10. Hayat
الصفة العاشرة الواجبة له تعالى الحياة و هي صفة له تعالى أزلية موجودة تصحح لمن قامت به الإدراكَ ا ى تصحح له أن يكون مدركا للأشياء ا ى عالما بحقيقتها و سميعا بها و بصيرا بها
Sifat yang ke sepuluh yang wajib bagi Allah ta’ala adalah sifat Hayat/hidup , sifat hayat adalah sifat bagi Allah ta’ala yang bersifat azali/tanpa mula , maujud/ada , yang mengesahkan penemuan bagi orang yang sifat berdiri dengannya yakni mengesahkan baginya bahwa ia menemukan sesuatu yakni bahwa ia mengetahui hakikatnya , mendengarnya dan melihatnya
و حياته تعالى ليست بروح بل حياته لذاته ا ى من غير واسطة شيئ زائد عليها كالروح فلذا لا يعتريه الموت بخلاف حياة الحوادث فإنها بشيئ زائد على ذواتها و هو الروح فلذا يعتريه الموت
Sifat hayat/hidup Allah tidak dengan ruh/nyawa , akan tetapi hayat Allah karena DzatNya yakni tanpa perantara sesuatu tambahan dari (Dzat)nya seperti ruh/nyawa , maka karena itu Allah tidak kedatangan kematian , berbeda dengan hidupnya makhluk karena hidupnya makhluk dengan sesuatu tambahan dari dzatnya yaitu ruh/nyawa , maka karena itu makhluk kedatangan/mengalami kematian
و حياته تعالى ليست متعلقة بشيئ و هي سبب في صفات المعاني يلزم من وجودها وجود صفات المعاني ما عداها و من عدمها العدم
Sifat hayat (hidup) Allah ta’ala tidak tergantung dengan sesuatu , hidup Allah adalah sebab dalam sifat-sifat ma’aniy , dari adanya sifat hayat tetaplah adanya sifat-sifat ma’aniy selain sifat hayat dan dari tiadanya sifat hayat tetaplah tiadanya sifat-sifat ma’aniy
و الدليل على ثبوت الحياة له تعالى وجود العالم
Dalil atas tetapnya sifat hayat/hidup bagi Allah ta’ala adalah wujud/adanya alam semesta
و تركيبه أن تقول إذا لم يكن حيا لكان ميتا و لو كان ميتا لانتفى عنه جميع صفات المعاني و لو انتفى عنه جميع صفات المعاني لم يوجد شيء من العالم لكن عدم وجود شيء من العالم باطل لأنه خلاف الحس و العيان فبطل ما أد ى إليه و هو انتفاء صفات المعاني و ثبتت له و إذا ثبتت له صفات المعاني ثبتت له الحياة لأن القادر المريد إلى آخر صفات المعاني لا بد أن يكون حيا و إذا ثبتت له الحياة استحال عليه الموت الذ ي هو ضد الحياة
Tarkib/susunan dalilnya adalah ucapanmu “Jika Allah tidak hidup maka Allah mati , jika Allah mati maka tiadalah dariNya semua sifat-sifat ma’aniy , jika tiada dariNya sifat-sifat ma’aniy maka tidak ditemukan sesuatu dari alam semesta ini , akan tetapi tiadanya sesuatu dari alam semesta ini batal karena menyelisihi perasaan dan kenyataan , maka batallah apa yang menyampaikan kepada tiadanya sesuatu dari alam semesta yaitu tiadanya sifat-sifat ma’aniy dan tetaplah adanya sifat-sifat ma’aniy bagi Allah , jika telah tetap adanya sifat-sifat ma’aniy bagi Allah maka tetaplah adanya sifat hayat bagiNya , karena Dzat yang maha kuasa lagi maha menghendaki dst haruslah maha hidup , jika telah tetap adanya sifat hayat bagi Allah maka mustahillah atasnya sifat maut/mati yang mana sifat maut/mati adalah lawannya sifat hayat









One Comment