Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Nurud Dholam Lengkap

  1. Zainab binti Jahsy, puteri bibi Nabi sallallaahu alaihi wasallam yang bernama Umaimah, radiyallaahu anha.

Dahulunya ia bernama Barrah, kemudian namanya diganti oleh Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam dengan Zainab. Sebelum kawin dengan Rasulullah, ia adalah istri Zaid bin Haritsah, budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam.

Kemudian Zaid menceraikannya. Ketika selesai menjalankan iddahnya, maka Allah lalu mengkawinkan Rasulullah dengannya, yaitu pada tahun keempat Hijriah menurut salah satu pendapat. Ketika itu usianya tiga puluh lima tahun.

Ia sering membanggakan dirinya di hadapan istri-istri Nabi yang lain, katanya: “Sesungguhnya kalian dikawinkan oleh bapak-bapak kalian, sedangkan aku dikawinkan oleh Allah dari tujuh petala langit.”

Pada diri Zainab inilah turun ayat hijab. Dan Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam pernah marah kepadanya disebabkan oleh perkataannya terhadap Shafiyah binti Huyai.

Beliau mengasingkan diri darinya pada bulan Dzilhijjah, Muharram dan sebagian bulan Safar.

Ia istri Nabi yang paling awal menyusul Beliau ke alam baka.

Dalam hadis Muslim disebutkan sebuah hadis dari Aisyah radiyallaahu anha, bahwa sebagian istri Nabi sallallaahu alaihi wasallam pernah mengajukan pertanyaan kepada Beliau, “Siapakah di antara kami yang lebih dahulu wafat menyusul Baginda?”

Beliau menjawab: “Yang paling dahulu wafat menyusulku ialah yang paling panjang tangannya.” Ternyata yang pertama wafat di antara istri-istri Nabi adalah Zainab.

Adapun sebab disebut panjang tangannya itu adalah karena ia bekerja dan banyak bersedekah. Ia meninggal dunia pada tahun dua puluh Hijriah.

Pada tahun yang sama Mesir berhasil ditaklukkan. Usianya ketika meninggal dunia itu adalah lima puluh tiga tahun dan dikuburkan di Bagi’.

Jenazahnya disalati oleh Umar bin Khattab. Aisyah pernah berkata: “Zainab menyaingiku dalam kedudukan di sisi Nabi sallallaahu alaihi wasallam. Saya tidak pernah melihat seorang wanita pun yang baik dalam urusan agamanya melebihi dirinya.

Dia wanita yang paling takwa kepada Allah, paling jujur omongannya, paling suka menyambung tali kekeluargaan dan paling banyak sedekahnya.”

Adapun Zainab bin Khuaimah, dikawini oleh Rasulullah pada tahun ketiga Hijriah. Di masa jahiliah dahulu ia dijuluki Ummul Masakin, karena ia suka memberi makan kepada mereka.

Ia tinggal bersama Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam hanya selama dua atau tiga bulan saja, kemudian meninggal dunia. Jenazahnya disalati oleh Rasulullah sallallahu alaihi wasallam dan dikuburkan di Bagi’.

Usianya ketika meninggal itu adalah tiga puluh tahun. Tidak ada istri-istri Nabi sallallaahu alaihi wasallam yang meninggal dunia semasa hidup Beliau selain dari Khadijah, Zainab binti Khuzaimah ini dan Raihanah (berdasarkan pendapat bahwa ia adalah istri beliau).

  1. Juwairiyah binti Harts radiyallaahu anha.

Ia tertawan pada peperangan Muraisi dan jatuh ke dalam bagian Tsabit bin Qais bin Syammas, lalu ditebus oleh Rasulullah dengan sembilan ons emas. Kemudian Beliau mengawininya.

Dahulu namanya adalah Barrah, lalu diganti oleh Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam dengan nama Juwairiyah. Ia seorang wanita yang cantik.

Aisyah berkata tentang dirinya: “Kami tidak mengetahui seorang wanita yang paling banyak berkahnya buat kaumnya melebihi Juwairiyah.”

Ia meninggal dunia di kota Madinah pada bulan Rabi’ul awwal tahun lima puluh enam Hijriyah, dalam usia tujuh puluh tahun. Jenazahnya disalati oleh Marwan bin Hakam.

Itulah nama-nama istri Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam yang dijuluki sebagai Ummulmukminin karena kedudukan mereka sebagai ibu-ibu kaum mukminin yang wajib dihormati dan dijunjung tinggi, serta haram dikawini oleh seluruh umat, sekalipun para nabi dan rasul lainnya, sebab mereka termasuk juga ke dalam umat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam.

Mereka semua merupakan wanita-wanita yang diridhai Allah dan RasulNya karena ketaatan mereka kepada keduanya.

Asysyargawi berkata: “Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam wafat dengan meninggalkan sembilan orang istri.

Beliau telah melakukan akad nikah sebanyak 15 kali, yang dua diceraikan Beliau, sedangkan yang tetap ada sebelas.

Kesembilan istri yang ditinggalkan Beliau itu, sesuai dengan urutannya adalah: Saudah binti Zam’ah, Aisyah, Hafsah, Ummu Salmah, Zainab binti Jahsy, Ummu Habiibah, Juwairiyah, Shafiyah dan Maimunah. Ini urutan sesuai dengan perkawinan Beliau dengan mereka.”

Hasan Al’adawi di dalam kitab Masyaarigul Anwar berkata: “Dikatakan di dalam kitab Almawaahib bahwa, istri-istri Nabi yang disepakati dan Beliau tidak menceraikan mereka ada sebelas orang,

enam orang dari suku Ouraisy, yaitu: Khadijah binti Khuwailid, Aisyah binti Abibakar, Hafsah binti Umar, Ummu Habibah binti Abi Sufyan, Ummu Salmah binti Abi Umayyah, dan Saudah binti Zam’ah.

Sedangkan yang empat orang adalah dari suku Arab sekutu-sekutu suku Ouraisy, yaitu: Zainab binti Jahsy, Maimunah binti Alharst, Zainab binti Khuzaimah, dan Juwairiyah binti Alharst.

Dan satu dari suku Israil, yaitu Shafiyah binti Huyai Annadhriyyah.”

Kemudian Alhamzawi berkata: “Raihanah tidak disebutkan sebagai istri-istri Nabi sallallaahu alaihi wasallam tetapi sebagai gundik.

Jika ia dianggap sebagai istri maka semuanya berjumlah dua belas orang. Dan Beliau wafat dengan meninggalkan sembilan Orang istri sebagaimana disebutkan di atas.”

Rasulullah sallallaahu alaihi wasallam tidak kawin kecuali dengan wahyu dari Allah. Beliau bersabda, yang artinya:

“Tidaklah aku mengawini seorang wanita atau mengawinkan seorang puteriku kecuali dengan wahyu yang dibawa oleh Jibril dari Tuhanku Jalla wa Azza.”

Kemudian Syaikh Ahmad Almarzuqi rahimahullah berkata:

Artinya: Paman Beliau ialah Hamzah dan Abbas Bibi Beliau Shafiyah yang mengikut ajarannya

PENJELASAN:

Syaikh Nawawi rahimahullah berkata: Paman-paman Nabi sallallaahu alaihi wasallam ada dua belas:

1,2. Hamzah dan Abbas.

Hamzah ibunya adalah Maalah binti Ahiib.

Abbas ibunya adalah Oailah binti Mibban.

Hamzah selain sebagai paman Nabi, ia juga merupakan saudara sepersusuan Beliau. Sebab keduanya pernah disusui oleh Tsuwaibah.

Usianya empat tahun lebih tua daripada Nabi, dan ada pula yang mengatakan dua tahun. Ia adalah singa Allah dan Rasul-Nya. Ia ikut berperang pada peperangan Badr dan Uhud, dan di Uhud ia mati syahid di tangan Wahsyi.

Pada saat meninggalnya itu, dijumpai delapan puluh lebih bekas luka, ada yang karena sabetan pedang, tusukan tombak dan tertembus anak panah.

Diriwayatkan bahwa ia adalah pemuka orang-orang yang mati syahid. Dan dalam riwayat lain disebutkan: Hamzah adalah sebaik-baik syuhada pada hari kiamat dari umat ini.

Kedua riwayat di atas tidak menafikan hadis yang menyatakan bahwa Nabi Yahya bin Zakaria adalah pemuka para syuhada di hari kiamat.

Dan diriwayatkan juga, bahwa ‘sebaik-baik pamanku adalah Hamzah’.

Adapun Abbas, ia adalah paman Nabi yang paling muda (bungsu). Usianya berbeda dua atau tiga tahun lebih tua daripada Nabi sallallaahu alaihi wasallam. Ia berada di pihak kaum musyrikin di peperangan Badr, karena dipaksa.

Dan tertawan bersama-sama tawanan lain. Kemudian ia menebus dirinya. Ia masuk Islam sebelum penaklukan Khaibar. Ia merahasiakan Islamnya sampai penaklukan kota Mekah.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa ia sudah masuk Islam sebelum perang Badr, hanya dirahasiakannya. Ia ikut dalam peperangan Hunain.

Abbas wafat pada tahun ketiga puluh dua Hijriyah dalam usia 88 tahun. Jenazahnya disalati oleh Utsman bin Affan.

  1. Abuthalib.

Ibunya Fatimah bin Amru bin Abid, yang juga adalah ibunda Abdullah, ayahanda Nabi sallallaahu alaihi wasallam. Yang benar ia meninggal dunia dalam keadaan beriman.

Nama aslinya adalah Abdumanaf, sedangkan Abuthalib adalah kunyahnya, tetapi ada pula yang mengatakan itu adalah nama dan kunyahnya.

Abdulwahab Asysya’rani menukil dari Assubki, bahwa paman Nabi sallallaahu alaihi wasallam Abuthalib, setelah wafatnya, ia dihidupkan kembali oleh Allah Taala lalu menyatakan keimanannya kepada Beliau.

Hal ini memang pantas untuknya, karena kecintaan Nabi sallallaahu alaihi wasallam kepadanya yang sangat besar.

  1. Abulahab. Ibunya Layin binti Hajir.

Ia dijuluki Abulahab, ia dijuluki demikian karena wajahnya agak kemerah-merahan. Julukannya yang lain adalah Abu Utbah. Nama aslinya adalah Abduluzza.

Ia mati kafir dengan nas Alquran. Saudaranya Abbas pernah memimpikannya sesudah satu tahun ia wafat, lalu Abbas bertanya kepadanya: “Apa kabarmu?” Ia menjawab: “Dalam neraka.”

“Hanya pada setiap malam Senin saya diberi keringanan bisa mengisap air dari jariku ini (sambil menunjukkan jarinya), karena pada saat itu saya telah memerdekakan Tsuwaibah atas pemberitahuannya akan kelahiran Muhammad sallallaahu alaihi wasallam, dan saya suruh ia menyusuinya.”

  1. Alharts. Ibunya Tsemrah binti Jundub.

la merupakan anak tertua (sulung)dari Abdulmutthalib, dan dengan namanya pula Abdulmutthalib dijuluki. Ia tidak sampai menemui masa Islam, karena sudah meninggal dunia sebelum Beliau diangkat menjadi rasul.

  1. Zubeir. Ibunya sama dengan ibu Abdullah, ayahanda Nabi sallallaahu alaihi wasallam. Ia tidak menemui masa Islam.
  1. Hajl. Ibunya sama dengan ibu Hamzah.
  1. Abdulkakbah.

Ibunya sama dengan ibu Abdullah. Ia tidak menemui masa Islam, dan tidak mempunyai keturunan.

  1. Outsam.

Ibunya adalah sama dengan ibu Alharts. Ia meninggal dunia semasa kanak-kanak.

  1. Dhirar .

Ibunya sama dengan Ibu Abbas. Ia meninggal dunia pada masa Nabi menerima wahyu dari Allah Taala, namun ia tidak masuk Islam. Ia termasuk pemuda Ouraisy yang paling cakap dan murah hati (dermawan).

  1. Ghaidaq.

Ini adalah julukannya, sedangkan namanya adalah Mush’ab atau Naufel. Ia orang yang sangat dermawan di kalangan suku Ouraisy, dan yang paling banyak harta dan jamuannya. Karena itulah ia dijuluki Ghaidag.

  1. Muqawwam.

Ibunya sama dengan ibu Hamzah. Di antara keduabelas paman Nabi sallallaahu alaihi wasallam di atas, yang menjadi saudara kandung ayah Beliau ada tiga, yaitu: Abuthalib, Zubeir dan Abdulkakbah.

Adapun bibi Nabi sallallaahu alaihi wasallam ada enam (yaitu bibi dari saudara ayah):

  1. Shafiyah.

Ibunya sama dengan ibu Hamzah. Ia adalah ibu dari Zubeir bin Awwam. Ia meninggal dunia di Madinah semasa pemerintahan Umar bin Khattab, tahun 20 Hijriah, dalam usia 73 tahun, dan dikuburkan di Bagi’.

Konon, tidak ada di antara bibi-bibi Nabi sallallaahu alaihi wasallam yang masuk Islam selain dirinya. Tetapi ada juga yang mengatakan Arwa dan Athikah juga masuk Islam.

  1. Arwa.
  2. Athikah.
  3. Ummu Hakim.
  4. Barrah, dan
  5. Umaimah.

Tentang keislaman Arwa dan Athikah ada perbedaan pendapat, sedangkan yang tiga terakhir tidak ada perbedaan pendapat mengenai ketidakislamannya.

Kelima nama terakhir di atas adalah saudara kandung Abdullah, ayahanda Nabi sallallaahu alaihi wasallam.

Adapun saudara-saudara Aminah, ibunda Nabi sallallaahu alaihi wasallam ada lima, tiga laki-laki dan dua perempuan.

Yang lakilaki adalah: Aswad, Umair dan Abduyaghuts, sedangkan yang perempuan adalah: Fariidhah dan Faakhitah. Semuanya meninggal dunia sebelum Beliau diangkat menjadi nabi.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31Laman berikutnya
Show More

Related Articles

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker