakan, seorang laki-laki yang sudah tua digendong oleh putranya dan dipelihara serta diberi makan olehnya seperti anak kecil. Pada suatu hari putranya berkata kepadanya: “Hai Ayahku, aku telah membalas dan memeliharamu sebagaimana engkau memelihara aku. Kita telah sama-sama berbuat begitu.” Maka ayahnya berkata: “Sekalikali tidak.” Putranya berkata: “Bagaimana itu?” Sang ayah menjawab: “Ketika aku memeliharamu, aku mengharapkan hidupmu dan menanti masa mudamu, sedangkan kamu sekarang mengharap kematianku.”
- Dalam kitab Tarikh Ibnu Khallikan diriwayatkan, seorang laki-taki dari umat terdahulu sedang makan dan di depannya ada seekor.ayam panggang. Kemudian seorang pengemis datang kepadanya, namun dia menolaknya dengan tangan hampa. Padahal orang itu hidup mewah. Pada suatu ketika, terjadi percerdian antara dia dengan istrinya, maka habislah hartanya.
Kemudian pengemis itu kawin dengan istrinya. Di saat suami kedua sedang makan ayam panggang di hadapannya. tiba-tiba datang kepadanya seorang pengemis. Lalu orang itu berkata kapada istrinya: “Berikanlah ayam itu kepadanya.” Maka istrinya memberikan ayam panggang itu dan memandang kepadanya. Ternyata dia adalah suaminya yang pertama. Kemudian diceritakannya kisah itu kepada suaminya. Maka suami kedua itu berkata: “Demi Allah, akulah orang miskin yang pertama itu, yang disia-siakan olehnya. Maka Allah memindahkan kenikmatan dan istrinya kepadaku. karena dia kurang bersyukur.”
- Seorang laki-laki mengeluh mengenai kemiskinannya kepada seorang arif bijaksana dan menampakkan kesedihannya yang sangat. Orang bijaksana itu bertanya: “Apakah kamu senang apabila dirimu buta dengan imbalan 10.000 dirham?” Orang itu menjawab: “Tidak”. Orang bijaksanra itu bertanya: “Apakah kamu senang apabila dirimu bisu dengan imbalan 10.000 dirham”? Orang itu menjawab: “Tidak.” Kemudian orang bijasana itu bertanya: “Apakah kamu senang apabila kedua tangan dan kedua kakimu buntung dengan imbalan 20.000 dirham?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Orang bijaksana itu bertanya: “Apakah kamu senang ” apabila kamu gila dengan imbalan 10.000 dirham?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka orang bijaksana itu berkata: “Tidakkah kamu merasa malu apabila kamu mengeluh pada Tuhanmu, sedangkan Dia mempunyai harta padamu sebanyak 50.000 dirham?”
.6. Ibnu Sammak masuk menemui seorang khalifah, sedang di tangannya membawa kendi air yang diminumnya. Khalifah itu berkata kepadanya: “Nasihatilah aku.” Ibnu Sammak bertanya: “Seandainya kamu tidak diberi minuman ini, kecuali dengan memberikan semua hartamu atau kamu tetap haus, apakah engkau mau memberikannya?” Khalifah menjawab: “Ya”. Ibnu Sammak bertanya: “Seandainya kamu tidak diberi minum air, kecuali dengan imbalan seluruh kerajaanmu, apakah kamu mau meninggalkannya?” Khalifah menjawab: “Ya.” Ibnu Sammak berkata: “Maka jangan gembira dengan kerajaan yang tidak menyamai seteguk air.”
Maksudnya, nikmat Allah atas hamba-Nya dalam meminum air pada waktu haus, lebih besar daripada kerajaan bumi seluruhnya.





One Comment