ثم اعلم أن كلامه تعالى يطلق بالإشتراك علي شيئين فيطلق على الصفة القديمة القائمة بذاته تعالى و هذا قديم منزه عن التقدم و التأخر و الحرف و الصوت و غير ذالك من صفات الكلام
Kemudian ketahuilah bahwa istilah Kalam Allah ta’ala diucapkan dengan isytirok atas dua perkara , yaitu yang dimaksud Kalam Allah adalah Sifat Allah yang Qodim yang berdiri dengan Dzat Allah ta’ala maka jika yang dimaksud seperti ini maka Kalam Allah itu Qodim , dibersihkan dari depan , belakang (urutan) , huruf , suara dan lain-lain dari sifat-sifat kalam (ucapan makhluk)
و يطلق على اللف ظ المنزل على سيدنا محمد صلى الله عليه و سلم و يسمى أيضا القرآن و هذا الإطلاق حقيقي لا مجازي
Dan yang ke dua adalah istilah Kalam Allah diucapkan buat lafadz-lafadz yang diturunkan atas Junjungan kita Nabi Muhammad sholla Allahu ‘alaihi wa sallam dan yang juga dinamai “Al-Qur an , dan ini diucapkan dengan haqiqiy bukan majaz
فمن قال إن هذه السور ليست من كلام الله يكفر
Maka barang siapa mengatakan “Surat-surat Al-Quran ini tidak termasuk Kalam Allah maka ia kufur
و كلام الله بالمعنى الأخير حادث خلقه الله تعالى فى اللوح المحفوظ وجعله دالا على ما يدل عليه كلامه القديم القائم بذاته تعالى و قد وصفه الله تعالى بالخلق في قوله إنا جعلنا قرآنا عربيا أ ى خلقناه لأن الجعل هو الخلق
Kalam Allah dengan makna yang akhir (al-lafdz al-munazzal) tersebut adalah baru yang diciptakan oleh Allah Ta’ala di al-Lauh al-mahfud dan Alloh menjadikannya menunjukkan apa yang ditunjukkan kalamNya yang qodim yang berdiri dengan dzat Alloh ta’ala. Alloh telah mensifatinya dengan mahluk dalam firmanNya yang artinya “Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Quran berbahasa arab” yakni Kami menciptakannya , karena menjadikan bermakna menciptakan
و إنما امتنع الإمام أحمد من قوله إنه مخلوق لخوفه أن يسبق فهمُ السائلين له من هذا اللف ظ المنزل على سيدنا محمد صلى الله عليه و سلم إلى الصفة القديمة القائمة بذاته تعالى فيكفروا فس د عليهم الباب و يؤخذ من صنيع
الإمام أحمد بن حنبل أنه لا يجوز لشخص أن يقول لمن فهمه قاصر لا يعرف هذا التفصيل إنه مخلوق لأن لا يسبق فهمُه إلى الصفة القديمة القائمة بذاته تعالى فإن قيل إذا كان كلامه تعالى ليس بحرف و لا صوت فكيف يفهم مع أن سيدنا موسى عليه الصلاة و السلام فهمه لم ا ناجاه على جبل طور سينآء و كذا نبينا صلى الله عليه و سلم لما خاطبه الله تعالى ليلة الإسراء فالجواب أن الله تعالى إذا أراد أن يُفهم كلامه لأحد ألقى في قلبه معناه و كلامُه تعالى القديم يُسمَع من جميع الجهات
Sedangkan Imam Ahmad tidak mau mengatakan bahwa Al-Qur an (Lafadz asy-Syarifah) adalah makhluk hanyalah karena ketakutan beliau akan terlanjurnya pemahaman orang-orang yang bertanya kepada beliau tentang lafadz yang diturunkan atas Baginda Nabi Muhammad sholla Allahu ‘alaihi sallam kepada Sifat Allah yang Qodim yang berdiri dengan Dzat Allah ta’ala maka terus mereka menjadi kafir karenanya , maka beliau (Imam Ahmad) menutup atas mereka pintu kekufuran . Dan dari apa yang diperbuat Imam Ahmad bin Hanbal dapat diambil pelajaran bahwa Tidaklah diperbolehkan bagi seseorang mengucapkan kepada orang lain yang pemahamannya pendek/kurang lagi tak mengetahui perincian ini “Sesungguhnya Al-Qur an (bi makna lafadz asy-syarifah) adalah makhluk” agar tidak terjadi pemahamannya terlanjur kepada Sifat Allah yang Qodim yang berdiri dengan Dzat Allah ta’ala . Maka jika ditanyakan “jika Sifat Kalam Allah ta’ala bukanlah huruf dan bukan suara maka bagaimana Kalam Allah ta’ala dapat difaham , padahal Nabi Musa ‘alaih ash-sholatu wa as-salam dapat memahamiNya ketika ia bermunajat kepadaNya diatas gunung Tursina , begitu pula Nabi kita Muhammad sholla Allahu ‘alaihi wa sallam ketika Allah berfirman langsung kepada beliau saat malam isro’ mi’roj ” , maka jawabnya bahwa Allah ta’ala jika menghendaki agar KalamNya dapat difaham oleh seseorang maka Allah memberikan makna KalamNya pada hati orang itu , sedangkan Kalam Allah ta’ala qodim dapat didengar dari semua arah
و الدليل على ثبوت الكلام له تعالى قوله تعالى ،،و كلم الله موسى تكليما،، و أيضا إذا لم يكن متكلما لكان أخرس و هو نقص و النقص عليه محال فثبت نقيضه و هو الكلام و إذا ثبت له الكلام استحال عليه الخرس و ما في معناه البكم الذي هو ضد الكلام
Dalil tetapnya sifat Kalam bagi Allah ta’ala adalah FirmanNya ” Dan Allah berfirman kepada Musa dengan langsung” dan juga jika Allah tidak Dzat yang berfirman niscaya Alla bisu , sedangkan bisu adalah cacat , sedangkan cacat muhal bagi Allah , maka tetaplah lawannya sifat bisu yaitu Kalam , jika telah tetap sifat Kalam maka mustahil atasNya sifat al-khoros (bisu) dan yang semakna yaitu al-bakam yang menjadi lawannya sifat al-Kalam









One Comment