Ridhwan Alaihissalam
Ridhwan alaihissalam adalah malaikat yang ditugaskan menjaga surga. Pintu gerbang surga yang besar terdiri dari delapan pintu, yaitu: pintu syahadatain, pintu salat, pintu puasa, pintu zakat, pintu haji, pintu amr ma’ruf nahi munkar, pintu shilaturrahmi, dan pintu jihad fi sabilillah. Sedangkan di dalamnya ada sepuluh pintu yang lebih kecil.
Surga ada tujuh macam yang letaknya saling berdekatan. Yang paling tengah dan paling utama adalah surga Firdaus.
Semua surga tersebut berada di bawah naungan Arsy Tuhan Yang Maha Pengasih, selanjutnya surga Ma wa, surga Khulud, surga Na’im, surga Aden, surga Darussalam, surga Daruljalal.
Adapula yang mengatakan bahwa surga itu hanya empat, bahkan ada yang mengatakan hanya satu.
Adapun berbilangnya nama surga itu adalah untuk menunjukkan kemuliaannya, dan untuk merealisasikan nama-nama tersebut padanya.
Tanah surga itu berupa misik dan za’faran. Pada setiap mahligai di dalam surga terdapat ranting dari pohon Thuba, yang akarnya terletak di kediaman Nabi sallallaahu alaihi wasallam.
Pohon tersebut akan memberikan apa yang diinginkan orang. Jika penghuni surga itu ingin makan, maka ja mengucapkan: ” Subhaanakalaahumma” . Lalu dihamparkan di hadapan mereka hidangan yang panjangnya satu mil dan lebarnya satu mil.
Di dalamnya tersedia apa-apa yang mereka inginkan. Jika mereka selesai makan, mereka mengucapkan. “Al-hamdulillahi rabbil ‘aalamiin.” Maka hidangan itu pun terangkat sendirinya.
Pokoknya di dalam surga itu terdapat apa-apa tidak pernah dilihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga tidak pernah terlintas dalam pikiran.
Ibnu Abbas radiyallaahu anhu berkata: “Surga itu mempunyai delapan buah pintu terbuat dari emas bertatahkan permata,
Pada pintu pertama tertulis “ Laa Ilaaha Ilallallaah Muhammadur Rasulullaah” ia merupakan pintu bagi para nabi dan rasul, syuhada dan salihin.
Pintu kedua adalah pintu orang-orang yang salat dengan sempurna.
Pintu ketiga adalah pintu orangorang yang mengeluarkan zakat dengan hati yang tulus.
Pintu keempat adalah pintu orang-orang yang menyuruh kebaikan dan mencegah kemunkaran.
Pintu kelima adalah pintu orang-orang yang menahan diri dari nafsu syahwatnya.
Pintu keenam adalah pintu orang-orang yang mengerjakan haji dan umrah.
Pintu ketujuh adalah pintu orang-orang yang berjuang di jalan Allah.
Pintu kedelapan adalah pintu orang-orang yang memicingkan pandangan mereka dari barang-barang haram dan mengerjakan amal-amal kebajikan seperti, berbakti kepada orangtua, menyambung tali kekeluargaan (silaturrahmi), dan lain-lain.
Dan surga itu ada tujuh macam: (1) Daaruljalaal, terbuat dari Mutiara putih, (2) Darussalam, terbuat dari mirah delima, (3) Jannatul Ma’wa, terbuat dari zabarjad hijau, (4) Jannatul Khuldi, terbuat dari marjan kuning, (5) Jannatun Na’im, terbuat dari perak putih, (6) Jannatul firdaus, terbuat dari emas kuning, dan (7) Jannatu Aden, terbuat dari mutiara putih.
Adapun bangunannya terbuat dari bata emas dan bata perak, lantainya dari kesturi, ‘ tanahnya dari anbar dan za’faran, dan kerikilnya dari mutiara dan mirah delima.
Dari sahabat Umran bin Hushain dan Abu Hurairah radiyallaahu anhuma, keduanya pernah bertanya kepada Rasulullah sallallaahu alaihi wassallam mengenai firman Allah Taala, yang artinya: “Dan tempat tinggal-tempat tinggal yang baik di surga Aden.”
Lantas Beliau menjelaskan: “Tempat tinggal yang dimaksud adalah mahligai yang terbuat dari mutiara. Di dalam mahligai itu ada tujuh puluh tempat tinggal dari mirah delima, dan di tiap-tiap tempat tinggal itu ada tujuh puluh rumah terbuat dari zamrud hijau.
Di setiap rumah ada ranjang, dan di tiap-tiap ranjang itu ada tujuh puluh kasur, dan pada tiap-tiap kasur itu ada seorang istri bidadari.
Juga pada tiap-tiap rumah itu ada tujuh puluh hidangan, dan pada tiap-tiap hidangan itu ada tujuh puluh macam makanan.
Dan pada tiap-tiap rumah itu ada tujuh puluh pelayan laki-laki dan perempuan yang usianya remaja dan muda sepanjang masa.
Dan diriwayatkan dari Ka’bul Ahbar, katanya: “Saya bertanya kepada Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam mengenai pepohonan surga, lalu Beliau menjelaskan, ‘Rantingnya tidak akan kering dan daun-daunnya tidak akan berguquran.
Sebesar-besar pohon surga itu adalah pohon Thuba, akarnya dari mutiara, rantingnya dari zabarjad, dan daun-daunnya dari sutera.
Di pohon Thuba itu ada tujuh puluh ribu ranting. Ujung rantingnya bersambung dengan tiang Arsy dan rantingnya yang paling bawah dengan langit.
Setiap kamar dan kubah di dalam surga teruntai ranting dari pohon Thuba tersebut. Dan di pohon Thuba itu juga terdapat buah-buahan yang lezat.”
Imam Ali Karramallaahu wajhah berkata: “Sesungguhnya pepohonan surga itu terbuat dari perak, sedangkan daunnya sebagian dari perak dan sebagian dari emas.
Jika akarnya terbuat dari emas maka rantingnya dari perak, dan jika akarnya dari perak maka rantingnya terbuat dari emas, Pepohonan dunia akarnya di dalam tanah dan rantingnya di udara, sebab dunia merupakan tempat kesusahan, tidak demikian halnya dengan pepohonan surga, karena akarnya di udara dan dahannya di tanah.
Sebagaimana firman Allah, yang artinya: Dahan-dahannya rendah, maksudnya buahbuahannya mudah dijangkau baik oleh orang yang berdiri, duduk maupun berbaring.”
Ibnu Abbas radiyallaahu anhuma berkata: Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya di dalam surga itu ada bidadari yang bernama Lu bah.
Ia diciptakan dari empat unsur: Misik, kafur, anbar dan za faran. Dan tanahnya diadoni dengan air kehidupan.
Seluruh bidadari itu mempunyai kekasih. Seandainya salah seorang dari bidadari itu meludah di lautan, niscaya air lautan itu akan berubah menjadi tawar seluruhnya oleh sebab ludahnya tersebut.
Tertulis di sebelah atas dadanya kalimat yang artinya: ‘Barangsiapa ingin menjadi seperti saya, maka hendaklah ia berbakti kepada Tuhan saya.”
Kita berlindung kepada Allah dari neraka dan azab neraka, dan memohon kepada-Nya agar memasukkan kita ke surga tempat orang-orang yang salih, bersama orang-orang yang takwa dan baik-baik, bertetangga dengan Nabi pilihan sallallaahu alaihi wasallam.









Terjemah Nurud Dholam