- Mujahadah, murogabah, riyadloh
Arti mujahadah yang disebutkan di atas, adalah penuh kesungguhan hati melawan dan menahan. getaranhawanafsunya. Riyadlah adalahlatihan-latihan berat dalam rangka melawan getaran hawa nafsu dengan melakukan puasa, khalwat, bangun di tengah malam dan tiada banyak bicara serta ibadat yang terusmenerus.
Murogabah adalah mengintip dan memperhatikan , dirinya dengan sungguh-sungguh yang hakikatnya tiada mempunyai daya dan kemampuan apa pun “juga, karena dia dalam lautan musyahadah. Muragabah akan berhasil bila terus-menerus zikir yang dalam zikirnya itu keluar dan tersisih segala – yang lain dari pada Allah, termasuk dirinya sendiri. Intipan demikian akan mencapai tingkat musyahadah (menyaksikan) yang pada tingkat itu berartitidak adalagi dzikir dariorang yangberdzikir.
Begitulah keadaannya sebagaimana apa yang diucapkan oleh sementara Arif Billah “ana atubu min gauli La Ilaha Illa Allah” (Aku bertaubat dari “’mengatakan la ilaha illa Allah). (Catatan : Hati-hati memahami ini yang dimaksud adalah ana (keakuan yang berzikir)sudah karam/ fana, sebagaimana bunyi hadis Oudsi, Allah berfirman: La Ilaha Illa Allah Kalamiartinya,lailaha illa Allah adalah perkataanKu. : (DN. yang di-ind.z)
Syekh Abu Abbas Al-Mursi r.a. berkata:
Artinya :
“Andai kata aku terlindung dari Tuhanku meskipun sekejap mata, tidaklah lagi aku terhitung manusia.”
Syeikhul Islam q.s. (maksudnya Syekh Ruslan g-s.) menegaskan tentang murogabah sebagaiberikut: “murogabah ialah selalu memelihara hati memusatkan pandangan kepada Allah SWT. seakanakan seekor kucing yang mengintip tikus,. lalai sedikit, tikus yang diintip dan dicintai akan lari”. Demikianlah keadaan orang yang bermurogabah terhadap Tuhannya.
Bila terdapat cacat dalam bermurogabah, niscaya cela pula yang terdapat pada maksud (ghorod) makrifat kepada Allah SWT.
Demikianlah yang dimaksud oleh Syekh Umar AlFaridl g.s:
Artinya :
“Andaikata tergetar kehendak di dalam hati, selain padaMu Ya Tuhan, i karena lalai dan lupa, : kuhukumkanlah diriku terjerumus, hancur berkeping di lembah murtad.”
- Menafikan/memfanakan ke-aku-an diri, dengan kalimah La Ilaha Illallah dan Tajalli Zat Allah dengan musyahadah
Sayyid Abdullah bin Ibrahim al-Mirghani q.s. salah seorang wali Allah yang masyhur di Negeri Tho”if menyebutkan dalam Kitab tuhfatul Mursalah: “Kaifiyat (cara) murogabah itu adalah andanafikan/ tiadakan inayahmu (ananiyah —keakuan) itulah yang dimaksudkan dengan kalimah La Ilaha Illallah,
Apabila ada yang bertanya kepada anda: “Kalau yang wujuditu hanya satu, lalu apakah yang dinafikan dan diitsbatkan? Pertanyaan itu hendaklah andajawab” yang dinafikan/ditiadakan itu sebenarnya adalah waham/sangka-sangka dan keraguan/syak yang seakan-akan masih ada yang lain dari pada wujud Allah Ta’ala. i
Jadi jelasnya, yang ditiadakan itu adalah apa yang disangka dan diragukan itu, yaitu dengan kalimah La Ilaha.
Peniadaan itu termasuk peniadaan diri kita sendiri. Kemudian dengan kalimah Illallah berarti Allahlah yang Ada. .
Apabila hal itu sudah menjadi kebiasaan (gholib) maka berarti tetap dalam itsbat.
Keadaan yang demikian itu adalah sangat indah dan manis sekali, labih manis dari pada gula tebu (sakar nabat) dan lebih lezat dari pada burung dara.
Tentang musyahadah (af’al, asma, sifat dan zat) kadang-kadang dengan nazhor fikir/ pendapatpikiran sebagai tenaga pertama, kemudian meningkat pada perasaan.
Pada tingkat dzaug inilah yang sebenarnya musyahadah. Istilah Tasawuf sudahjelas”idrakus-syai” bidzdzauqi (menemukan sesuatu adalah dengan perasaan). Istilah ini adalah ucapan dari Syekh Shiddig bin Amrikhan dalam Kitab OlQoshidah ‘Ainiyah.
Penegasan dari “Alimul ‘Allamah (Maha Guru) –
‘ Syekh Abdullah bin Hijazi As-Syarkawi rahmatullah ‘alaihi, bahwa yang disebutkan musyahadah dalam istilah adalah “memandang Allah Ta’ala dengan Hag Ta’ala”. |
Pendapat Syekh Jaili q.s. bahwa “nazhor syuhud/ penglihatan musyahadah”ituadalah, memperlihatkan Allah kepadamu atas kenyataan-kenyataan yang ada sehingganyata tajalli Allah Ta’ala tanpa ragu-ragu lagi dan tiada yang serupaNya, pandangan mana adalah anugerah dan karunia Allah.
Syuhud yang tidak dalam arti hulul (bersatu) tidak terbagi-bagi seperti terbagi-bagi jisim dan tidak pula tasybih (terserupa) serta siak pula dalam arti tersentuh.
Allah Ta’ala itu tetap dalam sifat-sifat kesucianNya, kesempurnaanNya dan ketinggianNya.
Terhadap para Auliya, adalah sudah biasa bahwa Allah itu Tajalli Pada Segala Mazharnya, seperti anda ketahui bahwa Allah tajalli pada sebatang pohon yang dilihat oleh Nabi Musa a.s. di mana Nabi Musa a.s.mendengar panggilan Allah Ta’ala “Annahu AnaAllahu Lailaha Illa Ana” (Sesungguhya Akulah Allah, tidak ada Tuhan lain kecuali Aku). Pada waktu itu Nabi Musa.a.s. tidak menent sebagaiang (munkar) pada kenyaataan itu, penuh kepercayaan dan membenarkannya.
Hubaya-hubaya hai sekalian ikhwan hendaklah kerjakan dan amalkan musyahadah itu pada tiaptiaptempatdan zaman dan jangan jemu dari padanya supaya beroleh segera ganjaran dan persalin karomah dari pada Tuhan karenabahwasanya Allah itu amat segera menyampaikan kepadanya akan orang yang senantiasa mengerjakan musyahadah akan rahman. .









One Comment