Kitab Tasauf

Terjemah Akhlak Lil Banin Juz 4

21. DENDAM DAN DENGKI

Ketahuilah, dendam itu akibat marah. Apabila manusia marah kepada seseorang dan tidak dapat membalas dendam kepadanya, kembalilah marah itu ke dalam batin, lalu dia menjadi dendam. Orang yang dendam tetap menunggu kesempatan hingga dia membalas dendam kepada orang yang dibencinya.

Sebagaimana penyair berkata:

Sesungguhnya musuh itu walaupun menunjukkan perdamaian Jika merasa kuat, pada suatu hari ia akan menyerang.

Dendam itu haram dan sangat tercela, seperti dengki. Artinya: Dia mengharapkan kehilangan kenikmatan dari orang yang menjadi sasaran dengki.

Allah Ta’ala berfirman: “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia?” yang Allah telah berikan kepada manusia itu?” (QS. An-Ni-sa’:54).

“Dan dari kejahatan orang yang mendengki bila dia dengki” (QS. Al-Falaq:5).

Nabi saw. bersabda: “Dendam dan dengki itu memakan pahala berbagai kebaikan seperti api memakan kayu.”

Beliau bersabda pula: “Orang mukmin itu tidak pendendam.”

Sabdanya juga: “Bukan termasuk golonganku orang yang mempunyai rasa dengki, melakukan namimah (mengadu domba) mau pun pergi ke dukun, dan aku pun bukan dari golongannya.”

Adapun rasa iri, yaitu mengharapkan keadaan seperti Orang yang menjadi sasaran iri hatinya tanpa mengharapkan kehilangan kenikmatan itu, maka sifat itu terpuji, karena ia menimbulkan persaingan sehat.

Rasa iri dalam berbagai urusan kebaikan justru dianjurkan. Allah Ta’ala berfirman: “…. untuk hal yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin:26).

Dalam hadits disebutkan: “Orang mukmin itu iri hati, sedang orang munafik mendengki.” Dalam hadits yang lain: “Telah menjalar kepada kamu penyakit umat-umat sebelum kamu, yaitu dengki dan kebencian. Itulah yang akan mencukur. Aku tidak mengatakan: la mencukur rambut, tetapi mencukur agama.

Demi Allah’ yang menguasai nyawaku, kamu tidak akan masuk surga hingga beriman dan tidaklah kamu beriman hingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan Sesuatu yang jika kamu lakukan, maka kamu saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kamu.”

  1. Dendam dan dengki menyebabkan kepayahan hati dan bahaya tubuh. Sayyidina Ali ra. berkata: “Kesehatan tubuh disebabkan sedikit rasa dengki.”

Imam Al-Ashma’i berkata: “Aku berkata kepada seorang dusun yang berusia 120 tahun: “Alangkah panjang umurmu!’Orang itu menjawab: ‘Aku tinggalkan rasa dengki, maka aku berumur panjang’.”

Tidaklah lebih menyenangkan bagi manusia dan tidaklah lebih menjauhkan kesusahannya daripada hidup dengan hati bersih, tidak mendengki dan tidak mendendam terhadap seorang pun. Dan seperti inilah keadaan Rasulullah saw. Dalam hadits dijelaskan: “Janganlah salah seorang di antara para sahabatku menyampaikan kabar sesuatu kepadaku tentang seseorang, karena aku ingin keluar menghadap kalian dalam keadaan bersih hati.”

Di antara doa Rasulullah saw.: “Ya Allah, setiap nikmat yang aku rasakan pada waktu pagi atau dirasakan oleh seorang makhluk-Mu, maka ia berasal dari-Mu saja, tiada sekutu bagi-Mu. Maka, bagi-Mu-lah segala puji dan syukur.”

Dalam hadits disebutkan: Rasulullah saw. ditanya: “Manusia manakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Setiap orang yang bersih hati dan benar lisannya.” Ada yang mengatakan: “Benar lisannya kami ketahui, maka apakah arti bersih hati’?” Rasulullah saw. menjawab: “la adalah orang yang bersih hatinya dan bertakwa, tidak berdosa dan tidak berbuat zalim, tidak mendendam dan tidak mendengki.”

Allah telah menggambarkan kaum muslimin yang benar melalui firman-Nya: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdo’a: ‘Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (QS. Al-Hasyr:10).

Penyair berkata:

Hai pencari kehidupan yang aman dan tentram, semata-mata tanpa kekeruhan, bersih tanpa kotoran

Bersihkan hatimu dari dendam dan dengki

Dendam di dalam hati, seperti belenggu di leher.

  1. Ketahuilah, pengaruh-pengaruh buruk dari dendam dan dengki tidak menimpa seorang saja, tetapi meluas kepada masyarakat. Maka hal itu menyebabkan berbagai bahaya yang sangat dan menimbulkan api fitnah serta permusuhan, Sehingga terjadi pemutusan hubungan antar saudara dan angGota keluarga serta suku.

Rasulullah saw. mencela pemutusan hubungan: “ya. nganlah kamu saling membenci, mendengki, menjauhi dan memutuskan hubungan. Akan tetapi, jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara. Diharamkan bagi Seorang muslim menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari.”

Dalam hadits lain: “Barangsiapa menjauhi sauda. ranya lebih dari tiga hari, lalu dia mati, maka dia masuk neraka.”

Rasulullah saw. bersabda pula: “Dibuka pintu-pintu surga pada hari Senin dan Kamis. Maka, setiap hamba . yang tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, diampuni dosanya, kecuali orang yang masih berlangsung permusuhan antara dia dan saudaranya. Maka dikatakan: “Tundalah kedua orang ini sampai keduanya berdamai. Tundalah kedua orang ini sampai keduanya berdamai.”

Rasul saw. pun bersabda: “Allah Azza wa Jalla mengawasi hamba-hamba-Nya di malam pertengahan (Nisfu) Sya’ban, lalu mengampuni orang-orang yang memohon ampun dan merahmati orang-orang yang memohon rahmat serta menunda orang-orang yang menJendam, sebagaimana keadaan mereka.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker