Dan sebagian ulama mengatakan: “Tidak ada yang mengetahui ilmu-ilmu Alquran selain dari Allah kemudian Nabi-Nya sallallaahu alaihi wasallam, kecuali yang khusus hanya Allah saja yang mengetahui ilmunya.
Kemudian ilmu-ilmu tersebut diwarisi oleh tokoh-tokoh sahabat bertingkat-tingkat sesuai dengan kedudukan mereka, seperti Sayyidina Abubakar radiyallaahu anhu, lalu Sayyidina Ali Karramallaahu anhu,
Sesuai dengan sabda Nabi sallallaahu alaihi wasallam, yang artinya: “Aku adalah kota ilmu dan Ali pintunya.” Karenanya Ibnu Abbas radiyallaahu anhuma berkata: “Semua yang aku ajarkan kepada kalian berupa ilmu tafsir dan lainnya adalah berasal dari Ali.”
Sebagian ulama berkata: “Ilmu Alquran itu terdiri dari tujuh puluh tujuh ribu empat ratus lima puluh ilmu berdasarkan jumlah kata-kata Alquran dikalikan empat.
Karena tiap-tiap kata Alquran tersebut mengandung arti lahir, batin, had dan mathla’.
Adapun makna lahir itu adalah kata-kata yang tampak artinya bagi ahli ilmu secara lahir, dan arti batin adalah yang mengandung rahasia-rahasia yang hanya diketahui oleh ahli hakikat: sedangkan had adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan halal dan haram, dan mathla’ adalah mengetahui tentang janji (wa’ad) dan ancaman (wa’iid).”
Dan sebagian ulama lagi mengatakan: “Pokok-pokok ilmu Alquran itu ada tiga, yaitu: tauhid, wa’zhun (nasihat) dan hukum. Karena itulah Alfatihah itu dinamakan Ummul Ouran, sebab ja mencakup ketiga pokok ini, sedangkan surah Al Ikhlas sama dengan sepertiga Alquran, sebab hanya mengandung tauhid saja.”
Selanjutnya Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:
Artinya: Dan suhuf Nabi Ibrahim dan Nabi Musa isinya adalah Kalam Tuhan Yang Bijaksana lagi Mengetahui
PENJELASAN:
Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Wajib (kata Syaikh Ahmad) atas setiap mukallaf mengitikadkan bahwa Allah Taala telah menurunkan suhuf kepada Nabi Ibrahim alaihissalam, dan juga kepada Nabi Musa galaihissalam sebelum diturunkannya Taurat.
Tidak wajib mengetahui jumlah suhuf keduanya secara rinci, tetapi wajib meyakininya secara global (ijmal) saja.
Karena di dalam Alquran tidak disebutkan jumlah suhuf itu secara rinci, berbeda dengan kitab yang empat yang telah dikemukakan di atas.
Keempat kitab suci tersebut ditentukan dengan nas Alquran, karena itu ia wajib diyakini secara rinci.”
Faedah:
Diriwayatkan dari hadis Abu Dzarr radiyallaahu anhu, katanya: “Saya bertanya kepada Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, apa isi suhuf Nabi Ibrahim itu?”
Beliau menjawab, ‘Isinya semuanya adalah perumpamaan, di antaranya: Hai Raja yang terpedaya dengan kedudukannya, Aku tidak mengutusmu agar mengumpulkan dunia tetapi supaya menolak doa orang yang teraniaya dari-Ku, sebab Aku tidak akan menolaknya sekalipun dari mulut seorang kafir.
Dan di antaranya pula berbunyi, ‘Orang yang berakal harus bisa mengatur waktunya, satu waktu untuk ia gunakan bermunajat kepada Tuhannya, satu waktu untuk menganalisa dirinya, satu waktu untuk memikirkan ciptaan Allah, satu waktu untuk memenuhi hajatnya seperti makan minum dan lain-lain yang halal.
Dan di antara isinya juga, “Orang yang berakal hendaknya tidak rakus kecuali dalam tiga perkara: (1) menyiapkan bekal untuk akhiratnya, (2) memperbaiki penghidupannya, (3) menikmati apa-apa yang bukan haram. ”
Dan Abu Dzarr radiyallaahu anhu bertanya juga: “Ya Rasulullah, apa isi suhuf Nabi Musa alaihissalam itu?”
Nabi sallallaahu alaihi wasallam menjawab: “Isinya semuanya nasihat, di antaranya adalah, ‘Aku heran dengan orang yang percaya akan neraka, bagaimana dia masih bisa bersenang.
Aku heran dengan orang yang percaya akan neraka, bagaimana dia masih bisa tertawa. Aku heran dengan orang yang melihat perubahan dunia bagi penghuninya, bagaimana dia masih bisa merasa tenang dengannya.
Dan Aku heran dengan orang yang percaya kepada takdir, bagaimana dia masih bisa bersusah payah, dalam riwayat lain, bagaimana dia masih bisa marah. Dan Aku heran dengan orang yang percaya akan hari penghisaban (kiamat), bagaimana dia masih tidak mau juga beramal?”
Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata :
Artinya: Semua yang diberikan oleh Rasul maka wajib kita akui dan kita terima
PENJELASAN:
Ini sesuai dengan firman Allah Taala, yang artinya: “ Apa-apa yang diberikan oleh Rasul maka terimalah dia, dan apa-apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.”









Terjemah Nurud Dholam