8. BEBERAPA KISAH DARI ORANG-ORANG YANG BERKATA BENAR DAN DUSTA
- Kaab bin Malik Al-Anshari ra. terlambat dari mengikuti Perang Tabuk, padahal dia telah bertekad untuk berangkat, tetapi dia menunda-nunda dan menangguhkan tekad hingga hilang kesempatannya, kemudian sampailah berita kepadanya, bahwa Rasulullah saw. telah kembali dari Tabuk. Maka, dia pun sangat sedih dan bermaksud mengemukakan alasan dusta atas keterlambatannya. Akan tetapi dia memerangi nafsunya. Maka, dia membulatkan tekadnya untuk berkata benar dan menceritakan secara terus terang, bahwa dia tidak mempunyai alasan sedikit pun atas tertinggalnya dalam mengikuti peperangan. Maka Nabi saw. memaafkannya dan turunlah ayat mengenai tobatnya dalam Al-Our’an. Hal itu berkat kebenarannya dan dia tetap dalam keadaan yang menyatakan kebenaran serta tidak pernah dengan sengaja melakukan dusta, Kisahnya panjang dan telah tersebut dalam kitab-kitab sejarah.
2, Disebutkan dalam hadits, bahwa Tsa’labah bin Hathib berkata: “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah, agar Dia mengaruniai aku harta.” Maka Rasulullah saw. bersabda:
“Wahai Tsa’labah, sedikit harta yang kamu syukuri adalah lebih baik dari pada banyak harta, tetapi tidak mampu kamu syukuri.”
Tsa’labah memohon lagi kepadanya dan berkata: “Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, seandainya Dia mengaruniai aku harta, tentu aku berikan hak setiap orang yang mempunyai hak.” Kemudian Rasulullah saw. mendoakannya. Lalu dia memelihara kambing. Kambingnya berkembang biak dengan cepat seperti ulat (cacing), hingga kota Madinah terasa sesak karenanya. Maka, Tsa’labah pun tinggal di sebuah lembah dan terputus dari shalat jamaah dan Jumat, lalu Rasulullah saw. menanyakan tentang keadaannya. Maka dijawab oleh sahabat: “Hartanya menjadi banyak. hingga tidak cukup ditampung dalam sebuah lembah.” “ Rasulullah saw. berkata: “Ah! Celakalah Tsa’labah.”
Kemudian, Rasulullah saw. mengutus dua orang pemungut sedekah untuk mengambil sedekah. Lalu orangorang menyambutnya dengan memberikan sedekah mereka. Kedua orang itu singgah di rumah Tsa’labah untuk meminta sedekah darinya dan membacakan kepadanya surat dari Rasulullah saw. yang berisi kewajiban-kewajiban. Maka Tsa’labah berkata: “Ini tidak lain hanyalah pajak. Ini tidak lain hanyalah semacam pajak.”
Selanjutnya dia berkata: “Pulanglah, sampai aku putuskan pendapatku.” Ketika kedua orang itu pulang, Rasulullah saw. berkata kepada mereka, sebelum keduanya bicara: “Ah! Celakalah Tsa’labah” (diucapkannya dua kali). Kemudian turunlah ayat: “Dan di antara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’
Maka, setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).
Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, kare. na mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka Ikrarkan kepada-Nya dan (juga) karena me. reka selalu berdusta.” (QS. At-Taubah: 75-77).
Lalu Tsa’labah datang membawa sedekah. Namun Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah melarang aku menerima sedekah darimu.” Kemudian Tsa’labah menaburkan tanah di atas kepalanya. Rasulullah saw. bersabda: “Inilah perbuatanmu. Aku telah menyuruhmu, namun kamu tidak menaati aku.”
Ketika Rasulullah saw. wafat, Tsa’labah membawa sedekah kepada Abu Bakar ra., tetapi beliau tidak menerimanya. Kemudian dia membawanya kepada Umar ra. ketika beliau menjadi Khalifah, beliau pun tidak menerimanya. Akhirnya, Tsa’labah meninggal di zaman pemerintahan Utsman ra.
- Dari Anas bin Malik ra., bahwa pamannya yang bernama Anas bin Nadhr ra. tidak ikut perang Badar bersama Rasulullah saw. Maka dia pun menyesali hal itu di dalam hatinya.
Dia berkata: “Itu adalah perang pertama yang dihadiri Rasulullah saw., dimana aku tidak hadir. Demi Allah, jika Allah menunjukkan aku sebuah peperangan bersama Rasulullah, maka Allah akan melihat apa yang aku lakukan.”
Dia berkata: Kemudian dia ikut perang Uhud di tahun berikutnya. Saad bin Muadz menyambutnya seraya bertanya: “Hai Abu Amr, hendak kemana kamu?” Anas menjawab: “Alangkah harumnya bau surga. Aku merasakan baunya di dekat Gunung Uhud.” Kemudian dia berperang hingga terbunuh.
Lalu ditemukan pada tubuhnya lebih dari delapan puluh luka: di antaranya ada yang terkena panah, pukulin dan tikaman pedang.
Saudara perempuannya, putri An-Nadhr, berkata: “Tidaklah aku mengenali saudaraku, melainkan dengan jarinya.” Kemudian turun ayat berikut: “… ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah …” (QS. Al-Ahzab: 23)
- Tsauban ra. adalah bekas sahaya Rasulullah saw. yang sangat mencintai dan gelisah apabila tidak melihatnya. Pada suatu hari, Tsauban menemui beliau, sementara raut wajahnya telah berubah. Terlihat kesedihan. Maka Rasulullah saw. bertanya kepadanya: “Mengapa warna wajahmu berubah?” Tsauban menjawab: “Wahai Rasulullah, aku tidak sakit dan tidak menderita, namun bila tidak melihat Anda, aku merasa sangat kesepian hingga berjumpa.
Di samping itu, aku teringat akan akhirat, dan aku takut kelak tidak akan melihat Anda, karena derajat Anda diangkat bersama para Nabi. Jika aku masuk surga, maka derajatku lebih rendah daripada derajat Anda. Jika aku tidak masuk surga, maka aku tidak akan melihat Anda sama sekali. Maka turunlah firman Allah Ta’ala:
“Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (AS. AnNisa”: 69)
- Disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi saw. melewati setumpuk makanan. Kemudian beliau memasukkan tangan ke dalamnya. Ternyata, jari-jarinya menyentuh barang basah. Maka beliau bersabda: “Hai pemilik makanan, apakah ini?” la menjawab: “Makanan itu terkena air hujan, wahai Rasulullah.”
Beliau berkata: “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian atas makanan, agar terlihat oleh orang-orang? barangsiapa menipu kami, maka dia bukan dari golongan kami.”
- Diceritakan, Al-Hajjaj berkhotbah secara panjang Ie. bar. Tiba-tiba, berdirilah seorang laki-laki dan berkata: “Ingatlah shalat, karena waktu tidak menunggumu dan Tuhan tidak memberimu alasan.” Maka Hajjaj memerintah agar me. menjarakannya. Kemudian kaumnya mendatanginya. Mereka menganggapnya gila. Mereka minta agar melepaskannya. Maka Al-Hajjaj berkata: “Jika dia mengaku gila, aku akan melepaskannya.” Kemudian dikatakan kepadanya. Orang itu berkata: “Semoga Allah melindungi. Aku tidak yakin, bahwa Allah menimpakan cobaan padaku, sedangkan Dia telah mengaruniai aku kesehatan.” Sampailah berita itu kepada AlHajjaj. Maka, beliau memaafkan karena kebenarannya.”
- Diceritakan, seorang laki-laki mempunyai seekor sapi yang diperah susunya. Kemudian dia mencampur dengan air dan menjualnya. Di saat sapi itu sedang berdiri makan rumput, tiba-tiba datang banjir yang menenggelamkannya. Maka orang itu sangat sedih atas kehilangan sapinya. Kemu“ dian anak-anaknya berkata kepadanya: “Duhai Bapak kami, janganiah Anda bersedih, karena air yang kita campur dengan susunya telah berkumpul dan menenggelamkannya.” Maka Orang itu pun menyadari, bahwa penipuan itu berakibat kebinasaan dan kerugian.









One Comment