Selanjutnya Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:
Artinya: Abubakar Assiddiq telah selamat dengan membenarkan Beliau dalam masalah Isra Mi’raj yang cocok dengannya.
PENJELASAN:
Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Maksud bait di atas adalah wajib atas setiap mukallaf untuk mengitikadkan bahwa Abubakar telah beruntung dan selamat berkat pembenarannya terhadap berita Isra dan Mi raj yang diberitakan oleh Nabi sallallaahu alaihi wasallam.
Dia adalah orang yang pertama-tama sekali membenarkan Nabi dalam perkara Isra Mi’raj tersebut. Karena itulah, ia lalu dijuluki Assiddiq.
Namanya adalah Abdullah. Ia adalah seorang sahabat dan putera seorang sahabat. Abubakar adalah julukannya, demikian dikatakan oleh guru kami Yusuf.
Dan Ibnu Oadhi Ajalun mengatakan bahwa, Abubakar telah membenarkan Nabi sallallaahu alaihi wasallam dalam setiap perkataan Beliau.
Dia selalu langsung membenarkan Nabi sallallaahu alaihi wasallam, dan tidak pernah ragu satu kali pun, karena itulah ia dijuluki Assiddiq.
Ada sedikit perbedaan pendapat dalam masalah namanya, ada yang mengatakan namanya adalah Atiiq, tetapi yang benar adalah Abdullah, dan Atiq adalah gelarnya, sebab ia terlepas (atiiqun) dari api neraka.”
Muhammad Ilyas berkata: “Abubakar adalah Abdullah bin Utsman bin Abi Oahafah, ini menurut pendapat yang masyhur.”
Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:
Artinya: Ini adalah akidah singkat mudah dipahami oleh orang awam
PENJELASAN:
“Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Maksud bait ini adalah bahwa kalimat-kalimat dalam untaian bait ini dari awal hingga akhir akidah merupakan kalimat yang singkat padat namun luas maknanya, sehingga mudah dipahami dan dihafalkan, serta tidak sulit diucapkan oleh orang awam sekalipun.”
Selanjutnya Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:
Artinya: ” ” Penyusun akidah tersebut ialah Ahmad Almarzuqi yang nasabnya sampai kepada Asaadiqil Mashduuqi
PENJELASAN:
Penyusun kitab Agidatul Awam ini ialah Syaikh Ahmad Almarzuqi. Almarzuqi adalah julukan nasabnya sampai kepada Al Arif billah Assayyid Marzuug Alkafaafi, yang nasabnya sampai kepada Nabi sallallaahu alaihi wasallam.
Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Penyusun kitab ini telah menyusun pula syarahnya dengan judul Tahshiilu Linailil Maraam, dan saya pun telah membahas kitab tersebut dalam buku tersendiri, sekalipun saya sebenarnya bukan ahlinya, namun sekedar untuk memperoleh doa beliau yang mustajab.
Karena itulah, apabila Anda menemukan dalam kitab ini sesuatu yang berbeda dengan tulisan penyusun, harap Anda memakluminya.
Imam Suyuthi rahimahullah berkata: “Pemilik rumah lebih mengetahui akan barang-barang yang ada di dalam rumahnya.”
Sebagian besar ulama mengatakan bahwa kebenaran itu lebih pantas untuk diikuti.
Maka saya harap agar Anda membetulkan kesalahan saya dengan kebenaran beliau, berikanlah kepada sesuatu yang pantas untuknya.
Imam Ali Karramallaahu wajhah berkata: ‘Jangan memandang kepada orang yang berkata, tetapi pandanglah apa yang dikatakannya.
Maksudnya, jika Anda mendengar suatu perkataan, maka jangan melihat kepada keadaan orang yang berkata itu, tetapi lihatlah apa isi perkataannya.
Sebab kemungkinan ada orang bodoh yang mengeluarkan perkataan yang baik, dan mungkin pula seorang yang terhormat mengeluarkan perkataan yang keji.”
Selanjutnya Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:
Artinya: Segala puji bagi Allah dan salawat serta salam tercurah kepada Nabi, sebaik-baik orang yang mengajar juga kepada keluarga, sahabat dan semua mursyid dan kepada semua orang yang mengikuti kebaikan petunjuk
PENJELASAN:
Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Karena selesainya penyusunan kitab ini merupakan suatu nikmat yang tak terhingga, maka penyusunnya memanjatkan pujian ke hadirat Allah sebagaimana yang dilakukannya di awal penyusunan kitab ini.
Seakan-akan Syaikh Ahmad hendak mengatakan, ‘Saya memanjatkan pujian kepada Allah karena telah memberikan kemampuan kepada saya untuk menyelesaikan penulisan kitab ini sebagaimana Dia telah memberikannya pada awal penulisan kitab ini.
Dan juga berdasarkan sebuah hadis yang artinya: ‘Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majlis tanpa menyebut asma Allah dan tanpa bersalawat kepada Rasulullah, melainkan mereka akan menderita kekurangan.
Jika Allah menghendaki, niscaya Dia menyiksa mereka, dan jika Dia menghendaki, niscaya Dia mengampuni mereka. (Diriwayatkan oleh Attirmidzi dan Ibnu Hajah).
Dan dalam riwayat lain disebutkan: … niscaya mereka akan menyesal di hari kiamat kelak, sekalipun mereka masuk surga.”
Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:
Artinya: Saya memohon kepada Allah Yang Maha Pemurah ikhlas dalam amal | dan semoga bermanfaat bagi setiap orang yang mempelajarinya
PENJELASAN:
Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Ketahuilah bahwa ikhlas itu ada tiga tingkatan, (pertama) Anda menyembah Allah atau beramal dengan suatu amal bukan karena menginginkan pahala atau menghindari siksa, namun semata-mata karena Dia adalah Tuhan Anda dan Anda adalah hamba-Nya. Ini tingkatan yang paling tinggi.
(Kedua) Anda menyembah Allah atau berbuat taat kepada-Nya karena mencari: pahala atau takut siksa, atau karena menginginkan surga dan takut neraka. Ini adalah tingkatan pertengahan.
(Ketiga) Anda menyembah-Nya karena ingin memperoleh kemuliaan dengan dikaitkannya nama Anda kepada-Nya, seperti kalau dikatakan, “Anda Abid’ atau “Anda seorang salih”, atau karena ingin memperoleh materi keduniaan, seperti kalau Anda membaca surah Alwagi’ah supaya kaya, dan sebagainya. Ini adalah tingkatan yang terendah.
Selain yang tiga ini adalah beramal karena riya (ingin dipuji) atau sum’ah (ingin populer), maka ini adalah haram, karena ketiadaan ikhlas.
Fudhail bin Iyaadh berkata: “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah bebas dari keduanya itu.”
Selanjutnya Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:
Artinya: Jumlah bait-baitnya mayzun dengan hitungan jumal tanggalnya lii hayyun ghurra dengan jumal
PENJELASAN:
Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Maksudnya adalah, jumlah bait-bait akidah ini adalah 57 bait sesuai dengan jumlah huruf mayzun ( ), huruf mim ( )40, huruf ya’ ( )10, dan huruf zai ( )7, semuanya 57. Sedangkan selesai penulisan naskah ini adalah pada tahun 1258, sesuai dengan jumlah huruf lii hayyun ghurrin ( )









Terjemah Nurud Dholam