Sebelum kawin dengan Ali, Fatimah pernah dilamar oleh Abubakar dan Umar tetapi ditolak Beliau dengan halus. Ketika dilamar oleh Ali, maka Beliau langsung menerimanya.
Mas kawinnya adalah baju besi, satu-satunya yang dimiliki oleh Ali. Lalu baju besi tersebut dijual dengan harga empat ratus delapan puluh dirham.
Fatimah melahirkan anak dari Ali enam orang, tiga laki-laki dan tiga perempuan. Yang laki-laki adalah: Hasan, Husein dan Muhassin.
Sedangkan yang perempuan adalah Zainab, Ummi Kultsun dan Rugayyah. Demikian dikatakan oleh Laits bin Saad dengan tambahan. Rugayyah, katanya: “Rugayyah meninggal dunia sebelum baligh.” Dinukil oleh Ibnul Jauzi.
Sedangkan Syaikh Hasan Al’Adawi menukil dari kitab Al Mawaahibul Ladduniyah, bahwa Fatimah melahirkan dari Ali lima orang, yaitu Hasan, Husein, Muhassin (meninggal di waktu kecil), Ummi Kultsum dan Zainab.
Sayyidina Hasan, cucu Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam, lahir delapan tahun sebelum wafat kakeknya. Dan Sayyidina Husein lahir tujuh tahun sebelum wafat kakeknya.
Dalam riwayat lain, Sayyidina Husein lahir pada tanggal lima Sya’ban tahun keempat Hijriyah. Demikian yang lebih sahih.
Rasulullah membasahi tenggorokan Sayyidina Husein dengan ludahnya sebelum disusui, mengazankan di telinganya, meludahinya pada mulutnya, mendoakannya serta memberinya nama Husein pada hari ketujuh dan mengakikahkannya.
Azzargani menukil dari Ibnul Atsir, katanya: “Zainab lahir pada masa kakeknya. Ia adalah seorang wanita yang cerdas, fasih, berakal dan pemberani.”
Ibnu Abdilbarr meriwayatkan bahwa, Ummi Kultsum lahir sebelum wafat kakeknya sallallaahu alaihi wasallam.
Khadijah.
Ia adalah puteri Khuwailid. Ia merupakan istri pertama Nabi sallallaahu alaihi wasallam. Usia Beliau ketika kawin dengan Khadijah adalah dua puluh satu tahun atau dua puluh lima tahun, yang terakhir inilah pendapat kebanyakan ulama.
Sedangkan Khadijah ketika itu berusia empat puluh tahun. Khadijah melamar Beliau tanpa perantara, katanya: “Wahai putera pamanku, saya menginginkanmu karena kekerabatanmu, amanatmu, kebaikan budi pekertimu dan kejujuranmu.”
Maka Beliau pun mengabarkan hal itu kepada paman-pamannya. Lalu Hamzah keluar bersama Beliau menemui Khuwailid bin Asad untuk melamar Siti Khadijah.
Ini merupakan riwayat dari Ibnu Ishag. Sedangkan dalam riwayat lain menggunakan perantara, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Saad dari jalur Alwagidi dari Nafisah binti Munabbih, katanya:
“Khadijah adalah seorang wanita yang kuat dan mulia, di samping memiliki kebaikan hati. Pada waktu itu, ia merupakan wanita Ouraisy yang paling mulia dan paling kaya.
Semua orang dari kaumnya berminat untuk menikahinya, kalau saja mereka mampu melakukannya. Banyak sudah orang yang datang melamarnya sambil membawa harta benda.
Pada suatu hari, Khadijah mengutusku untuk menyelidiki perihal Muhammad sallallaahu alaihi wasallam sepulang Beliau dari Syam (Damaskus, Syria). Saya berkata kepada Beliau, ‘Ya Muhammad, apa yang menghalangimu untuk menikah? —
Beliau menjawab: ‘Saya tidak punya apa-apa untuk menikah. Saya berkata pula: ‘Jika Anda dicukupi dengan harta, kecantikan, kemuliaan dan kesetaraan, apakah Anda mau?
Beliau bertanya: ‘Siapa orangnya? Saya jawab: “Khadijah. Beliau bertanya pula: ‘Bagaimana caranya?” Maka saya pun menemui Khadijah dan memberitahukan hal itu kepadanya. Lalu ia menyuruh saya memanggilnya.
Syaikh Islam di dalam kitab Albahjah menyatakan dalam masalah istri-istri Nabi sallallaahu alaihi wasallam, yang paling utama adalah Khadijah dan Aisyah.
Adapun mana yang lebih utama di antara keduanya, ada perbedaan pendapat, Ibnul ‘Imad mensahihkan Khadijah lebih utama. Ini didasarkan pada hadis sahih bahwa Nabi sallallaahu alaihi wasallam menjawab ketika Aisyah berkata kepada Beliau, “Allah telah memberikan ganti kepada Baginda orang yang lebih baik daripada Khadijah.”
Jawab Beliau: “Tidak, demi Allah, Allah tidak memberiku istri yang lebih baik daripadanya. Dia beriman kepadaku ketika semua orang mendustakan aku: dia telah memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang menahannya dariku: dan aku mendapatkan anak darinya dan tidak dari selainnya.”
Imam Abubakar bin Imam Mujtahid Daud pernah ditanya, “Siapa yang lebih utama, Khadijah atau Aisyah?”
Ia menjawab: “Aisyah disampaikan oleh Nabi sallallaahu alaihi wasallam salam dari Jibril sendiri,
sedangkan Khadijah disampaikan oleh Jibril salam dari Allah melalui lisan Nabi sallallaahu alaihi wasallaam, maka ia merupakan yang paling utama di antara istri-istri Nabi tersebut.
Dan ditanyakan juga kepadanya, “Siapa yang lebih utama, Khadijah atau Fatimah?”
Ia menjawab, “Nabi sallallaahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: ‘Fatimah adalah darah dagingku, maka saya tidak berani menyamakan darah daging Rasulullah dengan siapa pun.”
Malik bin Sinan berkata : “Saya tidak mengutamakan seorang pun melebihi darah daging Rasullullah sallallaahu alaihi wasallam.
Inilah yang wajib diitikadkan, dan kita berjumpa Allah dengan itikad tersebut, Insya Allah.”
Diriwayatkan bahwa Aisyah pernah berkata kepada Fatimah, “Hai Fatimah, saya lebih baik dari ibumu, karena Rasulullah mengawini ibumu sedang ia sudah janda, dan mengawiniku sedang saya masih perawan.
Mendengar itu, Fatimah merasa tidak enak, lalu ia menemui Nabi sallallaahu alaihi wasallam dan memberitahukan kepada Beliau perkataan Aisyah tersebut.
Maka Rasulullah menjawab, “Katakan kepadanya, Engkau benar, bahwa Rasulallah mengawini ibuku sedang ia dalam keadaan janda, dan mengawinimu sedang engkau perawan.
Tetapi Rasulullah ketika mengawini ibuku beliau masih perjaka, dan ketika mengawinimu Beliau adalah duda.
Mana yang lebih baik, perjakanya Rasulullah atau perawanmu?’ Fatimah pun menyampaikan jawaban tersebut kepada Aisyah.”
Adapun perkataan Syaikh Ahmad ‘Keutamaan mereka jelas”, maksudnya mereka berempat, Ali, Fatimah, Hasan dan Husein.
Dalam salah satu riwayat disebutkan yang artinya: “Sesungguhnya Fatimah diberi nama demikian karena Allah ‘fathomaha’ (memisahkannya) dan keturunannya dari api neraka.
Dan dinamakan Azzahra, karena dia tidak pernah haid sepanjang umurnya.
Dan dinamakan Albatuul, karena dia memutuskan diri dari duniawi.”
Fatimah merupakan anak yang paling disayang oleh ayahnya, Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam. Setiap Baginda akan berpergian jauh, maka Fatimah adalah orang yang paling akhir dipamitinya, dan kalau tiba dari perjalanan jauh, maka Fatimah adalah orang yang pertama-tama didatanginya.
Tentang Ali, suami Fatimah, Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam bersabda yang artinya: “Aku telah memberikan sebaik-baik wanita kepada sebaik-baik lelaki.”
Dan beliau berkata juga, yang artinya: “Jika Anda ingin melihat Adam alaihissalam, Yusuf alaihissalam dan kegantengannya, Musa alaihissalam dan kekuatannya, Isa alaihissalam dan kezuhudannya, dan Muhammad sallallaahu alaihi wasallam dan rupanya, maka hendaklah ia melihat kepada Al alaihissalam.”
Attabrani meriwayatkan hadis yang artinya: “Sesungguhnya Allah menjadikan keturunan setiap nabi itu di dalam sulbinya, dan menjadikan keturunanku di sulbi Ali bin Abithalib.”
Sayyidina Ali Karramallaahu wajhah wafat dalam usia enam puluh tiga tahun, karena bacokan Ibnu Maljam di dahinya, pada malam Jumat tanggal 17 Ramadan tahun 40 Hjjriyah, ketika beliau keluar hendak melaksanakan salat Subuh di masjid, dan meninggal dunia pada malam Minggunya.
Ulama berselisih pendapat mengenai letak kuburnya. Sebab kuburnya dirahasiakan kuatir nanti digali oleh golongan Khawarij.








Terjemah Nurud Dholam