Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Nurud Dholam Lengkap

Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya: Berkuasa, Berkehendak, Mendengar dan Melihat Hidup, Mengetahui, Berbicara kekal abadi

PENJELASAN:

Adapun tujuh sifat Maknawiyah itu adalah:

Qaadirun (Yang Mahakuasa) yaitu sifat yang berdiri dengan Dzat Allah Taala, ia tidak maujud dan tidak ma’dum, dan ia lain daripada Qudrat.

Muriidun (Yang berkehendak) yaitu sifat yang berdiri dengan Dzat Allah Taala, ia tidak maujud dan tidak ma’dum, dan ia lain daripada Iradat.

‘Aalimun (Yang Maha Mengetahui) yaitu sifat yang berdiri dengan Dzat Allah Taala, ia tidak maujud dan tidak ma’dum, dan ia lain daripada Ilmun.

Hayyun (Yang Hidup Kekal) yaitu sifat yang berdiri dengan Dzat Allah Taala, ia tidak maujud dan tidak ma’dum, dan ia lain daripada Hayat.

Samii’un (Yang Mendengar) yaitu sifat yang berdiri dengan Dzat Allah Taala, ia tidak maujud dan tidak ma’dum, dan ia lain daripada Sama.

Bashiirun (Yang Melihat) yaitu sifat yang berdiri dengan Dzat Allah Taala, ia tidak maujud dan tidak ma’dum, dan ia lain daripada Bashar.

Mutakallimun (Yang Berkata-kata) yaitu sifat yang berdi, dengan Dzat Allah Taala, ia tidak maujud dan tidak ma’dum, dan ia lain daripada Kalam.

KESIMPULAN:

Secara garis besar (ijmal) sifat-sifat 20 yang wajib bagi Allah ir, terbagi ke dalam empat bagian:

  1. SIFAT NAFSIAH: Yaitu wajib bagi Allah bersifat dengan sifat wujud (ada), yang wujud-Nya itu tidak disebabkan oleh sesuatu apapun. Sifa nafsiah ini hanya satu saja, yaitu WUJUD (ADA).
  1. SIFAT SALBIAH: Yaitu sifat yang meniadakan (menafikan) semua sifat yang tidak layak bagi Allah. Sifat Salbiyah ini ada lima, yaitu: Qidam, Baqa’, Mukhalafatul Lilhawaaditsi, Oiyaamuhu binafsihi, Wahdaniyah.
  1. SIFAT MA’AANI: Yaitu semua sifat yang maujud yang berdiri pada Dzat Allah Yang Maujud, yang mewajibkan Dzat itu bersifat dengan suatu hukum sifat maknawiyah. Sifat Ma’ani ini ada tujuh, yaitu: Oudrat, Iradat, Ilmun, Hayat, Sam’un, Bashar, Kalam.
  1. SIFAT MA’NAWIYAH: Yaitu suatu hal yang tetap (tsabit) bagi Dzat Allah bersifat dengan sifat Ma’nawiyah. Karenanya, terdapat ikatan yang kuat antara sifat Ma’ani dan sifat Maknawiyah ini. Adapun sifat Maknawiyah ini ada tujuh, yaitu: Qaadirun, Muriidun, ‘Aliimun, Hayyun, Samii’-un, Bashtirun dan Mutakallimun.

Selanjutnya Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya: Jaiz dengan kemurahan dan keadilan-Nya meninggalkan dan melakukan hal-hal yang mungkin

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Wajib (kata Syaikh Ahmad) atas setiap mukallaf meyakini bahwa Allah Taala berwenang (jaiz) menciptakan kebaikan dan keburukan, dan berwenang pula untuk menjadikan Zaid sebagai orang Islam dan Amru sebagai orang kafir, atau memberikan dari ilmu kepada salah satu dari keduanya, atau memberikan bodoh kepada salah satu dari keduanya.

Pemberian pahala oleh Allah kepada orang yang taat adalah kemurahan darinya nya dan hukuman kepada orang yang maksiat adalah keadilan darinya , karena dia adalah dzat yang memberi manfaat dan yang memberi madaraat sesungguhnya perbuatan dan maksiat itu hanyalah tanda bahwa allah taala memberi pahala dan menghukum rang yang bersifat dengan keduanya.

Jika Allah menghendaki keberuntungan seseorang maka dia memberikan petunjuk kepada jalan ketaatan dan jika dia menghendaki kesengsaraan seseorang maka dijadikan maksiat pada orang tersebut.

Jadi semua perkara berupa perbuatan baik dan buruk merupakan ciptaan Allah taala./ karena Allah loh yang menciptakan hamba dan perbuatannya, sebagaimana firmannya, yang artinya : Allah lah yang menciptakan kamu dan apa apa yang kamu kerjakan

Dari dialah berasal kemanfaatan , kemudaratan maka tidak ada kebaikan keburukan manfaat dan mudarat kecuali  disandarkan kepada Allah jua.

Diceritakan dari nabi musa alaihisalam, bahwa beliau mengadukan sakit giginya kepada Allah taala, lalu Allah berfirman kepadanya: ambillah daun anu, dan letakkan di gigimu, maka seketiak itu juga sakit gigi beliau sembuh.

Kemudian setelah beberapa lama, beliau sakit gigi lagi, lalu beliau mengambil daun yang sama dan meletakkannya di gigi beliau yang sakit, bukannya sembuh malah penyakit beliau bertambah parah, maka beliau meminta tolong kepada Allah, Ya ilahi, bukankah engkau telah menyuruhku menggunakan daun ini sebagai obat,

Allah menjawab hai musa akulah yang menyembuhkan dan yang menyehatkan, akulah yang memberikan manfaat dan mudarat.

Tempo hari kau meminta bantuan kepadaku maka aku sembuhkan penyakitmu dan sekarang kau minta bantuan daun itu bukan kepadaku.

Karena itulah tidak seharusnya kita mengharap atau merasa takut kepada seseorang kecuali hanya kepada Allah taalala.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31Laman berikutnya
Show More

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker