Kitab Tauhid

Kitab Fathul Majid Terjemahan Indonesia

5. Qiyamuhu Bi Nafsihi

الصفة الخامسة الواجبة له تعالى القيام بالنفس أ ى الذات و معناه أن ذات الله تعالى غنية عن محل أى ذات يقوم بها و غنية أيضا عن مخصص أ ى موجد لأنه تعالى الموجد للأشياء

sifat yang ke lima yang wajib bagi Allah ta’ala adalah al-qiyam bin nafsi yakni al-qiyam bi dz-dzat , maknanya sesungguhnya Dzat Allah ta’ala tidak butuh dari mahal/tempat yaitu dzat yang mana Allah berdiri dengannya dan Allah tidak butuh dari mukhossish yaitu yang mewujudkan karena Allah ta’ala adalah Dzat yang mewujudkan/ mengadakan perkara/makhluk-makhlukNya

والدليل على أنه تعالى قائم بنفسه أن تقول لو كان تعالى محتاجا إلى محل أى ذات يقوم بها كما افتقر البياض للذات التي يقوم بها لكان صفة كما أن البياض الذي افتقر إلى الذات صفة و الله تعالى لا يصح أن يكون صفة لانه تعالى متصف بالصفات و الصفة لا تتصف بالصفات فليس الله بصفة و لو افتقر إلى مخصص اى مو جد يوجده لكان حادثا و يفتقر إلى محدث و يلزم الدور او التسلسل و كل منهما محال لما تقدم من وجوب القدم له تعالى فثبت المطلوب و هو قيامه تعالى بنفسه و إذا ثبت له القيام بالنفس استحال عليه الإفتقار إلى المحل و المخصص الذي هو ضد القيام بالنفس

Dalil bahwa Allah ta’ala adalah Dzat yang berdiri sendiri

adalah engkau ucapkan : Jika Allah ta’ala hajat/butuh kepada mahal/tempat yaitu dzat yang mana Allah berdiri dengannya seperti butuhnya warna putih kepada dzat yang mana warna putih tadi berdiri dengannya maka Allah adalah sifat sebagaimana warna putih yang juga butuh kepada dzat juga sifat adalah sifat , padahal Allah tidaklah sah jika Dia adalah sifat , karena Allah ta’ala bersifat dengan sifat-sifat padahal sifat tidaklah disifati dengan sifat-sifat maka tidaklah Allah adalah sifat , Jika Allah membutuhkan kepada mukhoshshish yaitu muujid/ pencipta yang mengadakan maka Allah adalah baru/ makhluk dan butuh kepada muhdits/ yang membarukan/ menjadikannya baru , dan lazimlah/ tetaplah daur (berputar) dan tasalsul (berantai tanpa ujung) padahal keduanya (daur dan tasalsul) adalah perkara muhal/tidak mungkin karena alasan yang telah lalu yaitu wajibnya qidam bagi Allah ta’ala , maka tetaplah apa yang dicari yaitu sifat qiyamuhu ta’ala bi nafsihi /berdirinya Allah dengan DzatNya sendiri , maka jika telah tetap sifat al-qiyamm bi nnafsi maka mustahillah atas Allah sifat iftiqor (membutuhkan) kepada mahal (tempat) dan mukhoshshish (pencipta) yang mana sifat iftiqor ini adalah lawannya sifat qiyamuhu bi nafsihi

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker