2. Qidam
الصفة الثانية الواجبة له تعالى القدم
Sifat yang kedua yang wajib (pasti ada) bagi Allah ta’ala adalah sifat Qidam/Dahulu
و معناه عدم الأولية للوجود أ ى أن وجود الله تعالى لا أول له ا ى لم يسبقه عدم بخلاف الحوادث فإن وجودهم له أول و هو خلق النطفة التي خلقوا منها فقد سبقهم العدم والدليل على قدمه تعالى أنه إذا لم يكن قديما لكان حاد ثا
Makna dari sifat qidam adalah tiadanya permulaan bagi adanya Allah , yakni sesungguhnya adanya Allah ta’ala tiada awal baginya , yakni tidak didahului oleh tiada , beda dengan makhluk karena sesungguhnya adanya makhluk ada awalan/permulaannya yaitu terciptanya sperma yang mana makhluk tercipta darinya , maka makhluk didahului tiada , dalil qidam/dahulunya Allah adalah sesungguhnya jika Allah tidak bersifat qidam/dahulu maka Ia adalah perkara baru
لأنه لا واسطة بين القديم و الحادث فكل شيئ انتُفِي عنه القدم ثبت له الحدوث و إذا كان تعالى حادثا افتقر إلى محدث يحدث و افتقر محدث إلى محدث فإن لم ينتهى الأمر لزم التسلسل و هو تتابع الأشياء واحدا بعد واحد إلى ما لا نهاية له و إن انتهى الأمر بأن كان المحدث الذ ي أحدث الله تعالى أحدث الله لزم الدور و هو توقف شيئ على شيئ آخر توقف عليه فإنه إذا كان لله تعالى محدث كان متوقفا على هذا المحدث و قد فرضنا أن الله تعالى أحدث هذا المحدث فيكون هذا المحدث متوقفا على الله تعالى
فيلزم الدور و كل من التسلسل و الدور محال أى لا يمكن وجوده و الذ ي أد ى إلى المحال و هو حدوثه تعالى محال
karena tidak ada wasithoh/perantara/penengah antara yang qodim/dahulu dan yang hadits/baru , maka setiap sesuatu yang sifat qidam dinafikan/ditiadakan darinya tetap/pastilah baginya sifat baru , jika Allah ta’ala baru/makhluk maka Allah membutuhkan sesuatu yang mengadakan/menciptakan dan yang mengadakan Allah membutuhkan sesuatu yang mengadakan lagi , jika perkara ini tidak ada kesudahan maka lazimlah tasalsul/ mata rantai yaitu mengikutinya sesuatu satu sesudah yang lain sampai tiada penghabisan , jika ada penghabisannya yaitu dengan adanya sesatu yang mengadakan Allah diadakan oleh Allah maka lazimlah daur/berputar yaitu tawaqquf/berhentinya sesuatu atas sesuatu yang berhenti atas sesuatu yang depan maka sesungguhnya jika Allah ada yang mengadakan maka Allah berhenti/tawaqquf pada yang mengadakan/muhdits padahal kita telah mewajibkan bahwa Allahlah yang mengadakan muhdits ini , kemudian muhdits ini tawaqquf atas Allah maka tetaplah yang namanya daur/berputar padahal semua dari daur dan tasalsul adalah perkara yang muhal yakni tidak mungkin adanya , dan perkara yang menyampaikan kepada muhal yaitu barunya Allah ta’ala adalah muhal juga
و حاصل الدليل أن تقول لو كان الله غير قديم لكان حادثا و لو كان حادثا لافتقر إلى محدث فيلزم الدور او التسلسل و كل منهما محال فما أد ى إليه و هو حدوثه تعالى محال فثبت قدمه و هو المطلوب و إذا ثبت قدمه استحال عليه الحدوث الذ ي هو ضد القدم
Hasil kesimpulan dalil ini dapat engkau ucapkan “Jika Allah tidak qodim/dahulu tanpa permulaan maka Ia adalah huduts/baru/makhluk , jika Allah huduts maka Allah membutuhkan yang mengadakan/muhdits , maka tetaplah adanya daur/berputar atau tasalsul/mata rantai tiada habisnya , dan setiap keduanya dari daur dan tasalsul adalah muhal , karena perkara yang menyampaikan kepada muhal yaitu barunya Allah adalah pekara muhal , maka tetaplah sifat qidamnya Allah , dan ini yang dicari , dan jika tetap sifat qidamnya Allah maka menjadi mustahil barunya Allah yang mana sifat barunya Allah ini adalah lawan/kebalikan sifat qidamnya Allah









One Comment