Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

Catatan :

Bagian ini adalah bagian yang terpenting yang perlu dipahami dengan benar. Dilihat pada susunan kata di dalam kitab ini, (Durrun-Nafis) seakan-akan mudah untuk dilaksanakan, tetapi sebenarnya tidaklah semudah apa yang kita kira. Karena masalahnya cukup rumit-pelik karena berhubungan dengan perasaan (dzauq). Yang penting adalah lebih dahulu harus ada kesempurnaan “pengertian” di atas dasar dalil-dalil yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.

Dalam Hadits Oudsi beliau berkata/bersabda : “Allah berfirman :

Artinya :

“Semua kamu ‘adalah sesat kecuali orang yang kuberi petunjuk, maka mintalah kamu petunjuk-Ku, Aku akan memberi petunjuk kepadamu. Semua kamu adalah lapar kecuali yang telah kuberi makan, maka mintalah makan kepada-Ku, Aku akan memberi makan kepadamu. Wahai hamba-Ku, semua kamu adalah bertelanjang kecuali orang yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku, Aku akan berikan pakaian kepadamu. Wahai hamba-Ku, kamu semua berbuat salah siang dan malam, akulah yang memberi ampunan atas dosa-dosa itu semua, kecuali Syirik……………(Diriwayatkan oleh Muslim, Abu ‘Uwainah, Ibnu Hibban dan Hakim dari Abu Dzarrin).

Dengan Hadits ini jelaslah bahwa apa artinya kekuatan dan kemampuan kita?

Selain itu hendaklah kita sadari bahwa semua sifat. sifat kita mi adalah amanah. Satu saat dia pasti akan kembali kepada pemiliknya, Allah SWT.

Karena sifat-sifat dan hidup ini adalah amanah, maka benar sekali bila kita musyahadahkan “hakikatnya” adalah daripada Allah, sedang kita ini hanya sekedar mazharnya atau sandaran semata-mata.

Lalu bagaimanakah seharusnya kita bertugas memelihara amanah?

Allah sebagai pemilik amanah telah menentukan apa yang harus dibuat terhadap amanah-Nya.. Untuk melaksanakan amanah, diletakkan pula akal pada manusia tenaga dan kemampuan, sehingga semua tugas akan dapat terlaksana. Siapa yang tidak memelihara amanahnya dan tidak digunakan menurut garis-garis ketentuan hukum yang disampaikan-Nya melalui utusan-Nya maka jelas berarti suatu penyelewengan.

Jadi jelasnya, bila benar-benar “tajalli sifat” maka sifat Orang yang demikian itu malah bertambah tekun ibadahnya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan sesuai dengan prinsip kebenaran hidup.

Mereka laksanakan itu bukan karena terpaksa atau dipaksa-paksa, atau tidak pula mengharapkan apa-apa.

Kita tidak boleh lupa tentang adab kita kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

“Artinya :

“Apa yang kamu amalkan daripada kebajikan, maka itu adalah daripada Allah, dan daripada kejahatan, adalah dari nafsumu.

Disinilah perbedaan prinsip antara Jabariyah dengan Ahlul Kasyaf. (DN. yang di-ind. “)

Maqom Baqo Bisifatillah inilah tujuan terakhir yang diharap-harapkan dan dimaksud oleh para penuntut. Dan pada titik tujuan ini pula kabanyakan para Nabi dan para Wali, namun tidak ada yang dapat melampaui tingkat ini kecuali Nabi kita Muhammad Saw. atau para Nabi dan Wali yang berada di bawah gidam (telapak) Nabi kita.

Untuk mencapai faedah dalam masalah tajalli-sifat – ini haruslah dengan cara “tadrij” (satu persatu) jangan sekaligus, karena kadang-kadang salah satu di antara sifat-sifat itu malah lebih berat dari yang lain.

Di samping itu pula akan didapat rasa “tamkin” (kemantapan) yang menghasilkan kekuatan untuk menerima Tajalli Zat. Tidak mungkin seseorang akan mencapai Tajalli Zat apabila belum mantap di dalam hatinya Tajalli Sifat.

Siapa-siapa yang mampu sampai kepada magom/ tingkatan ini niscaya ia akan mendapat gelar resmi dari Allah sebagai “Khalifatullah” seperti gelar yang diterima Nabi Adam a.s.

Allah berfirman tersebut di dalam Al-Our’an :

Artinya : ‘ “Dan ingatlah ketika Allah berkata kepada Malaikat, sungguhnya Aku menjadikan seorang kholifah di muka bumi”.

Yakni maksudnya “mengganti Aku untuk – melaksanakan hukum-hukum-Ku di muka bumi” (kholifah – pengganti). Allah pun mengajarkan kepada beliau tentang nama-nama semua ini sebagaimana firman-Nya :

Artinya :

“Dan Ia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya”. ‘

Selanjutnya pula Allah memberikan petunjuk-petunjuk kepada Nabi Adam a.s. tentang hal-hal yang mengakibatkan kesesatan termasuk juga hal-hal yang halus-halus (tersembunyi) mengingat kedudukan Nabi Adam a.s. sebagai kholifah-Nya.

Di kalangan ‘Arif-Billah ada yang berkata : –

Artinya :

“Orang yang makrifat (kenal/menyadari) kepada Allah, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi kepadanya ‘. ‘

Allah anugerahkan kepadanya ilmu laduni (ilmu yang langsung dari sisi Allah) suatu ilmu yang diilhamkan oleh Allah ke dalam hati seseorang hamba-Nya tanpa belajar melalui perantaraan guru (talqien masyayikh) ilmu mana tidak akan hilang dan tidak akan terlupakan.

Seseorang yang mendapatkan ilmu yang seperti ini adalah orang yang benar-benar ‘Alim sebagai yang dikatakan oleh Syekh Abu Yazid Bushthomi q.s. demikian pula menurut pendapat Arif Billah yang lain.

Orang yangalim sebenarnya itu bukanlah yang hanya menghafal dari kitab-kitab, sesuatu waktu bila mana lupa atas hafalannya berarti tidak sebagai orang ‘Alim lagi. Tetapi orang yang alim sebenarnya itu ialah mereka yang mendapat ilmunya langsung dari Tuhannya”.

Mereka memetik ilmu itu kapan mereka mau, maka merekalah yang juga dinamakan “Alim Rabbani” sebagai yang di isyaratkan oleh Allah di dalam Al-Ouran :

“Kami ajarkan kepadanya (Nabi Khaidira.s.) ilmu dari sisi Kami”.

Ilmu Laduni itu dapat pula diartikan ialah sebagai “terbukanya sir (rahasia) hati yang kemudian menimbulkan pendapat pada akal (kharij)”.

Syekh Abu Yazid Bushthomi q.s. berkata terhadap Ulama Ahludh Dhohir, perkataan mana yang juga disitir (dinukil) oleh Imam Ghazali r.a. dalam kitab beliau Ihya ‘Ulumuddin :

Artinya :

“Kamu mendapat ilmumu itu dalam keadaan seperti mayit dan dari sesuatu yang mati (kitab-kitab dan buku-buku adalah benda mati) sedang kami mendapatkan ilmu kami adalah dari Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati”.

Mereka yang berada pada magom / tingkatan ini mempunyai pandangan tembus/kasyaf-nyata ataupun tersembunyi dan terbuka jelas buat mereka segala hakikat sesuatu berkat cahaya yang dianugerahkan oleh Allah kepada mereka dan tidak terlindung meskipun seberat zarrah. Tak ada satupun yang dapat menghalangi pandangan mereka.

Firman Allah dalam Al-Our’an :

Artinya :

“Semuanya yang Kami anugerahkan. di sana sini, adalah pemberian Tuhan-mu dan tidak ada yang dapat menahan pemberian . Tuhan-mu itu”.

Dengan anugerah Tuhan itu, mereka mampu mendengar panggilan jarak jauh atau dekat, panggilan dengan lidah yang zhohir atau batin meskipun panggilan itu datang dari balik gunung Qof (Jabal Qof).

Sebagaimana tersebut dalam Hadits bahwa alam semesta ini bagi seorang Wali hanyalah setapak kaki belaka

“karena karunia dan rahmat Allah semata-mata.

Oleh sebab itu bersungguh-sungguhlah anda mencapai tingkat yang demikian agar andapun dapat merasakan karunia dan rahmat demikian.

Firman Allah :

Artinya:

“Mintalah kepada-Ku pasti akan Kuperkenankan”. Tentang pengertian “sifat adalah zat” atau “sifat pada zat’.

Ada perbedaan pendapat di kalangan Para ulama tentang masalah sifat. Apakah “sifat itu sama dengan zat atau tidak”.

Di kalangan Ulama Ahlus-Sunnah (Mazhab Asy’ari) berpendapat bahwa “Sifat Allah Itu Oodim (Sedia Lebih Dahulu) Seperti Zatnya Juga. Sifat Ujud Allah Adalah Dengan Ujudnya Jua…. Antara sifat dan zat tidak terpisah cerai. Dengan kata lain, “sifatadalah makna yang melekat pada zat” atau “sifat merupakan tambahan pada zat menurut makna”.

Oleh sebab itu mazhab ini berpendapat bahwa Allah Qodirun Biqudratihi, Muridun Bi-lradatihi, ‘Alimun Bi ‘Ilmihi, Hayyun Bihayatihi, Sami’un Bi Sam’ihi, Bashirun Bi Basharihi, Mutakallimun Bi Kalamihi. (Allah Maha kuasa dengan kekuasaan-Nya, Maha berkehendak dengan

kehendak-Nya, Maha Tahu dengan pengetahuan-Nya, Maha Hidup dengan kehidupan-Nya, Maha Mendengar dengan pendengaran-Nya, Maha Melihat dengan penglihatan-Nya, Maha Berkata-kata dengan perkataan-Nya).

Adapun pendapat kalangan Shufi qaddasallahu asra-rahum, adalah tegas. Sifat Adalah Diri Maushuf (sifat adalah zat yang disifati) tidak ada perbedaan pada makna, tidak pula merupakan tambahan pada Zat dan bukan pula melekat pada Zat.

Dengan pendapat ini jelaslah bahwa :

Allahu Qodirun Bidzatihi, Allahu Muridun Bidzatihi, Allahu ‘Alimun Bidzatihi, Allahu Hayyun Bidzatihi, Allahu Sami’un, Bashirun, Mutakallimun Bidzatihi.

Syekhuna Al-‘arif Billah Maulana As-Syekh Shiddieg Ibnu Amirkhan Murid Almarhum Al-Quthubur Rabbani Maulana Syekh Muhammad Bin ‘Abdul Karim As-Saman .Al-Madaniy radliallahu ‘anhuma berkata : “Pendapat yang mengatakan bahwa sifat itu tidak lain dari maushuf adalah sepanjang pendapat menurut “kasyaf” yaitu terbuka dinding dengan jalan musyahadah. Mereka yang berpendapat ini tetap pada pendiriannya karena mereka secara terusmenerus musyahadah kepada Allah SWT. maka Allah SWT. pun membuka buat mereka dinding sifatnya sehingga jelas buat mereka bahwa sifat itu tidak melekat pada zat menurut makna, tetapi sifat itu sendiri adalah zat”.

Selain itu mereka (Ahlussufi) mengambil dalil akal (‘aqli) bahwa bilamana sifatitu lain dari maushuf berarti Allahitu tidak dapat dikenal kalau tidak disertai dengan sifat, atau dengan perkataan lain bahwa “Allah berhajat kepada sifat” agar Dia dapat dikenal.

Maha Suci-lah Allah dari hal yang demikian, karena Allah itu nyata dari segala yang nyata……demikian kata-kata Syekh Muhammad ibnu ‘Abdul Kariem As-Saman AlMadani.

Tentang pendapat yang menyatakan bahwa sifat itu adalah melekat atau merupakan tambahan pada zat (Mazhab Asy’ari) didasarkan kepada pendapat akal pula menurut sepanjang pengertian tata bahasa.

Sifat adalah termasuk Isim Musytag (Isim yang diterbitkan). Maka tiap-tiap ada isim musytag pasti ada Musytaq Minhu (sumber terbitnya).

Contohnya seperti Dodirun, ini adalah isim musytag. Pastilah Oodirun itu bersumber dari adanya Judrat. Maka Oudrat inilah musytag minhu untuk kata-kata Oodirun.

Bagaimana pun  juga Qudrat bukanlah zat menurut arti bahasa, tetapisifat Oudratitu pasti tidakakan berdiri sendiri tanpa adanya zat, kedua-duanya tidak terpisah cerai.

Menurut pendapat kita (Pengarang D.N. Syekh M.. Nafis) bahwa pendapat diatas ini dapat kita pakai “sebelum: kita sampai ke tingkat mukafahah (berhadap-hadapan) dan tingkat musyahadah” .

Namun sebenarnya bila sudah mencapai tingkat mukafahah dan musyahadah pasti akan jelas terlihat pada pengertian bahwa “sifat itu tidak lain dari maushuf”.

Dapat kita misalkan sebagai berikut, seseorang yang berada di Jawa (Indonesia) umpamanya mendengar berita-berita orang lain tentang “hajarul aswad” yang terletak di salah satu sudut Baitullah di Mekkah. Si penerima berita akan tentu membayangkan “bahwa ada satu yang melekat padanya warna hitam”.

Bayangan demikian pasti tidak akan sama dengan keadaan yang sebenarnya bila dibandingkan antara bayangan dengan hajar aswad atau dengan perkataan lain, tidak semua. batu hitam itu sama dengan hajar aswad.

Bila si penerima berita itu datang langsung ke kota Mekkah/Baitullah dan langsung pula “memandang” dan berhadap-hadapan” dengan hajar aswad, ia pasti akan berkata “inilah dia hajar aswad yang disifatkan orang” pahamlah. wasalam..

Perbedaan pendapat antara Ahlussufi dengan Mu’tazilah tentang “sifat adalah zat”. “

Dalam memecahkan masalah sifat antara Ahlussufi dengan Mu’tazilah mempunyai susunan kata yang sama tetapi berbeda jauh dalam makna.

Pertanyaan : Apakah perbedaan pendapat antara Ahlussufi dengan Mu’tazilah tentang pengertian sifat adalah zat

Jawab : Pendapat Mu’tazilah bahwa sifat itu adalah “zat (catatan : Mu’tazilah tidak meyakini Allah mempunyai sifat) adalah dengan pengertian “ittihad” (terpadu) seolah-olah sifat dalam arti “ujud istiqlal” dan zat dalam arti “ujud istiglal” (adasebagian). Sebagian dengan sebagian yang lain saling berpadu sebagai tercampurnya gula (sakar nabat) dengan air.

Maha Sucilah Allah dari paham demikian, paham ‘Mutazilah yang fasig. | Demikianlah uraian tentang Tauhidus Sifat dan magam inilah yang tepat dan rasikh (dapat diterima). Bila sudah selesai Tajalli Sifat itu dan mantap di dalam hati maka Allah akan menganugerahkan tingkat yang lebih tinggi dengan suatu kekuatan untuk menerima magam Tauhidudz dzat. 

Maqam inilah magam yang keempat bagi mereka yang ‘Arif. Billah.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker