7 BERBUAT BENAR DAN BERDUSTA
- Berbuat benar merupakan dasar akhlak dan tonggak adab serta sumber kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Macam perbuatan yang benar sangat banyak. Yang paling tersohor dan menonjol ialah pemberitahuan tentang hal-hal yang sebenarnya, baik dengan lisan, tulisan ataupun isyarat, misalnya, menggoyangkan kepala dan memberi isyarat dengan tangan serta dilakukan dengan diam.
Apabila kamu melihat seorang murid melakukan perbuatan yang patut dihukum, lalu guru menghukum anak lain secara tidak disengaja, sedangkan kamu diam, maka yang demikian itu dianggap dusta. Berkata benar ialah apabila kamu berterus terang kepada guru tentang siapa yang berhak dihukum.
Termasuk macam-macamnya: bersikap benar dalam niat dan keinginan, berbuat benar dalam tekad dan melaksanakan maksud, bersikap benar dalam perbuatan serta berbagai urusan agama.
Bersikap benar dalam niat ialah: Apabila kamu tidak mempunyai pendorong dalam gerak dan diam, kecuali Allah, dan bukan karena menurut hawa nafsu. Inilah makna ikhlas, dan kebalikannya adalah riya’.
Bersikap benar dalam tekad ialah: Apabila kamu mempunyai kemauan yang benar untuk melakukan berbagai kebaikan dan tidak memiliki kecondongan maupun kebimbangan, misalnya, kamu bertekad memanfaatkan iImumu kepada orang lain, jika Allah mengaruniai ilmu. ‘
Penyair berkata:
Apabila kamu mempunyai pendapat, hendaklah kamu mempunyai tekad, karena pendapat yang buruk adalah bila kamu bimbang.
Berbuat benar dalam melaksanakan maksud ialah: Apabila kamu bertekad melakukan, kemudian melaksanakannya dan tidak mundur darinya. Misalnya, kamu katakan: “Apabila Allah mengaruniaiku harta, aku akan menyedekahkannya.” Maka, janganlah kamu mundur dari sedekah, apabila kamu mendapat harta.
Bersikap benar dalam perbuatan, ia:ah: Apabila kamu tidak menampakkan perbuatan-perbuatan yang berlainan dengan isi hatimu. Misalnya, memperlihatkan sikap khusyu’ ketika shalat, padahal hatimu lalai, dan berjalan dengan sikap tenang dan wibawa, sedangkan hatimu tidak bersifat begitu. Maka, berusahalah menjadikan batinmu seperti lahirmu, atau lebih dari pada lahirmu.
Dalam hadits disebutkan: “Ya Allah, jadikan batinku lebih baik daripada lahirku dan jadikan lahirku suatu kebaikan.”
Bersikap benar dalam berbagai amalan agama, misalnya, bersikap benar dalam pengesaan terhadap Allah, sangat berhati-hati dari syirik yang serendah-rendahnya, bersikap benar dalam rasa takut atas siksa Allah dan harapan akan pahala-Nya, itulah yang dianjurkan.
Di samping itu, hendaklah kamu bersikap benar dalam kecintaan dan keridhaan serta tawakal kepada-Nya dalam segala urusanmu.
- Agama telah memerintahkan kita agar berbuat benar dalam semua perkataan dan keadaan, walaupun hal itu menimbulkan bahaya bagi kita, misalnya Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah:119).
Dalam hadits dijelaskan: “Berusahalah berbuat benar, walaupun kamu lihat bahwa di dalamnya terdapat kebinasaan, karena pada hakikatnya terdapat keselamatan. Jauhilah dusta, walaupun kamu lihat bahwa di dalam dusta terdapat keselamatan, karena pada hakikatnya terdapat kebinasaan.”
Agama sangat melarang kita berdusta. Firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (QS. An-Nahl:105).
Dalam ayat lain diterangkan: “…. agar kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang pendusta.” (QS. Ali. Imran:61). .
Dalam hadits yang lalu diterangkan, bahwa ia termasuk tanda orang munafik.
Dalam hadits lain: “Hendaklah kamu berkata benar, karena kebenaran menyebabkan kebajikan, dan kebajikan menyebabkan masuk surga. Ada orang yang selalu berkata benar dan berusaha berbuat benar hingga dia ditulis di sisi Allah sebagai Shiddiq (pembenar). Janganlah kamu berdusta, karena dusta menyebabkan kedurjanaan, dan kedurjanaan menyebabkan masuk neraka. Apabila hamba selalu berdusta, maka dia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.”









One Comment