Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Nurud Dholam Lengkap

Sedangkan nasab ibunda Beliau adalah: Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zahrah bin Kilaab, pada Kilaab inilah bertemu nasab ayahanda dan ibunda Beliau.

CATATAN:

Ayahanda Beliau adalah Abdullah. Beliau meninggal dunia sepulang dari Ghazzah. Beliau berlayar untuk berniaga, sedangkan usia beliau saat itu adalah delapan belas tahun, ada pula yang mengatakan dua puluh tahun, dua puluh lima tahun, dua puluh delapan tahun, atau tiga puluh tahun.

Pada saat itu beliau berada dalam kandungan ibundanya dua bulan, ada yang mengatakan tujuh bulan, sembilan bulan, dan ada pula yang mengatakan beliau sudah berumur dua puluh delapan bulan. Namun yang sahih dan masyhur adalah yang pertama (2 bulan).

Ibnu Abbas radiyallaahu anhuma berkata: “Ketika Abdullah meninggal dunia, malaikat berkata, “Wahai Tuhan kami, nabi-Mu menjadi seorang anak yang yatim. Allah Taala menjawab, ‘Aku akan menjadi pemelihara dan pelindungnya. ”

Ja far Assaadig pernah ditanya tentang hikmat keyatiman Beliau itu, maka dijawabnya: “Hikmatnya adalah agar Nabi sallallaahu alaihi wasallam tidak mempunyai hak kewajiban pada seorang makhluk.”

Sedangkan Ibnul Umaad berkata: “Hikmatnya adalah agar Nabi sallallahu alaihi wasallam, jika Beliau telah sampai ke puncak kemuliaannya, memandang ke masa awalnya dan tahu bahwa kemuliaan itu berasal dari Allah Taala, dan bahwa kekuatannya bukan dari ayah atau ibu, dan bukan pula dari harta, tetapi dari Allah Taala pula.

Supaya dengan demikian, Beliau akan menyayangi orang-orang miskin dan anak-anak yatim.

Nabi sallallaahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sayangilah anak-anak yatim dan muliakanlah orang-orang rantau, karena aku semasa kecilku dahulu adalah seorang anak yatim dan setelah dewasa aku adalah seorang rantau. Sesungguhnya Allah memandang kepada orang yantau setiap hari dengan seribu pandangan.”

Nabi sallallaahu alaihi wasallam disusui oleh ibundanya selama tiga hari, ada yang mengatakan tujuh hari, dan ada pula yang mengatakan sembilan hari.

Kemudian setelah itu Beliau disusui oleh Tsuwaibah beberapa hari sebelum kedatangan Halimah Assa’diyah.

Kemudian Beliau disusui oleh Halimah binti Abi Dzuaib Abdillah bin Alharts, ada yang mengatakan Alharts bin Abdullah.

Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa, ketika Beliau dilahirkan oleh ibundanya, maka ada yang bertanya:

“Siapakah gerangan yang akan mengasuh mutiara yang sangat berharga yang tak ternilai ini?”

Burung-burung menjawab: ” Kamilah yang akan mengasuhnya dan memperoleh keuntungan dengan melayaninya.”

Binatang buas berkata: “Kamilah yang lebih pantas mengasuhnya supaya kami memperoleh kemuliaan dan mengagungkannya.”

Maka Lisanul Qudrat menjawab: “Wahai seluruh makhluk, sesungguhnya Allah telah menetapkan di dalam hikmat-Nya yang gadim bahwasanya nabi-Nya yang mulia itu akan disusui oleh Halimah binti Abi Dzuaib.”

Bajuri berkata: “Kedua orangtua Nabi selamat.” Konon Allah Taala menghidupkan keduanya lalu mereka beriman kepada Beliau, setelah itu Allah mewafatkan mereka kembali.

Hal ini berdasarkan hadis mengenai kejadian tersebut dari Urwah, dari Aisyah, bahwa Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memohon kepada Allah agar menghidupkan kembali kedua orangtuanya, lalu Allah menghidupkan keduanya, maka mereka berdua pun beriman kepada Beliau, setelah itu Allah mewafatkan mereka kembali.”

Assuhaili berkata: “Allah Maha berkuasa atas segala sesuatu. Dia berhak mengkhususkan Nabi-Nya dengan karunia yang dikehendaki-Nya dan menganugerahkan kemuliaan yang dikehendaki-Nya.”

Hadis ‘berimannya kedua orangtua Nabi’ di atas sahih menurut ahli hakikat melalui jalur kasyaf.

Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya: Beliau dilahirkan di kota Mekah yang aman dan wafat di kota Thaibah atau Madinah.

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Maksud bait di atas adalah bahwa wajib atas setiap mukallaf mengitikadkan bahwa Nabi sallallaahu alaihi wasallam dilahirkan di kota Mekah, dan diangkat menjadi rasul di kota itu pula, wafat di Madinah dan dikuburkan di situ pula.”

Beliau sallallaahu alaihi wasallam, menurut pendapat yang sahih, dilahirkan di waktu fajar, pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal, tahun Gajah, dan ada pula yang mengatakan sebelumnya.

Dan Ourthubi mengatakan, 50 hari sesudahnya. Beliau lahir dalam posisi menengadahkan pandangannya ke langit sambil meletakkan kedua tangannya ke tanah.

Kedua matanya bercelak, bersih, dan terputus tali pusarnya serta dalam keadaan sudah dikhitan.

Namun pendapat lain mengatakan, bahwa Beliau dikhitan oleh kakeknya pada hari ketujuh dari kelahirannya.

Kedua riwayat ini bisa dikompromikan bahwa, boleh jadi Beliau dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan, tetapi belum sempurna, sebagaimana yang umumnya terjadi pada bayi yang lahir sudah dikhitan, maka kakeknya lalu menyempurnakan khitannya tersebut.

Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Beliau dikhitan oleh Jibril alaihissalam ketika ia membelah dada Beliau di tempat ibu susuannya, Halimah.

Diriwayatkan bahwa, Nabi sallallaahu alaihi wasallam ketika keluar dari rahim ibunya, Beliau mengucapkan: Jalaalu Rabbii Ar-Rafii’u.

Dan ada pula yang mengatakan bahwa, Beliau mengucapkan: Allaahu akbar kabiiroo, walhamdu lillaahi katsiiraa, wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa. Dan boleh jadi keduanya digabungkan.

Riwayat yang berbeda adalah jalan keluarnya sallallaahu alaihi wasallam dari rahim ibunya.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa Beliau keluar dari jalan yang biasa, dan ada pula yang mengatakan dari bawah pusar ibunya, lalu bertaut lagi pada saat itu juga.

Yang cenderung pada pendapat terakhir ini adalah guru kami Muhammad Hasbullah.

Dan terdapat perbedaan juga dalam masalah kehamilan ibunda Beliau ketika mengandung Beliau. Ada pendapat yang mengatakan bahwa ibunda Beliau tidak merasakan terlalu berat selama mengandung

Beliau itu. Dan dalam riwayat yang terkenal bahwa ibunda Beliau tidak merasakan apa-apa sama sekali.

Kedua riwayat ini dapat dikompromikan bahwa yang pertama itu di permulaan kehamilannya, sedangkan yang kedua di akhir kehamilannya, supaya terjadi perbedaan dengan kebiasaan,

sehingga diketahui bahwa seluruh keadaan Beliau sallallaahu alaihi wasallam itu menyalahi adat kebiasaan, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hajar bahwa, Aminah ibunda Nabi sallallaahu alaihi wasallam berkata:

“Setelah genap sembilan bulan, saya merasakan seperti apa yang dirasakan oleh kaum wanita saat mendekati kelahiran.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui keadaan saya. Saya hanya sendirian di rumah. Abdulmutthalib sedang tawaf, beliau tidak tahu akhir kehamilan saya.

Saat itu saya melihat sekawanan burung, paruhnya laksana mira delima. Burung-burung tersebut menutupi kamar saya dengan sayap-sayap mereka yang seperti zamrud hijau.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31Laman berikutnya
Show More

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker