Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Nurud Dholam Lengkap

PERHATIAN:

Telah disepakati secara ijmak bahwa kota Mekah dan Madinah merupakan bagian bumi yang paling utama.

Dan ketiga imam (Hanafi, Syafii dan Hanbali) telah sepakat bahwa Mekah lebih utama daripada Madinah.

Tetapi Imam Malik berpendapat sebaliknya. Perbedaan pendapat ini berkaitan dengan bagian bumi selain sebidang tanah tempat dikuburkannya jasad Nabi sallallaahu alaihi wasallam, kalau ini jelas ia merupakan bagian bumi yang lebih utama daripada langit dan bumi seluruhnya secara mutlak.

Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya:  Sebelum turun wahyu Beliau genap empat puluh. sedangkan usia Beliau lebih dari enam puluh

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Maksud bait di atas adalah yang sahih menurut jumhur ulama bahwasanya Beliau sallallaahu alaihi wasallam diutus menjadi rasul ketika usia Beliau genap empat puluh tahun, tidak lebih dan tidak kurang.

Namun ini tidak akan sempurna kecuali jika pengangkatan Beliau itu terjadi pada bulan kelahiran Beliau, padahal yang masyhur adalah bahwa Beliau dilahirkan pada bulan Rabiul awwal dan diangkat menjadi rasul pada bulan Ramadhan.

Sebagian ulama mengatakan bahwa, permulaan wahyu itu dalam tidur Beliau di bulan Rabiul awwal, dan Beliau tinggal selama enam bulan. Adapun orang yang mengatakan bahwa permulaan wahyu itu di bulan Ramadhan, mungkin yang dimaksudkannya adalah kedatangan Jibril secara kasat mata.

Ibnu Abdilbarr dan lain-lainnya mengatakan bahwa, Beliau sallallahu alaihi wasallam diangkat menjadi rasul pada usia empat puluh tiga tahun, sedangkan kenabiannya telah ada sebelum itu, yaitu pada saat turun ayat Igra’ (bacalah).

Adapun kerasulannya ditandai dengan turunnya perintah indzar (berilah peringatan) di dalam surah Almuddatstsir, yaitu pada masa kevakuman wahyu nabi bukan rasul.

Namun ulama yang berpendapat nabi dan rasul itu bersamaan waktunya mengatakan bahwa, ayat Muddatstsir tersebut merupakan penjelasan dari apa yang dimaksudkan dalam surah Igra, karena artinya adalah: “Bacakanlah kepada kaummu apa yang akan Aku jelaskan kepadamu.”

Adapun pengutusan baginda pada usia empat puluh itu karena hal itu merupakan tradisi yang berlangsung di sebagian besar para nabi, bahkan seluruh nabi, sebagainana dikuatkan oleh kebanyakan ulama, di antaranya adalah Syaikhul Islam di dalam Masyiyah Al Baidhawi.

Bajuri berkata: “Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam tinggal di kota Mekah setelah diangkat sebagai rasul itu selama tiga belas tahun, dan selama itu pula Beliau menerima wahyu.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa, Beliau tinggal di Mekah setelah diangkat sebagai rasul selama sepuluh tahun, ini boleh jadi tidak termasuk masa vakum wahyu (yaitu 3 tahun).

Dan Beliau tinggal di Madinah selama sepuluh tahun, dan wafat pada usia 63 tahun.

Dalam hal ini ulama sepakat bahwa Nabi sallallaahu alaihi wasallam tinggal di Madinah sesudah hijrah selama sepuluh tahun, sebagaimana mereka juga sepakat bahwa Beliau tinggal di Mekah sebelum diangkat menjadi rasul selama empat puluh tahun.

Perbedaan pendapat hanya dalam perkara berapa lama Beliau tinggal di Mekah sesudah diangkat menjadi rasul. Yang benar adalah selama tiga belas tahun, sehingga usia Beliau seluruhnya adalah 63 tahun.

Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya: Putera Beliau ada tujuh, di antara mereka ada tiga laki-laki, ketiganya dipahami Dasim, Abdullah atau Thayyib dan Thahir dengan keduanya ini ia dijuluki Ibrahim berasal dari ibu jariyah namanya Maria bangsa Oibtiyah

Selain Ibrahim ibunya adalah Khadijah Mereka ada enam, pelajarilah nama mereka dengan cinta

Ada empat perempuan disebutkan

Keridhaan Tuhanku untuk mereka semua Fatimah Azzahra, suaminya adalah Ali Kedua puteranya adalah Hasan dan Husein keutamaan mereka jelas

Kemudian Zainab lalu Rugayyah dan Ummi Kultsum yang suci dan diridhai

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: “Syaikh Muhammad Alfudhali di dalam kitab Kifayatul Awaam berkata, “Para ulama mengatakan bahwa seyogianya setiap orang mengetahui jumlah anak-anak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, dan urutannya dalam kelahirannya.

Karena sudah selayaknya orang mengetahui pemimpin-pemimpinnya jumlah dan urutan mereka.

Tetapi saya lihat mereka tidak mengatakan secara jelas mengenai kewajiban atau kesunahan hal itu, mereka hanya mengatakan ‘seyogianya’ atau ‘selayaknya’ saja.

Dan ini bisa menjurus kepada dua kemungkinan, yaitu: wajib dan sunnah.

Tetapi bila dikiaskan dengan kewajiban mengetahui nasab Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam, maka ini pun bisa dianggap wajib.”

Menurut pendapat yang sahih, anak-anak Rasulullah sallallahu alaihi wasallam ada tujuh, tiga laki-laki dan empat perempuan. Urutan mereka dalam kelahiran adalah:

  1. Qasim. Dengan nama puteranya inilah Rasulullah berkunyah (disebut Abul Oasim).
  2. Zainab.
  3. Ruqayyah.
  4. Fathimah.
  5. Ummu Kultsum.
  6. Abdullah. Digelari dengan julukan Thayyib (yang baik) dan Thaahir (yang suci). Ini adalah gelar Abdullah bukan nama dari dua orang yang lain.

Mereka semua adalah berasal dari ibu satu, yaitu Khadijah. Sedangkan yang nomor 7 adalah Ibrahim, dari ibu Mariyah Alqibtiyah.

Putera Beliau yang bernama Qasim meninggal dunia ketika anak-anak di Mekah, dalam usia dua tahun, ada pula yang mengatakan kurang dari itu dan ada yang mengatakan lebih.

Ia merupakan yang pertama meninggal dunia dari anak-anak Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam. Kemudian Abdullah, juga meninggal dunia di Mekah ketika masih kanak-kanak.

Pada waktu Abdullah meninggal dunia ini, Ash bin Waail berkata: “Terputus sudah keturunannya.”

Maka Allah Taala lalu menurunkan surah Alkautsar, yang ayat terakhirnya berbunyi, artinya: “Sesungguhnya orang yang mengejekmu itulah (hai Muhammad) yang akan terputus keturunannya.”

Adapun Ibrahim, lahir pada bulan Dzulhijjah tahun delapan Hijriyah. Pada hari ketujuh dari kelahirannya,

Rasulullah mengadakan akikah buatnya dengan menyembelih dua ekor domba, dan hari itu juga memberikan nama untuknya, mencukur rambutnya dan bersedekah dengan perak seberat timbangan rambutnya, dan mereka menanamkan rambutnya di dalam tanah.

Ibrahim meninggal dunia pada tahun kesepuluh Hijriyah dan dikuburkan di pemakaman Bagi’.

Zainab dikawin oleh putera bibinya (saudara sepupu) yang bernama Abul Abbas bin Rabi’, ibunya adalah Maalah binti Khuwailid (saudara Khadijah).

Ia melahirkan dua anak, yaitu Ali dan Umamah. Ali ini pernah dibonceng oleh Rasulullah pada saat penaklukan kota Mekah, ia meninggal pada masa remaja.

Sedangkan Umamah dikawin oleh Ali bin Abithalib sesudah bibinya Fathimah (istri Ali) meninggal dunia, dengan wasiat dari Fathimah sendiri.

Kemudian ia dikawin oleh Mughirah bin Nauvel sesudah Ali meninggal dunia, dengan wasiat dari Ali. Umamah melahirkan seorang putera untuk Mughirah, yaitu Yahya bin Mughirah.

Umamah meninggal sebagai istri Mughirah. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam sangat sayang sekali pada Umamah ini,

hingga pernah suatu ketika Beliau menggendongnya di dalam salat Beliau.

Zainab dilahirkan pada tahun ketiga puluh dari kelahiran Nabi sallallaahu alaihi wasallam, dan meninggal dunia pada tahun kedelapan Hijriyah.

Rugayyah dikawin oleh Utsman bin Affan, dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah, yang meninggal dunia sesudah Rugayyah dalam usia enam tahun.

Penyebabnya adalah karena matanya dipatuk ayam jago hingga wajahnya membengkak dan akhirnya meninggal dunia.

Rugayyah dilahirkan pada tahun ketiga puluh tiga dari kelahiran Nabi sallallaahu alaihi wasallam, dan meninggal dunia di hari kedatangan Zaid bin Haritsah ke Madinah membawa kurban perang Badr.

Adapun Ummu Kultsum, ia dikawin oleh Utsman bin Affan setelah Rugayyah meninggal dunia. Karena itulah Utsman dijuluki Pemilik Dua Cahaya (Dzun Nurain).

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dari Abu Hurairah, katanya: Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam mendatangi Utsman di pintu masjid seraya berkata:

“Hai Utsman, ini Jibril telah menyuruhku supaya mengawinkanmu dengan Ummi Kultsum dengan mahar seperti mahar Rugayyah.”

Ummi Kultsum tidak mempunyai anak. Ia meninggal pada tahun kesembilan Hijriyah. Ketika ia meninggal, Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam berkata:

“Kawinkanlah Utsman. Andaikata aku mempunyai puteri yang ketiga, tentu akan aku kawinkan lagi dengannya. Tidaklah aku mengawinkannya kecuali dengan wahyu dari Allah Taala.”

Sedangkan Fatimah dikawin oleh Ali. Pada saat itu Ali berusia dua puluh satu tahun lima bulan dan Fatimah berusia lima belas tahun lima bulan, yaitu sepulang mereka dari perang Badr.

Fatimah meninggal dunia sepeninggal ayahnya enam bulan, demikian menurut riwayat yang sahih, pada malam Selasa hari ketiga bulan Ramadhan tahun kesebelas Hijriyah. Dan dimakamkan pada malam hari.

Jenazahnya digotong oleh empat orang, yaitu Ali, Hasan, Husein dan Abu Dzarr Alghiffari, radiyallaahu anhum ajma’iin.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31Laman berikutnya
Show More

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker