Azrail Alaihissalam
Azrail alaihissalam bertugas mencabut nyawa seluruh makhluk yang bernyawa, yakni mengeluarkan nyawa dari tempatnya di dalam tubuh sekalipun nyawa kutu dan nyamuk, sebagaimana yang dikatakan oleh ahlul hag.
Berbeda dengan pendapat kaum Mu’tazilah yang mengatakan bahwa malaikat Azrail itu hanya mencabut nyawa jin dan manusia, sedangkan yang lainnya seperti, malaikat dan burung, tidak.
Dan berbeda pula dengan pendapat ahli bidah yang mengatakan bahwa malaikat Azrail itu tidak mencabut nyawa hewan, tetapi yang mencabutnya adalah pembantu-pembantunya. Demikian disebutkan oleh Bajuri.
Azrail alaihissalam adalah malaikat yang sangat besar dan menakutkan bila dipandang. Kepalanya berada di langit yang paling tinggi dan kakinya berada di bumi yang paling bawah.
Wajahnya menghadap ke arah Lauh Mahfuzh. Seluruh makhluk berada di depan kedua matanya. Dia mempunyai pembantu sebanyak jumlah yang mati.
Dia bersikap ramah kepada orang mukmin. Dia datang dengan rupa yang baik. Berbeda sikapnya terhadap orang yang kafir.
Malaikat Faatinuun itu ada dua, yaitu: Munkar dan Nakir.
Munkar dan Nakir Alaihissalam
Mereka berdua adalah malaikat yang hitam. Mereka menerobos ke dalam bumi dengan taring-taring mereka. Rambut mereka terurai sampai ke tanah. Mata mereka laksana kilat yang menyambar.
Dalam salah satu riwayat disebutkan bahwa, mata mereka biru seperti periuk belanga dan suara mereka ibarat guruh yang menggelegar.
Jika keduanya berbicara maka dari mulut mereka keluar nyala api yang menyambar. Taring-taring mereka seperti tanduk kerbau dan napas mereka seperti angin ribut, dalam riwayat lain seperti nyala api.
Di dalam genggaman tangan mereka terdapa, palu qodam dari besi, yang jika seluruh jin dan manusia berkumpul untuk mengangkatnya niscaya tidak akan mampu mengangkatnya.
Jika palu qodam tersebut dipukulkan ke gunung maka seketika itu juga ia akan rata dengan tanah Kedua malaikat ini bertugas untuk mengajukan pertanyaan kepada jin dan manusia, baik orang-orang mukmin, munafik maupun orang-orang kafir.
Waktunya adalah sesudah sempurna dikubur dan orang-orang yang mengantar sudah kembali pulang. Pada saat itulah Allah Taala mengembalikan ruh ke dalam jasad seluruhnya, sebagaimana pendapat jumhur ulama.
Sedangkan Ibnu Hajar mengatakan, hanya bagian atas badan saja. Keliru sekali orang yang mengatakan bahwa pertanyaan itu hanya ditujukan kepada badan saja tanpa ruh, atau hanya kepada ruh tanpa badan.
Namun, sekalipun ruh tersebut dikembalikan ke dalam badan, maka ini tidak menafikan kemutlakan sebutan mayit padanya, karena kehidupannya saat itu bukanlah kehidupan yang sempurna, tetapi tengah-tengah antara mati dan hidup, layaknya orang yang berada dalam kondisi tidur dan jaga.
Juga pada saat itu dikembalikan pancainderanya, akalnya dan ilmunya, sehingga ia dapat memahami pertanyaan yang diajukan kepadanya dan menjawabnya. Demikian disebutkan oleh Bajuri.
Jasad seseorang yang sudah terkoyak-koyak dikumpulkan kembali. Si mayit akan didudukkan lalu kedua malaikat tersebut mengajukan pertanyaan dengan cara yang kasar sambil membentaknya dengan keras. Demikian dikatakan oleh Alghazali.
Konon terhadap orang mukmin mereka bersikap lembut, sedangkan terhadap orang kafir dan munafik kasar. Keduanya bertanya kepada setiap manusia dengan bahasanya masing-masing.
Mereka bertanya: “Siapa Tuhanmu?”, “Apa agamamu?”, “Siapa nabimu?”, “Apa kiblatmu?”, “Siapa saudaramu?”, “Apa imammu?”, “Apa pedomanmu?”,” Apa amalmu?”
Barangsiapa ditetapkan Allah dengan perkataan yang mantap, maka ia akan menjawab dengan lancar. “Siapa yang mewakilkanmu kepadaku?”, “Siapa yang mengutusmu kepadaku?” ucapan seperti ini hanya akan dikatakan oleh para ulama dan orang-orang salih.
Lalu salah satu dari malaikat itu berkata kepada yang lain: “Ia berkata benar. Ia telah selamat dari kejahatan kita.”
Adapun orang mukmin biasa, ia akan menjawab: “Tuhanku adalah Allah Yang Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Islam adalah agamaku, Muhammad nabiku, dan Beliau adalah penutup nabi-nabi: Kakbah adalah kiblatku: kaum mukminin adalah saudara-saudaraku, Alquran adalah imamku, Sunnah nabi adalah pedoman hidupku, Aku membaca Kitab Allah, dan aku mempercayai dan membenarkannya.”
Jika pertanyaan mereka bisa dijawab, maka kedua malaikat itu akan mengatakan: “Engkau benar. Sekarang tidurlah dengan tenang layaknya seorang pengantin, yang tidak dibangunkan kecuali oleh orang yang dicintainya.”
Dan di dalam riwayat bukhari dan Muslim disebutkan bahwa, kedua malaikat itu akan bertanya kepada si mayit: “Apa yang kau katakan tentang nabi ini, Muhammad sallallaahu alaihi wasallam?” Si Mukmin akan menjawab: “Aku bersaksi bahwa beliau adalah hamba Allah dan utusan-Nya.”
Sedangkan orang-orang kafir dan munafik, mereka menghadapi pertanyaan kedua malaikat itu dengan tubuh gemetar ketakutan seraya berkata: “Ah… ah..saya tidak tahu.”
Keadaan orang-orang yang mendapat pertanyaan di dalam kubur itu bermacam-macam. Ada orang yang ditanya oleh kedua malaikat tersebut dengan lengkap sebagai hukuman atas mereka.
Ada yang ditanya oleh salah satu saja darj keduanya sebagai keringanan untuknya. Dan cara soal jawah itu pun berbeda-beda, ada orang yang ditanya mengenai sebagian itikadnya saja, ada pula yang ditanya seluruhnya.
Ibnu Abbas radiyallaahu anhuma berkata: “Mereka akan ditanyai tentang dua kalimat syahadat.”
Ikrimah radiyallaahu anhu berkata: “Mereka akan ditanyai tentang iman kepada Muhammad sallallaahu alaihi wasallam dan masalah tauhid.”
Apabila mati sekelompok orang di beberapa tempat yang berbeda, maka mereka semua akan ditanya pada waktu yang sama, tidak ada kesulitan dalam hal tersebut.
Algurthubi berkata: “Boleh jadi tubuh mereka membesar lalu keduanya mengajukan pertanyaan kepada banyak orang sekaligus.”
Sedangkan Imam Suyuthi berkata: “Boleh jadi malaikat yang bertugas demikian berbilang jumlahnya sebagaimana malaikat hafazhah dan yang serupa.”
Pertanyaan dalam kubur itu, khusus bagi mukallaf walaupun ia dari golongan jin, selain malaikat.
Golongan mukallaf yang dikecualikan dari pertanyaan dalam kubur itu adalah para nabi, orang-orang siddig, orang-orang yang mati syahid, orang-orang yang membiasakan membaca surah Tabarak atau surah Assajdah tiap-tiap malam, dan orangorang yang membaca surah Al Ikhlas di dalam sakit yang membawa matinya.
Kedua malaikat tersebut dinamakan Munkar dan Nakir karena mereka tidak mirip bentuknya dengan manusia, atau malaikat, atau burung, atau hewan, atau serangga, tetapi bentuk mereka sangat mengagumkan, lain dari yang lain.
Allah menjadikan mereka sebagai peringatan bagi orang yang beriman dan penggentar bagi orang yang kafir. Rupa mereka sama sekali tidak menyenangkan bagi orangorang yang memandangnya.
Andaikata orang-orang kafir itu tidak mendapatkan azab lain selain dari memandang wajah keduanya, niscaya itu sudah cukup buat menyiksa mereka.
Bahkan itu merupakan azab terbesar. Karena dengan memandang wajah keduanya itu akan timbul rasa gentar dan takut yang sangat.
Dan malaikat haafizhuun itu ada dua macam: (1) malaikat yang bertugas menjaga seorang hamba dari marabahaya, (2) malaikat yang bertugas mencatat apa-apa yang timbul dari seorang hamba, baik perkataan, perbuatan maupun keyakinan.
Malaikat yang menjaga dari marabahaya itu ada sepuluh di malam hari dan sepuluh di siang hari.









Terjemah Nurud Dholam