9. KESABARAN DAN KEGELISAHAN HATI
Sesungguhnya kesabaran itu termasuk akhlak yang agung. la merupakan taufik yang baik dari Allah bagi hambaNya yang beriman dan termasuk tanda-tanda yang menunjukkan kebahagiannya. .
Kesabaran terbagi menjadi tiga macam: dalam melakukan ketaatan: tidak berbuat maksiat: dan dalam menghadapi musibah.
Macam pertama: lalah bersabar untuk mematuhi perintah-perintah Allah Ta’ala. Dia pun bersabar dalam menegakkan shalat, baik pada waktu sehat atau sakit, dalam perjalanan atau menetap di rumah, serta dalam semua keadaan dengan melakukan seluruh syarat dan rukunnya, dan tidak ceroboh dalam mengerjakan sunnah-sunnahnya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabariah kamu dalam mengerjakannya …” (QS. Thaha: 132).
Bersabar dalam menyempurnakan wudhu. Rasulullah saw, bersabda: “Maukah kutunjukkan sesuatu, yang dengannya Allah dapat menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat?”
Para sahabat menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda: “Sempurnakanlah wudhu dalam keadaan yang tidak menyenangkan (musim dingin) dan perbanyaklah langkah menuju masjid serta menunggu shalat demi shalat. Itulah perjuangan. Itulah perjuangan.”
Bersabar pula dalam mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan haji ke Baitullah, menuntut ilmu dan berbakti kepada kedua orang tua serta mengerjakan perintah-perintah lainnya.
Allah Ta’ala berfirman: “… Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabariah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).
“.. dan bersabarlah kamu sekalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46). ”
Rasulullah saw. bersabda: “Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan, sedangkan.api neraka dikelilingi oleh hal-hal yang menyenangkan.”
Macam kedua: Bersabar untuk meninggalkan maksiat. Ini adalah macam kesabaran tertinggi dan paling utama. Kesabaran ini dilakukan dengan meninggalkan hal-hal yang terlarang, misalnya, mendurhakai ibu-bapak, mengganggu orang-orang, memakan harta mereka, mencuri, membunuh jiwa. minum khamar, berzina, memandang pada hal-hal yang diharamkan dan lainnya. Terutama perbuatan-perbuatan maksiat yang tersebar dan menjadi kebiasaan di antara orang. orang, misalnya, menggunjing orang, mengadu domba, bersikap sombong, dendam dan dengki.
Alangkah perlunya manusia bersabar untuk me. ninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut, karena hal itu adalah macam kesabaran terberat dan dengan itu ia men. dapat ridha Allah serta selamat dari kemurkaan dan kebencian-Nya.
Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shaiatnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (werbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemuiuannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka aalam hal ini tiada tercela.
Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara shalatnya.
Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Mukminun: 1-11).
Macam ketiga: Kesabaran dalam menghadapi musibah dengan menerima keputusan Allah dan takdir-Nya serta menghindari keluh kesah (kegelisahan), karena ia adalah amalan yang haram dan menghilangkan pahala. Tidak banyak mengeluh kepada orang-orang, apabila dia sakit, kehilangan Sesuatu, diganggu orang, salah satu dari keluarga atau orang yang dicintainya meninggal dunia, penghidupannya terasa Sempit, atau tidak dapat mencapai suatu cita-citanya. Akan tetapi, dia harus menyerahkan urusannya kepada Allah yang menguasai segala urusan. Hendaklah dia mengeluh kepada Allah Azza wa Jalla atas cobaan yang menimpanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala yang menceritakan tentang Sayyidina Ya’gub as.: “Sesungguhnya hanyalah Kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku . (QS. Yusuf: 86).
Juga firman Allah Ta’ala yang mengabarkan tentang Sayyidina Ayub as.: “Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: ‘(Ya, Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara para penyayang’.” (QS. AlAnbiya’ : 83).
Hendaklah menghadapi semua musibah dengan segala kesabaran dan ketabahan. Dengan demikian dia pun mendapat pahala yang besar dan Allah membebaskannya dari kesedihan serta menyampaikan pada tujuannya di dunia atau menyimpan baginya di akhirat pahala yang lebih besar dari itu.
Allah Ta’ala berfirman: “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Alam Nasyrah: 5-6).
Allah juga berfirman: “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.
(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.’” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).
Dalam hadits: “Rasulullah saw. ditanya: “Manusia manakah yang paling keras cobaannya?” Beliau men. jawab: “Para Nabi. Kemudian orang-orang yang terbaik (sahabat-sahabat Nabi), lalu orang-orang pilihan (para ulama).” :
Manusia diuji menurut kadar agama mereka. Maka, barangsiapa yang kuat agamanya, semakin beratlah cobaannya. Dan barangsiapa yang lemah agamanya, semakin ringanlah cobaannya. Ada orang yang ditimpa cobaan hingga dia berjalan di atas bumi tanpa dosa.”
Dalam hadits lain: “Menunggu kebebasan adalah ibadah.”
Dalam hadits lain lagi: “Barangsiapa berusaha untuk sabar, maka Allah menjadikannya sabar. Tidaklah seseorang mendapatkan pemberian yang lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran.”
Termasuk macam ini adalah kesabaran dalam menghadapi berbagai musibah yang ringan. Sebagaimana tersebut dalam hadits, ketika lampu Nabi saw. padam. Lalu beliau mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Kemudian Aisyah ra. berkata: “Ini hanya lampu!” Maka Nabi saw. bersabda: “Setiap sesuatu yang mengganggu orang mukmin adalah musibah.”









One Comment