Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Nurud Dholam Lengkap

Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi berkata:

Artinya:

Allah adalah Dzat Yang Maujud, Dahulu dan Kekal Berbeda dengan makhluk secara mutlak

Berdiri sendiri, Esa dan Hidup Mahakuasa, Berkehendak, dan Maha mengetahui atas segala sesuatu

Maha Mendengar, Melihat dan Berbicara Dan Dia juga mempunyai tujuh sifat yang teruntai dalam satu bait.

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Jika Anda ingin mengetahui sifat dua puluh itu (kata Syaikh Ahmad), maka aku katakan, “Allah itu Ada ….” hingga akhir bait.”

Wujud (Ada) itu merupakan perkara yang berkaitan dengan pikiran yang dipikirkan oleh orang yang terpikir di dalam pikirannya.

Misalnya baju, jika ia ada di dalam peti, kemudian ia dikeluarkan dari peti tersebut, maka bersifatlah ia dengan sifat tampak.

Maka sifat tampak di sini bukan sifat tambahan dari baju itu, hanya akal menilainya sebagai sifat tambahan.

Inilah yang ditegaskan oleh para ulama dari perkataan Asy’ari radiyallaahu anhu. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya: “Tidak ada tuhan selain Aku.”

Di samping itu, wujudnya Allah itu tidak sama dengan wujudnya makhluk.

qidam (Dahulu) artinya tiada permulaan bagi wujudnya Allah Taala. Allah tidak menciptakan diri-Nya dan tidak pula diciptakan oleh yang lain. Allah berfirman, yang artinya: “Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.”

Baga’ (Kekal) artinya tiada kesudahan bagi wujudnya Allah Taala. Allah berfirman, yang artinya: “Dan Kekal Dzat Tuhanmu, (Ya Muhammad), Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan.”

Mukhalafatun lilhawaaditsi (tidak sama dengan makhluk) artinya bahwa Allah tidak sama dan tidak serupa dengan semua yang baru.

Dia tidak berdaging dan tidak bertulang: tidak tinggi dan tidak pendek serta tidak sedang.

Allah Taala adalah Dzat yang tidak serupa sama sekali dengan sifat-sifat makhluk.

Apa yang terlintas dalam pikiran Anda berkaitan dengan sifat-sifat makhluk, maka Anda tidak boleh meyakini bahwa pada Dzat Allah ada salah satu dari sirat-sifat tersebut.

Dia tidak bertempat, tidak masuk dalam dunia dan keluar darinya.

Allah Taala berfirman, yang artinya: “Dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.” Dan firman-Nya, yang artinya: “Dia tidak sama seperti apa pun juga.”

Ketidaksamaan Allah dengan makhluk ini tanpa kecuali, dalam arti bahwa Allah berbeda dengan makhluk dalam segala hal. Jadi bukan berarti tidak sama dalam satu sisi tetapi sama dalam sisi yang lain. Mahasuci Allah dari hal tersebut.

Kiyaamuhu binafsihi (berdiri sendiri) artinya bahwa Allah Taala tidak membutuhkan kepada tempat dan ruang untuk berdiri, tidak seperti benda yang membutuhkan tempat dan ruang.

Dan Dia tidak membutuhkan kepada yang mengadakan, karena Dia tidak tercipta dari yang lain, tidak seperti benda yang diciptakan olehNya. Ketidakbutuhan Allah kepada yang lain itu adalah mutlak.

Allah Taala berfirman, yang artinya: ” Dan tunduklah semua wajah (dengan merendah diri) kepada Tuhan Yang Hidup Kekal lagi senantiasa mengurus makhluk-Nya.”

Wahdadiyyah (Esa) artinya tiada berbilangan dalam Dzat, sifat dan . Dzat Allah tidaklah tersusun dari beberapa  bagian, dan tidak ada pada diri makhluk dzat yang seperti DzatNya Allah.

Karena makhluk itu merupakan jisim yang tersusun dari beberapa bagian, sedangkan Tuhan kita tidaklah demikian.

Dan sifat Allah tidak berbilang dari satu jenis yang sama, seperti dua kekuasaan atau dua kehendak, namun Dia mempunyai satu kekuasaan mutlak, yang dengan kekuasaan tersebut Dia bisa mengadakan dan meniadakan sesuatu.

Tidak seorang pun mempunyai sifat seperti sifat-Nya Allah Taala, dan tidak satu pun yang bisa memberikan pengaruh dalam salah satu perbuatannya, namun Allah-lah yang mengadakan perbuatan seluruhnya.

Dia menciptakan perbuatan taat, maksiat, manfaat, mudarrat, kaya dan miskin. Bukannya api yang membakar, pisau yang memotong dan makanan yang mengenyangkan, tetapi Allah sendiri yang menciptakan semua perbuatan itu.

Hanya Allah dengan kehendakNya telah menjadikan sesuatu itu menjadi sebab timbulnya sesuatu yang lain (seperti api menjadi sebab timbulnya panas atau terbakar, pisau menjadi sebab terpotongnya sesuatu, dan makanan menjadi sebab kenyang), karena itu bisa saja (kalau dikehendaki Allah) api tidak membakar (seperti yang dialami oleh Nabi Ibrahim alaihissalam).

Allah Taala berfirman, yang artinya: ” Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”

Hayat (Hidup Kekal) adalah sifat yang mensahkan bagi Dzat yang berdiri dengannya untuk mengetahui dan berkemampuan. Allah Taala berfirman, yang artinya: ” Bertawakkallah kepada Dzat Yang Hidup, Yang tidak mati.”

Qudrat (Kuasa) adalah sifat yang mensahkan bagi Dzat yang bersifat dengannya untuk berbuat atau tidak berbuat. Allah Taala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Allah Maha berkuasa atas Segala sesuatu.”

Iradah (berkehendak) adalah sifat yang menghendak: pengutamaan dari salah satu dua kebolehan atas yang lain

Allah Taala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Tuhanmu melakukan apa yang Dia kehendaki.”

Ilmu (Mengetahui) adalah sifat yang dengannya tersingkap sesuatu pada saat hubungannya dengannya.

Allah Taala berfirman, yang artinya: “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu.” Dan firman-Nya: “Sesungguhnya ilmu Allah meliputi segala sesuatu.”

Sama’ dan Bashar (Mendengar dan Melihat) adalah dua sifat yang dengan keduanya itu bertambah tersingkapnya sesuatu melebihi tersingkapnya karena ilmu.

Allah Taala berfirman, yang artinya: “Dan Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Kalam (berbicara) adalah sifat Azaliah yang berdiri dengan Dzat Allah Taala yang diungkapkan dengan susunan khusus yang dinamakan Alquran atau Kalamullah.

Kalam Allah Taala tidak berhuruf dan tidak pula bersuara, namun Kalam (Madim yang tidak berawal dan tidak berakhir.

Allah Taala berfirman, yang artinya: “Dan Allah berkata-kata kepada Musa dengan Kalam yang sempurna.”

Itulah tiga belas sifat, dilanjutkan dengan tujuh sifat maknawiyah.

Tujuh sifat maknawiyah ini sengaja dipisahkan dan dibuatkan satu bait khusus adalah supaya ketujuh sifat ini mendapat perhatian lebih, karena golongan Muktazilah tidak mempercayai adanya ketujuh sifat maknawiyah ini.

Mereka mengatakan bahwa Allah Taala itu Mahakuasa dengan Dzat-Nya, Maha berkehendak dengan Dzat-Nya tanpa Qudrat dan Iradat, dan seterusnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31Laman berikutnya
Show More

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker