Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Nurud Dholam Lengkap

Selanjutnya Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya: Sebelum Hijrah, Nabi melakukan Isra dari Makkah di malam hari ke Baitiqudsi Setelah Isra, Beliau naik ke langit hingga Nabi melihat Tuhan bercakap-cakap tanpa dibahas bagaimana bercakap-Nya dan mewajibkan lima kali salat fardhu yang asalnya lima puluh

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Maksud bait-bait di atas adalah bahwa wajib atas setiap mukallaf untuk mengitikadkan bahwa Allah Taala telah memuliakan Nabi-Nya sallallaahu alaihi wasallam dengan perjalanan Isra dan Mi’raj di malam hari, sekitar empat jam, tiga jam atau kurang sedikit dari itu.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa ketika Beliau pulang dari Isra Mi’raj itu, Khadijah masih belum bergeser dari sisinya.

Dan dalam riwayat lain disebutkan bahwa, ketika Beliau pulang dari perjalanan tersebut, tempat tidurnya masih hangat.”

Peristiwa Isra Mi’raj ini terjadi pada malam Senin, atau Jumat atau Sabtu, ada beberapa pendapat.

Dan bulannya adalah bulan Ramadan, Syawwal, Rajab, Dzulhijjah, Rabi ulawwal atau Rabi utstsani, ada beberapa pendapat pula.

Sedangkan tahunnya adalah tahun kelima, atau kesepuluh, atau kesebelas, atau kedua belas sesudah Beliau diangkat menjadi nabi, menurut beberapa pendapat.

Tetapi yang paling masyhur adalah pada malam Senin tanggal 27 Rajab, satu tahun sebelum Beliau hijrah ke Madinah, perjalanan Isra dari Mekah ke Baitulmagdis dengan menunggang Buraq. Jibril berada di sebelah kanan Beliau dan Mikail di sebelah kiri Beliau.

Albarzanji menyatakan di dalam syairnya, yang maksudnya: “Allah Taala telah memperjalankan Sayyidina Muhammad sallallaahu alaihi wasallam dari Mekah pada malam hari menuju masjid Al Aqsha, untuk menyaksikan Dzat Allah Taala.”

Buraq adalah hewan berkaki empat, bukan jantan dan bukan betina. Ia lebih kecil sedikit dari baghal dan lebih besar daripada keledai.

Jika berjalan, ia letakkan kakinya ke depan sepanjang mata memandang, kemudian dilangkahkannya kaki belakangnya mengikuti gerakan kaki depannya.

Dan ini lebih cepat daripada terbang. Ia selalu menggerakkan telinganya karena kehebatan dan kekuatannya.

Jika naik gunung, maka kaki belakangnya menjadi lebih panjang, dan kalau menuruni gunung maka kaki depannyalah yang lebih panjang.

Ini merupakan keistimewaan Nabi kita Muhammad sallallaahu alaihi wassallam, dan belum pernah terjadi pada nabi-nabi sebelumnya yang pernah menungganginya. Ia dinamakan Buraq karena cepat larinya laksana kilat menyambar.

Setelah Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam tiba di masjid Al Aqsha, Beliau meninggalkan Buraq tersebut dalam keadaan terikat di sebongkah batu yang dahulunya pernah menjadi tempat duduk Nabi Daud dan Nabi Sulaiman alaihimassalam, menunggu

Beliau kembali dari naik ke langit untuk ditungganginya kembali pulang ke Mekah.

Ini adalah riwayat yang masyhur menurut orang-orang yang ahli tentang keadaan Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam.

Adapun kisah Mi’raj yang diriwayatkan oleh Bukhari adalah bahwa Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam naik bersama Buraq jitu dari batu tersebut hingga ke suatu tempat yang dikehendaki oleh Allah.

Sebelum naik ke langit, Beliau sempat salat dua rakaat dari menjadi imam atas seluruh nabi dan rasul alaihimussalam di Baitulmagdis.

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa, Isra adalah perjalanan Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam dari masjid Alharam di Mekah ke masjid Al Aqsha di Palestina.

Dan Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam menembus tujuh petala langit hingga berakhir di Arsy.

Kedua perjalanan tersebut dilakukan oleh Baginda dengan jasad dan ruhnya, dalam keadaan jaga bukan tidur (mimpi), satu kali jalan di malam yang sama.

Demikian menurut pendapat Jumhur ulama ahli hadis, ahli fikih dan ahli kalam. Dan beritanya telah mencapai derajat mutawatir yang sahih, sehingga tidak boleh berkeyakinan lain dari itu.

Ada yang mengatakan bahwa perjalanan Isra dan Mi’raj itu satu kali di kala jaga dan satu kali di kala tidur,

ada pula yang mengatakan bahwa Isra itu di suatu malam dan Mi’raj di malam yang lain: dan ada yang mengatakan Isra dalam keadaan jaga dan Mi raj dalam keadaan tidur, ada pula yang mengatakan perbedaan pendapat itu hanya dalam masalah Mi’raj di kala jaga atau tidur,

dan ada pendapat lainnya, yaitu Isra itu dua kali dalam keadaan jaga, yang pertama tidak dengan Mi’raj, sedangkan yang kedua kalinya dengan Mi raj.

Perjalanan Isra itu telah pasti adanya berdasarkan dalil Alquran dan hadis Nabi sallallaahu alaihi wasallam, — maka barangsiapa mengingkarinya, ia menjadi kafir.

Sedangkan Mi’raj itu berdasarkan hadis-hadis yang masyhur, orang yang mengingkarinya tidak kafir tetapi hanya fasik. Demikian dikatakan oleh Bajuri.

Ringkasan Kisah Isra Dan Mi’raj

Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam didatangi oleh malaikat Jibril dan Mikail serta malaikat ketiga yang tidak diketahui namanya, ada yang mengatakan namanya Ismail, yaitu malaikat penjaga langit dunia, dan ada pula yang mengatakan ia adalah Israfil.

Mereka datang ke kampung Abithalib atau rumahnya atau rumah Ummi Hani, demikian ada beberapa riwayat.

Dari riwayatriwayat itu dapat dikatakan, bahwa mereka datang menemuinya di rumah Ummi Hani di kampung Abithalib.

Malaikat mengeluarkan Beliau dari sana lalu membawanya ke masjid. Mereka baringkan Beliau sebentar di tembok Kakbah, karena Beliau masih mengantuk.

Kemudian setelah benar-benar jaga mereka lalu mengeluarkannya dan membelah dadanya serta membasuh hatinya.

Kemudian mereka menaikkannya ke atas Buraq lalu membawanya pergi sampai ke Baitilmaqdis.

Selama dalam perjalanan itu, Beliau banyak menyaksikan hal-hal yang aneh dan menakjubkan.

Dalam salah satu riwayat disebutkan, bahwa Jibril alaihissalam ikut bersama Beliau menunggang Buraq.

Beliau sallallaahu alaihi wasallam melalui kota Madinah, lalu Jibril menyuruhnya turun dan salat di sana dua rakaat. Juga ketika tiba di Madyan, Jibril menyuruhnya turun dan salat dua rakaat.

Dan ketika tiba di Baitlahem, tempat kelahiran Nabi Isa alaihissalam, Jibril pun menyuruhnya turun dan salat dua rakaat.

Ketika Beliau tiba di Baitilmaqdis, Beliau memasuki masjid dari pintu sebelah timur. Kemudian Beliau dan Jibril melakukan salat dua tahiyatulmasjid dua rakaat.

Baru saja Beliau selesai salat, sekonyong-konyong di dalam masjid itu telah dipenuhi banyak orang, dari golongan para nabi, rasul, malaikat, manusia dan jin, dengan badan ruh mereka, ada yang hidup dan ada yang mati.

Konon, para nabi dan rasul tersebut datang dengan jasad dan ruh mereka, inilah pendapat yang kuat. Sebab para nabi itu hidup di dalam kubur mereka, mereka mengerjakan salat, berpuasa dan naik haji.

Bahkan ada pula pendapat yang mengatakan bahwa mereka juga kawin. Dan boleh jadi ada orang-orang salih yang menjadi pengikut para nabi itu ikut serta dalam pertemuan tersebut guna memuliakan Nabi kita Muhammad sallallaahu alaihi wasallam.

Nabi Muhammad sallallaahu alaihi wasallam mengenali para nabi di antara orang-orang yang berdiri salat, rukuk dan sujud itu.

Kemudian Jibril mengumandangkan azan dan igamat untuk salat. Mereka pun semuanya berdiri berbaris-baris sambil menunggu siapa gerangan yang akan menjadi imam.

Lalu Jibril memegang tangan Nabi dan membawanya ke mihrab untuk dijadikan imam. Maka Beliau pun mengimami mereka semua, salat dua rakaat.

Barisan (shaf) para rasul itu ada tiga shaf, para nabi empat shaf dan malaikat, jin dan manusia shafnya tak terhingga banyaknya.

Allah Taala meluaskan masjid itu untuk mereka demi memuliakan Nabi Muhammad sallallaahu alaihi wasallam.

Padahal asalnya satu shaf saja tidak sempurna, baik pada hari Jumat atau led, karena ia termasuk masjid yang paling besar.

Konon menurut salah satu pendapat, para nabi dan rasul itu hadir dengan ruhnya saja, berbentuk dalam rupa tubuh mereka.

Dan ada pula yang mengatakan bahwa, Allah mengangkatkan hijab (tabir gaib) antara Nabi dan mereka di dalam kubur mereka, lalu Beliau salat di masjid dan mereka di kubur mereka.

Setelah Beliau selesai salat mengimami mereka, maka Jibril lalu memasang Mi’raj yang bisa dilihat oleh orang yang sedang dicabut nyawanya.

Mi’raj itu menjadi tempat naiknya arwah orang-orang mukmin dari anak cucu Adam. Khusus untuk Nabi kita, naik dengan jasadnya, sedangkan bagi kaum mukminin hanya ruhnya saja.

Itu hanya untuk memuliakan dan mengagungkan Beliau saja, sebab bisa saja Beliau naik tanpa melalui itu.

Ujungnya, yang paling atas berada di atas langit, sedangkan yang paling bawah berada di bongkahan batu yang terdapat di Masjidil Aqsha tadi. Karena ia merupakan bagian masjid yang paling utama, sebab ia berasal dari surga.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31Laman berikutnya
Show More

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker