Catatan:
Tentang kalam gadim sudah kita kemukakan pada bagian muka. Kata-kata ini yang diucapkan atau lahir dari mulutnya sementara kalangan Arif Billah sehingga sebagian mereka harus berhadapan dengan penguasa yang waktu itu adalah penguasa dari pemerintahan Islam. Begitu pula bila hal itu terjadi pada masa kini terutama bila disebarkan secara luas tanpa memandang tingkatan dan kecerdasan masyarakat, setidak-tidaknya pasti menimbulkan fitnah.
Sikap orang yang bisa menimbulkan fitnah berarti suatu dosa dan suatu kesalahan. Tetapi bagaimana andaikata “kalam gadim” itu tidak kita zahirkan? Bagaimana pula kalau kata-kata itu zahir di dalam hatinya sendiri? :
Maka saya jawab: “Itu adalah urusannya sendiri dengan Allah”. Bagaimana pulajika seandainya orang itu ragu-ragu? Tiap-tiap ada keragu-raguan maka pasti itu bukan “kalam gadim” tetapi kalam/katakata nafsunya sendiri. Untuk ini jelas salahnya. Misalnya seseorang menyangka bahwa daging ayam yang sudah masak berada di hadapannya adalah daging babi, maka kalau dia memakannya, berarti memakan benda haram buat dia. Begitu pula bila segumpal daging babi dihadapannya, berat sangkanya bahwa daging itu adalah daging halal lalu dimakannya tanpa ragu-ragu, maka hukumpun dapat memaafkannya.
Hadis Rasulullah Saw. yang diterima oleh Sayyidina “Ali k.w. tercantum dalam Kitab Ihya ‘Ulumuddin, halaman 319/320 Jilid 1 (Percetakan Maktab wal Mathba’ah Al-Masyhad Al-Husaini Kairo):
Artinya :
“Ali kw. meriwayatkannya dari Nabi Saw. yang telah berkata: Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi selalu memuji diriNya setiap hari dengan kataNya Sesungguhnya Akulah Allah Pengatur Alam Semesta, sesungguhnya Akulah Allah yang tidak ada Tuhan lain selain Aku Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri, sesungguhnya Akulah Allah dak ada Tuhan lain kecuali Aku Yang Maha Tinggi dan Maha Agung, sesungguhnya Akulah Allah tidak ada Tuhan lain selain Aku, tidak melahirkan dan.tidak pula dilahirkan, sesungguhnya Akulah Allah tidak ada Tuhan lain selain Aku Maha Pemaaf dan Maha Pengampun, sesungguhnya Akulah Allah tidak ada Tuhan lain selain Aku, Yang Maha, Menzahirkan segala sesuatu dan kepadaKu kembali segala sesuatu itu, Akulah Yang Maha Mulia, Maha Bijaksana, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Merajai Hari Pembalasan, Maha Pencipta kebaikan dan keburukan, Maha Pencipta Surga, dan Neraka, Maha Esa, Maha Tunggal, Maha Sendiri, Maha “Tempat Bersandar/Bergantung yang tidak punya kawan dan anak…dan seterusnya.”
Hadis ini tercatat cukup panjang, tapi dicukupkan sekian saja.
Menurut Imam Ghazali r.a. siapa yang hendak berdoa dengan itu hendaklah diganti kalimat Ini Anallahu La Ilaha Illa Ana, diganti dengan Innaka Antallahu La Ilaha Illa Anta (Sesungguhnya Engkaulah Allah tidak ada Tuhan lain selain Engkau), siapa yang berdoa demikian, tercatat sebagai orang yang sujud terus menerus, dan bertetangga dengan: Rasulullah, Ibrahim a.s. Musa a.s. ‘Isa a.s. dan Para Nabi-Nabi yang lain dihidlrat Allah, selain itu tercatat bagi orang yang berdoa demikian sama pahalanya dengan ahli ibadat di langit dan di bumi.
Maksud pencantuman kalimat-kalimat ini, selain boleh dipakai untuk berdoa, yang penting adalah bila ingin menzahirkan “kalam gadim” itu diganti dengan kata-kata, “Engkaulah Allah, tidak lain kecuali Engkau Yang Maha…” dan sebagainya.
Dengan demikian maka selamat dalam arti hakikat dan selamat pula dalam arti syariat. Tidak ada seorangpun yang menuduh, memfitnah dan menghukum.
Cukup sekian uraian ini dari penyusun yang saya anggap penting dan hendaklah difahami benar-benar. Semoga kita semua mendapat ridlo Allah. Selanjutnya ikutilah keterangan-keterangan berikut ini dari Kitab D.N. berbahasa Melayu (D.N. yang di-ind. “)
- Syareat, Tharekat, Hakikat, tidak bisa dipisahpisahkan
Berkata Sahl At-Tustury (Abdullah At-Tustury) r.a.
Artinya: .
“Jangan kamu angkat bicara tentang rahasia-rahasia ketuhanan, sebelum mereka/pendengar itu tetap pendirian mereka.”
Demikian pula Nabi ‘Isa a.s. berkata:
Artinya : “Jangan anda gantungkan permata di leher babi.”
Perlukami jelaskan kepada anda tentang pengertian syareat, hal mana sama sekali tidak boleh terpisah . dan terlepas padaitikad hati, apakahitu andalakukan atau tidak.
- a) Syareat, ialah ketentuan-ketentuan Allah dan Rasul sehubungan dengan perintah dan larangan, tata : cara melakukannya pada arti zahir,
- b) Tarekat, maksudnya, sengaja anda amalkan segala ilmu karena Allah,
- c) Hakikat ialah menyangkut masalah batin yang dengan suatu tanggapan selalu tertuju kepada Allah lewat sinar cahaya kebenaran yang terpancang pada hati.
Syareat dan hakikat itu kedua-duanya berlazim-laziman (tidak terpisahcerai) yang maksudnya, tidak bisa terjadi yang zahir tanpa dorongan batin. Begitu pula tidak adanya dorongan batin berarti tidak ada terjadi yang zahir.
Begitulah apa yang diisyaratkan oleh para Ulama: ‘As-Syari’atu Bila Hagigatin ‘Athilatun (Syareat tanpa Hakikat adalah sia-sia dan Hakikat tanpa Syareat adalah salah).
Berkata pula Al-Outhubur-Rabbaniy Maulana Syekh Abdul Oadir Jaelani q.s.:
Artinya :
“Tiap-tiap hakikat yang tidak dikuatkan dengan syareat adalah kufur zindiq.”
Syekh Ibnu ‘Ubbad q.s. mencatat ucapan sebagian Arif Billah berkata: “Siapa saja yang mengatakan bahwa hakikat berlawanan dengan syareat, berarti Orang itu kafir”.
Perlu anda ketahui juga bahwa hal-hal yang menyangkut syareat dijelaskan dalam suatu ilmu yang disebutkan “ilmu figih” dan yang menyangkut hal-hal yang batin/ hakikat dijelaskan dalam suatu macam ilmu yang dinamakan “ilmu tasauf”. Kedua-duanya ini bersumber dari ajaran Nabi kita Muhammad Saw.
Selanjutnya Imam Junaedi r.a. berkata:
Artinya :
“Barangsiapa yang melulu figih/syareat saja tanpa tashawuf adalah fasig, siapa yang melulu Tasawuf saja tanpa figih adalah zindig. Siapa yang mengumpulkan keduanya (syareat dan hakikat/figih dan tasnuf) adalah benar.”
Adapun tentang syareat, thorigat dan hakikat ini adalah dimisalkan sebiji kelapa. Syareat laksana tempurung, thorigat laksana isinya, dan hakikat laksana minyak. Tempurung berfungsi menjaga isinya, sedang minyak adalah sesuatu yang tersembunyi pada isi.
Minyak inilah yang dirahasiakan atau disembunyikan dan tidak boleh diajarkan kepada seorang yang bukan ahlinya. Itu misalnya hakikat.
(Catatan: harap dipelajari maksud kata-kata “rahasia” dan “ahlinya” pada catatan yang lalu).









One Comment