Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Nurud Dholam Lengkap

Mi’raj itu mempunyai anak tangga yang berbeda-beda, ada yang terbuat dari emas, ada pula yang dari perak, begitu seterusnya.

Bagian sisinya mirah delima dan sisi lainnya zamrud hijau, ia berasal dari surga Firdaus, dihiasi oleh permata yang indah-indah yang berasal dari surga.

Di sebelah kanannya ada malaikat dan di sebelah kirinya juga ada malaikat, sebagai penghormatan bagi tamu Allah itu.

Setiap anak tangga tersebut berjarak lima ratus tahun perjalanan, antara langit dan bumi, dan semuanya berjumlah sepuluh anak tangga.

Beliau naik melalui anak tangga itu bersama Jibril hingga akhirnya tiba di langit dunia, lalu Jibril minta dibukakan pintunya. Maka pintu pun dibukakan untuk mereka.

Demikian seterusnya sampai ke langit ke tujuh. Pada langit pertama, Beliau melihat Nabi Adam alaihissalam dan melihat sungai Nil dan Furat. Pada langit kedua, Beliau melihat Nabi Isa dan Nabi Yahya alaihissalam.

Adapun hikmat mereka tinggal berdua bersama-sama di langit kedua, sedangkan di langit selain langit kedua hanya dihuni oleh satu nabi saja, adalah karena kelak Nabi Isa alaihissalam akan turun kembali ke dunia, maka tinggallah Nabi Yahya sendirian di sana.

Sehingga setiap langit tidak kosong dari seorang Nabi. Pada langit ketiga, ada Nabi Yusuf alaihissalam. Pada langit keempat ada Nabi Idris alaihissalam.

Pada langit kelima, ada Nabi Harun alaihissalam. Pada langit keenam, ada Nabi Musa alaihissalam, dan pada langit ketujuh ada Nabi Ibrahim alaihissalam.

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi Idris alaihissalam di langit kedua, Nabi Harun alaihissalam di langit keempat, Nabi Ibrahim alaihissalam di langit keenam dan Nabi Musa alaihissalam di langit ketujuh. Riwayat pertama adalah lebih sahih.

Setelah Beliau melewati langit ketujuh, maka disingkapkanlah tabir bagi Beliau, sehingga Beliau dapat melihat Sidratul Muntaha.

Kemudian Beliau melewatinya hingga tiba di Mustawa, yaitu suatu tempat yang tinggi dan sangat luas. Yang dimaksud di sini adalah suatu tempat terdengarnya suara Qalam.

Di sana, Beliau mendengar suara Qalam dengan kedua telinganya namun tidak ada yang mengetahui bagaimana cara penulisannya kecuali hanya Allah Taala.

Di sana, Jibril berhenti dan tidak ikut melanjutkan perjalanan. Kemudian Beliau masuk ke dalam lautan cahaya, dan terbukalah tujuh puluh ribu lapis cahaya, yang jarak masingmasing hijab itu adalah sejauh lima ratus tahun perjalanan.

Diriwayatkan bahwa, ketika Baginda melihat Jibril berhenti dan tidak ikut melanjutkan perjalanan, Beliau berkata: “Apakah seorang sahabat akan meninggalkan sahabatnya?”

Jibril menjawab: “Ini adalah magam saya, andaikata saya melewatinya maka saya akan terbakar oleh cahaya itu.”

Nabi lalu bertanya: “Apakah Anda mempunyai hajat kepada Tuhanmu?”

Jibril menjawab: “Mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengizinkan aku membentangkan kedua sayapku bagi umatmu di atas siratal mustakim, supaya mereka bisa melintasinya dengan selamat.”

Setelah Baginda berada di hadapan Allah, maka Allah bertanya: “Hai Muhammad, mana permintaan Jibril?” Rasulullah menjawab:

“Oh Tuhanku, Engkau lebih mengetahuinya.” Allah lalu berfirman: “Aku telah memperkenankan permintaannya, bagi orang yang mencintaimu dan sahabat-sahabatmu.”

Setelah Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam menembus hijab cahaya tadi, lalu Beliau kembali ke Rafrafil Akhdhar, kemudian naik sampai tiba di suatu tempat di bawah Arsy, namun Beliau tidak melewatinya.

Di sana Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam bersujud sebagai pernyataan hormat, memuliakan dan bersyukur.

Dalam sujud tersebut, Beliau diajak bercakap-cakap oleh Tuhannya. Allah berfirman : “Mintalah, niscaya engkau diberi.”

Beliau menjawab: “Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil-Mu, Musa Engkau ajak bercakap-cakap, Daud Engkau beri kerajaan yang sangat besar, serta Engkau lunakkan besi untuknya dan Engkau tundukkan gunung baginya:

Sulaiman Engkau beri kerajaan yang sangat besar, dan Engkau tundukkan baginya manusia, jin dan setan, serta Engkau tundukkan pula angin untuknya, dan Engkau berikan kerajaan kepadanya yang tidak akan pernah diberikan lagi kepada orang lain sesudahnya,

Isa Engkau ajari Kitab Taurat dan Injil, dan Engkau berikan kemampuan kepadanya untuk menyembuhkan penyakit kusta, belang dan menghidupkan orang yang sudah mati dengan izinMu, dan Engkau lindungi dia dan ibunya dari setan yang terkutuk, sehingga setan tidak berdaya menjerumuskan mereka.”

Allah Taala menjawab: ” Aku menjadikanmu sebagai kekasihKu. Dan Aku mengutusmu kepada seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira memberi peringatan.

Dan Aku lapangkan dadamu. Aku singkirkan bebanmu, Aku tinggikan sebutan namamu, yakni tidaklah Aku disebut kecuali namamu pun disebut bersama-Ku. Dan Aku jadikan umatmu sebagai umat tengah-tengah.

Dan Aku jadikan umatmu sebagai umat yang pertama-tama bangkit, menjalani hisab, lewat di sirat dan masuk surga, padahal mereka adalah umat terakhir dalam dunia.

Mereka tidak boleh khutbah kecuali setelah bersaksi bahwa engkau adalah hamba dan rasul-Ku. Dan Aku jadikan di antara umatmu suatu kaum yang kitab Alquran tersimpan di dada mereka.

Dan Aku jadikan engkau sebagai orang pertama di antara para nabi yang diciptakan dan orang terakhir yang diutus sebagai rasul.

Dan Aku jadikan engkau sebagai orang yang memutuskan perkara di antara mereka pada hari kiamat.

Dan Aku berikan engkau tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang yang tidak pernah Aku berikan kepada orang lain sebelummu.

Dan Aku berikan engkau penutup surah Albagarah yang berasal dari bawah Arsy, yang belum pernah Aku berikan kepada seorang nabi pun sebelummu. Aku beri engkau telaga Alkautsar

. Dan aku beri engkau delapan macam: Islam, hijrah, jihad, sedekah, salat, puasa Ramadan, amar ma’ruf dan nahi munkar.

Dan Aku jadikan engkau sebagai pembuka bagi segala kebaikan dan penutup para nabi. Dan Aku beri engkau Liwaa-ul hamdi, Adam dan seluruh nabi sesudahnya semuanya berada di bawah panjimu.

Dan sejak menciptakan langit dan bumi, Aku telah mewajibkan atasmu dan atas seluruh umatmu lima puluh salat setiap hari dan malam. Maka kerjakanlah salat itu olehmu dan umatmu.”

Kemudian Rasulullah berulang-ulang memohonkan keringanan salat tersebut hingga akhirnya menjadi hanya lima kali sehari semalam.

Lantas Allah Taala berfirman: “Ya Muhammad.” Baginda menjawab: ” Labbaik wa Sa’daik.” Allah berfirman pula: “Itu adalah lima salat setiap hari dan malam, yaitu setiap satu salat sama dengan sepuluh sehingga semua menjadi lima puluh, tidak ada perubahan dan penghapusan pada ketentuan-Ku.

Barangsiapa berniat akan mengerjakan satu kebaikan tetapi tidak dikerjakannya maka akan dituliskan baginya satu kebaikan saja dan kalau dikerjakannya maka akan dituliskan baginya sepuluh kebaikan.

Dan barangsiapa berniat akan mengerjakan satu kejahatan tetapi tidak jadi dikerjakannya, tidak akan dituliskan apa-apa atasnya, dan kalau dikerjakannya maka hanya akan dituliskan satu kejahatan saja.”

Setelah itu, Rasulullah pun turun kembali ke dunia, dan pulang ke tempat Beliau tidur semula, ternyata tempat itu belum lagi dingin dari hangat badannya.

Adapun sebab dipilihnya waktu malam untuk perjalanan Isra tersebut, konon karena waktu malam itu merupakan waktu kosongnya pikiran dari segala keruwetan duniawi dan karena Allah Taala menghapuskan cahaya dari malam dan menjadikannya gelap gulita, sedangkan siang terang benderang dengan cahaya, maka malam pun menjadi sedih.

Jadi perjalanan Isra Nabi Muhammad sallallaahu alaihi wasallam itu adalah untuk menyeimbangkan itu karena itulah diriwayatkan, ketika siang membanggakan diri terhadap malam dengan adanya matahari, maka malam pun menjawab: “Jangan berbangga diri dulu, sekalipun matahari dunia memberikan cahayanya kepadamu, maka akan naik matahari wujud di malam hari ke langit.

Dan juga karena Beliau adalah pelita, sedangkan pelita itu hanya dinyalakan di malam hari.

Dan juga karena Beliau dinamakan bulan purnama di dalam firman Allah “Thaahaa”, huruf tha jumlahnya sembilan, dan huruf haa lima, jadi jumlahnya adalah empat belas yaitu sama dengan bulan purnama.

(Hikmat):

Utsman bin Hasan Aljuwairi di dalam kitab Durratul Waa’izhin menggatakan bahwa, sebab Isra itu adalah karena bumi membanggakan diri pada langit.

Bumi berkata: “Aku lebih darimu, karena Allah Taala telah menghiasiku dengan banyak negeri, laut, sungai, pohon, gunung dan lain-lain.”

Langit menjawab: ” Akulah yang lebih darimu, karena matahari, bulan, bintang, falak, buruj, Arsy, Kursi dan surga ada padaku.”

Bumi tidak mau kalah, lalu ja berkata: “Padaku ada Baitullah yang dikunjungi orang dan para nabi, rasul, aulia dan orang-orang mukmin tawaf mengelilinginya.”

Langit menjawab: “Padaku ada Baitul ma’mur, para malaikat tawaf mengelilinginya. Dan padaku juga ada surga sebagai tempat arwah para nabi dan rasul, serta aulia dan orang-orang salih seluruhnya.”

Bumi masih tidak mau kalah, ia berkata: “Penghulu segala rasul, penutup semua nabi, kekasih Tuhan semesta alam, seutama-utama makhluk sallallaahu alaihi wasallam berdiam padaku dan syariatnya berjalan di atasku.”

Mendengar perkataan bumi yang terakhir ini, langit terdiam dan tidak bisa menjawab lagi.

Kemudian ia bertawajjuh kepada Allah seraya berkata: “Ilahi, Engkau memperkenankan permintaan orang yang kesulitan, jika ia memohon kepadamu, dan aku tidak mampu menjawab perkataan bumi lagi.

Maka aku memohon kepada-Mu agar Engkau naikkan Muhammad kepadaku supaya aku dapat memperoleh kemuliaan dengan wajahnya sebagaimana bumi telah mendapatkannya.”

Doa langit itu dikabulkan Allah, lalu Allah mewahyukan kepada Jibril, firman-Nya: “Pergilah ke surga dan ambillah Buraq, kemudian temuilah Muhammad.” Jibril pun melaksanakan perintah itu.

Tampak olehnya di dalam surga ada 40 ribu Buraq yang sedang merumput di taman surga, dan di dalil mereka semuanya tertulis nama Muhammad.

Jibril melihat di antara buraq-buraq tersebut ada seekor buraq yang sedang menundukkan wajah sambil menangis, dari kedua matanya menetes air mata.

Jibril lalu bertanya kepadanya: “Hai buraq, kenapa engkau menangis?” Ia menjawab: “Hai Jibril, sejak empat puluh ribu tahun saya mendengar nama Muhammad, sehingga timbul perasaan cinta saya kepada pemilik nama ini dan saya pun merindukannya.

Setelah itu saya tidak berselera lagi makan dan minum karena terbakar oleh api rindu.”

Maka Jibril berkata: “Aku akan menyampaikan kepada orang yang engkau rindukan.” Kemudian Jibril memasanginya pelana dan tali kekang dan membawanya kepada Nabi Muhammad sallallaahu alaihi wasallam …. Sehingga akhir kisah yang telah disebutkan di atas.

Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya: Beliau menyampaikan berita Isra kepada umat dan kewajiban salat lima waktu tanpa ragu

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Maksud bait di atas adalah bahwa wajib atas setiap mukallaf mengitikadkan bahwa Nabi sallallaahu alaihi wasallam telah menyampaikan kepada umatnya berita tentang Isra dan Mi’raj itu dengan kewajiban salat fardhu lima kali.

Itu terjadi pada pagi hari dari malam Isra Mi’raj tersebut. Adapun salat yang pertama-tama muncul dalam Islam adalah salat Zhuhur, karena ia merupakan salat yang pertama tama diajarkan oleh malaikat Jibril kepada Nabi sallallaahu alaihi wasallam.

Adapun salat Subuh tidak wajib ketika itu, padahal salat sudah mulai diwajibkan pada malam Isra Mi’raj itu, karena belum diketahui tatacaranya, dan baru diketahui setelah masuk waktu Zhuhur.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31Laman berikutnya
Show More

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker