2. TELADAN TERTINGGI DALAM MASALAH MALU
- Rasulullah saw. adalah orang yang sangat pemalu. Beliau tidak menatapkan pandangannya pada wajah seseorang dan tidak berbicara kepada seseorang dengan perkataan yang tidak disukainya. Seorang laki-laki datang kepadanya dengan memakai warna kuning pada rambutnya, sehingga beliau tidak menyukainya. Namun beliau tidak mengatakan apa-apa, sampai orang itu keluar.
Kemudian beliau bersabda kepada seseorang: “Sekiranya kamu katakan kepada orang tersebut agar menanggalkan warna kuning ini.
Hal itu disebabkan terdapat semacam keserupaan dengan perempuan. Apabila tidak bertujuan menyerupai mereka, maka hukumnya makruh dan apabila bertujuan menyerupai perempuan, maka hukumnya haram.
Rasulullah saw. tidak pernah terlihat menjulurkan kedua kaki holiau di antara para sahabatnya.
Apabila hendak buang hajat, beliau tidak mengangkat bajunya hingga mendekati tanah. Pernah Rasulullah saw. melewati seorang laki-laki yang sedang mandi. Kemudian beliau berkata:
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Allah Maha Pemalu, Maha Penyantun lagi Maha Penutup dan menyukai sifat malu serta menutupi kejelekan. Maka, apabila seseorang diantara kamu mandi, hendaklah kamu bersembunyi dari pandangan orang-orang.”
- Sayyidah Aisyah ra. adalah sangat pemalu dan memelihara diri, hingga ia berkata: “Aru memasuki rumah tempat Rasulullah saw. dimakamkan bersama ayahku, (semoga Allah meridhainya) dan menanggalkan bajuku. Aku berkata: “Sesungguhnya kedua orang itu adalah suami dan ayahku. Ketika Umar ra. dikubur di tempat itu, demi Allah, aku tidak memasukinya kecuali mengenakan baju rapat-rapat, karena merasa malu terhadap Umar”.
Perhatikan! Bagaimana rasa malunya terhadap orang asing (yang bukan mahramnya) sekalipun orang itu di dalam kubur.
- Diriwayatkan, bahwa Khuzaifah ibn Al-Yaman ra. mendatangi shalat Jum’at, ternyata dia mendapati orang orang yang sudah bubar. Maka, ia pun menjauhi jalan seraya berkata: “Tiada kebaikan pada orang yang tidak merasa malu terhadap orang-orang.”
- Sekelompok orang memanggil seorang teman mereka untuk bermain-main di majlisnya, namun dia tidak memenuhi ajakan dan menulis surat kepada mereka: “Tadi malam aku memasuki usia 40 tahun, dan aku merasa malu terhadap umurku.”
- Seorang bijaksana datang kepada seorang laki-laki. Dia melihat sebuah rumah yang tinggi dengan berbagai permadani terhampar. Namun terlihat pemiliknya kosong dari keutamaan budi (tidak mempunyai pekerti). Maka orang itu meludahi wajahnya. Pemilik rumah berkata kepadanya: “Apa maksud dari kebodohan ini hai orang bijaksana?” Orang bijaksana itu berkata: “Justru ini adalah hikmah. Sesungguhnya ludah itu dilontarkan ke tempat terhina di rumah ini dan aku tidak melihat di dalamnya orang yang lebih hina dari pada kamu.”









One Comment