11. BERSYUKUR DAN MENGINGKARI NIKMAT
- Ketahuilah! Sesungguhnya Allah Yang Maha Agung memberimu nikmat yang banyak dan besar, khusus dan umum. Nikmat-nikmat yang khusus misalnya, iman, Islam, wujud (terciptanya diri), akal, ilmu, rezeki, kesehatan, keselamatan, makan, minum, tidur serta nikmat lain yang tidak terhitung banyaknya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika kamu menghitunghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya ….” (QS. An-Nahi: 18).
.“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya) ….” (QS. An-Nahl: 53).
Adapun nikmat-nikmat umum, yaitu: Allah menciptakan langit dan isinya: berupa matahari, bulan dan bintang-bintang untuk digunakan para hamba-Nya. Begitu pula bumi dan isinya : berupa lautan, sungai-sungai, gunung-gunung, angin, berbagai hewan dan pohon-pohon.
Allah Ta’ala berfirman: “Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu, supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya. Mudah-mudahan kamu bersyukur.
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian Itu benar-benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Al-Jaatsiyah: 12-13).
- Oleh karena itu, kamu wajib bersyukur kepada Tuhanmu atas nikmat-nikmat ini. Allah Ta’ala berfirman: “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS: al-Baqarah: 152).
“.. maka carilah rezeki itu di sisi Allah dan sembahlah Dia serta bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (QS. Al-Ankabut: 17).
Apabila kamu bersyukur kepada Tuhanmu, maka tidaklah diragukan bahwa Allah akan membalasmu atas rasa syukur kepada-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman: “… dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali-lmran: 144).
Di samping itu, Allah akan menambah nikmat-Nya bagimu, sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu …” (QS. Ibrahim: 7).
Apabila kamu tidak bersyukur kepada-Nya, maka Dia akan murka kepadamu, sebagaimana firman-Nya: “… dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).
Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas dirinya, maka dia telah membiarkan kehilangan nikmatnikmat itu. Tersebut dalam hadits: “Mensyukuri nikmat itu menimbulkan rasa aman dari kehilangannya.”
Penyair berkata:
Apabila kamu dalam kenikmatan, maka peliharalah kenikmatan itu karena maksiat menghilangkan kenikmatan.
Jagalah kenikmatan itu dengan bersyukur kepada Tuhan, karena Tuhan cepat menghukum.
- Banyak orang hanyut dalam nikmat-nikmat Allah Yang Maha Pemurah, tetapi mereka lalai dari mensyukuriNya.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Tidaklah diragukan bahwa faedah syukur akan kembali kepadamu, karena Allah tidak membutuhkan dari seorang pun.
Allah Ta’ala berfirman: “Barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendirinya, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (AlQS. Lukman: 12).
Di antara doa-doa Nabi saw.: “Ya, Allah, jadikan aku orang yang bersyukur. Jadikan aku orang yang sabar. Jadikan aku kecil di depan pandanganku dan besar dalam pandangan orang-orang.”
Dalam hadits lain: “Sungguh mengherankan keadaan orang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah kebaikan dan tidaklah hal itu terjadi untuk semua orang, kecuali bagi orang mukmin. Jika mengalami kesenangan, dia pun bersyukur. Maka hal itu menimbulkan kebaikan baginya. Jika mengalami kesusahan, dia pun bersabar. Maka hal itu menimbulkan kebaikan baginya.”
- Rasa syukur itu ialah: Pengalihan pandangan hamba atas semua kenikmatan yang diberikan Allah kepada-Nya menjadi renungan untuk apa dia diciptakan.
Rasa syukur itu dinyatakan dengan hati, lisan dan anggota tubuh. Pernyataan syukur dengan hati: Apabila kamu selalu mengingat Tuhanmu dengan hati yang disertai ke cintaan dan pengagungan serta menggambarkan Seimuz kenikmatan dari Allah. Pernyataan syukur dengan lisan: Apa. bila kamu mengingat-Nya dengan puji-pujian yang menunjukkan rasa syukur kepada-Nya. Yang paling utama menurut hadits ialah mengucapkan:
“Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam, dengan pujian yang sesuai dengan kenikmatan-Nya dan setimpal dengan tambahan-Nya.”
Hendaklah kamu gunakan lisanmu untuk membaca AlOur’an, hadits, perkataan ulama dan menyebut nama Allah serta mengucap shalawat atas Nabi saw., di samping berbicara yang baik.
Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah atau berbuat makruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia ….” (QS. An-Nisaa’: 114).
- Pernyataan syukur dengan anggota tubuh: Apabila kamu beribadah kepada-Nya. Yaitu mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat untuk hartamu, berpuasa, pergi haji ke Baitullah dan menggerakkan anggota tubuhmu untuk perbuatan yang diridhai Allah SWT. Engkau pun berjalan dengan kedua kakimu untuk menuntut ilmu, menunaikan shalat dan memenuhi keperluanmu serta keperluan orang lain, terutama kedua orang tua dan guru-gurumu.
Hendaklah kamu hindari berjalan kaki menuju maksiat, agar kamu tidak mengingkari nikmat kedua kakimu. Hendaklah kamu bekerja dengan kedua tanganmu dalam melaksanakan berbagai pekerjaan dan mengkhususkan tangan kanan dengan pekerjaan-pekerjaan yang bersih. Disebutkan dalam hadits:
“Nabi saw. menjadikan tangan kanannya untuk makan, minum, wudhu’, berpakaian, mengambil dan memberi, sedangkan tangan kirinya untuk selain itu.”
Hendaklah kamu hindari mengganggu seseorang dengan kedua tanganmu: baik dengan cara memukul, mencuri harta, mengkhianati dalam suatu amanat atau titipan, ataupun menulis sesuatu yang tidak boleh kamu bicarakan, karena pena adalah satu lisan. Adapun cara mensyukuri nikmat kedua mata ialah, apabila kamu membaca Al-Our’an yang mulia dan hadits yang terhormat serta kitab-kitab yang berguna dengannya.
Di samping itu, untuk memandang orang-orang fakir miskin, anak-anak yatim dan cacat serta mengasihi dan menolong mereka. Kamu juga memperhatikan orang-orang yang bodoh dan sesat, lalu kamu ajari dan bimbing mereka ke jalan menuju keselamatan dan kebahagiaan. Dengan kedua mata, kamu perhatikan tujuan-tujuanmu yang baik dan keajaiban-keajaiban makhluk ciptaan Allah serta kamu pikirkan kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Hendaklah kamu tidak menggunakan kedua mata untuk memandang hal-hal terlarang atau aurat.
Disebutkan dalam hadits: “Allah melaknat orang yang memandang dan yang dipandang (bilamana terlarang).”
Atau jangan menggunakannya untuk menyelidiki aib orang lain dan memandang kepadanya dengan penghinaan dan ejekan.
Dalam hadits dijelaskan: “Beruntunglah orang yang disibukkan oleh aibnya hingga tidak mengurusi aib orang lain.”
Dalam hadits lain: Cukuplah kejahatan seseorang bila dia menghina saudaranya yang muslim.”
Mensyukuri nikmat dua telinga: Apabila kamu menggunakannya untuk mendengarkan kebaikan, misalnya, bacaan Al-Our’an, nasihat-nasihat dan ilmu pengetahuan: serta menjaga” keduanya dari kejahatan, misalnya, mendengarkan ghibah (pergunjingan), namimah (mengadu domba) serta perkataan yang keji.
Dalam hadits disebutkan: “Sesungguhnya pendengar itu adalah sekutu dari orang yang mengucapkan pergunjingan, dan dia termasuk salah seorang penggunjing.”









One Comment