Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

Selanjutnya Imam Ghazali r.a. menyatakan bahwa semua ituadalah ringkasan saja dan kalau hendak diuraikan (ditafshilkan) tidak akan cukup kitab Minhajul ‘Abidin untuk menampung uraian satu persatu tentang karomah yang dimaksud.

Satu jenis karomah itu dapat pula dijelaskan dengan bermacam-macam tambahan lainnya, misalnya tentang bidadari, tentang tempat perangian dan sebagainya.

Selain itu pula, hanya Allah yang lebih mengerti seluruh macam kenikmatan yang dirasakan oleh orang-orang ahlulkaromah. Allah sendiripun telah berfirman:

Artinya :

“Tak ada seorangpun yang tahu apa-apa yang tersembunyi bagi mereka dari bidadari-bidadari yang sejuk dipandang, sebagai balasan atas apa-apa yang mereka lakukan.”

Begitu pula sabda Rasulullah Saw:

Artinya :

“Allah ciptakan di dalam surga itu, sesuatu yang tidak pernah dipandang oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah pula tergambar dalam hati manusia.”

Menurut Imam Al-Ousyairi (Abdul Oashim AlOusyairi) q.s. “Hendaklah anda ketahui, merekapara Auliya yang mendapat karomah-karomah itu, mereka tetap dalam menjalankan taat dan terpelihara dari segala macam pekerjaan maksiat. ‘

Itulah yang dinamakan Istigomah.

Sebagian para Arif Billah berkata:

Artinya :

“Istigomah, adalah lebih baik dari pada seribu karomah dalam arti kharigun lil ‘adat.”

Malah karomah yang sifatnya “kharigun lil’adat” itu bisa diberikan oleh Allah SWT. terhadap orang yang belum sempurna istigomahnya.

Pendapat Syekh Ibnu ‘Ibbad r.a. dalam syarah beliau, karomah yang sebenarnya -itu adalah hasil dari pada kesempurnaan istigomah. Istigomah yang sebenarnya itu adalah, pertama sah dan benar imannya kepada Allah, dan kedua, mengikuti dan melaksanakan ajaran Rasulullah Saw. zahir dan batin”.

Adapun karomah yang kharigun lil’adat itu banyak sekali yang terdapat pada Ulama ahli hakikat, tetapi karomah yang demikian kadang-kadang diberikan oleh Allah kepada mereka yang sebenarnya belum sempurna istigomahnya.

Menurut Imam Abu Hasan as-Syadzali r.a bahwa istigomah itu meliputi dua macam karomah, yang merupakan puncak dari segala karomah. Yaitu pertama karomah iman dan yaqin, kedua adalah karomah amal dengan melaksanakan segala perintah dan ajaran Rasulullah Saw. menjauhi segala macam prasangka buruk dan tipu daya.

Siapa saja yang dianugerahi dua macam karomah tersebut, namun sikap orang itu sebaliknya hanya ingat kepada yang lain dan mementingkan urusan lain dari pada Allah SWT. maka orang yang demikian adalahorang yang “kadzdzab” (pendusta) dan bersalah dengan kesalahan besar terhadap ilmu dan amal.

Orang demikian dapat diumpamakan sebagaiseorang yang berpangkat tinggi duduk di samping raja serta disenangi oleh raja sendiri, malah dia sendiri memilih untuk menjadi gembala binatang atau mencari pekerjaan lain yang lebih berat bagi dirinya, ditinggalkannya pangkat dan jabatan kerajaan yang telah diberikan kepadanya.

Tiap-tiap karomah yang didapat seseorang tanpa disertai oleh Allah SWT. maka hal itu tidak bisa disebut karomahlagi tetapinamanya “istidraj” (pemberian dengan kemurkaan Tuhan).

Sayid Abu Abbasal Mursir.a. berkata: “Bukanlah dinamakan karomah orang yang dapat melakukan perjalanan jauh dalam sekejap mata ke mana pun  yang dia kehendaki, tetapi karomah yang sebenarnya ialah Orang yang dapat menundukkan hawanafsunya sendiri, kemudian dia dapat sampai kepada Tuhannya.”

Ada yang bertanya kepada Sahl. bin Abdulllah r.a. “Apakah orang yang dapat menghilang dengan cara luar biasa (kharigunlil’adat) adakah itu suatu tanda karomah.” Beliau menjawab: “Karomah yang sebenarnya itu adalah prang-orang yang dapat menghilangkan sifat-sifat tercela pada dirinya diganti dengan sifat-sifat yang terpuji.”

Sementara para guru Tasawuf menegaskan “Jangan anda herankan bila ada seseorang yang tidak ada uang di dalam kantongnya, kemudian dengan keadaan luar biasa dia dapat mengeluarkan uang apa pun yang dia kehendaki di kantong tersebut, tetapi hendaklah anda heran bila melihat seseorang yang tadinya ada mempunyai uang di dalam kantong, kemudian, pada waktu yang diperlukan malah uang tersebut tidak ada tadi dalam kantongnya.”

Ada pula yang bercerita kepada Abu Murta’asyr.a. bahwa ada orang yang dapat berjalan di atas air, beliau menegaskan “seseorang yang dapat melakukan bertentangan dengan tuntutan hawa nafsu yang tercela (menentang kehendak hawa nafsunya) malah lebih baik daripada orang yang dapat berjalan diatasair dan terbang di udara.”

Abu Yazid Busthomi r.a. berkata: “Andai kata ada seseorang yang dapat menghamparkan sajadahnya di atas air dan dapat pula duduk di udara, maka janganlah anda terpedaya dengan hal demikian, yang penting hendaklah anda perhatikan bagaimana dia melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.”

Ada yang bertanya kepada beliau (Abu Yazid Busthami) “Bagaimana halnya seseorang yang. bisa melakukan perjalanan dalam waktu satu malam darisini bisa sampai di Mekkah?” Beliau menjawab: “Bahwa syaitan terkutukpun juga bisa berjalan dari Barat ke Timur dalam satu detik (lahzhoh). Ditanya lagi beliau tentang seseorang yang mampu berjalan di air. Beliau menjawab “bahwa ikan lebih pandai berenang di air dan burung-burungpun lebih pandai terbang di udara.” Herankah anda dengan hal yang demikian?

-Menurut Syekh Junaid r.a. bahwa dinding bagiorangorang yang khawwas (tingkat keistimewaan) ialah orang yang tertuju pandangannya kepada kelezatan nikmat dan terhenti pandangannya terhadap karomah.

Perlu anda. ketahui bahwa karomah bagi golongan Arif Billah atau Ahlullah yang lebih utama adalah “karomah maknawi’”. Karomah maknawi itu antara lain adalah, makrifat kepada Allah dengan rindu kasih kepadaNya, mengagungkan Allah pada tiap waktu, tempat dan kesempatan, merasa malu kepada Allah mengingat nikmatNya yang .tidak terhitung, tagwa sepenuhnya kepada Allah segera melaksanakan segala suruhNya dan menjauhi segala laranganNya, ikhlas dan jujur melakukan taat yakni ia tidak merasa bahwa ia sendiri yang mengerjakan taat itu, namun. semua adalah semata-mata nikmat, karunia, dan rahmatNya yang dilaksanakan dengan penuh gembira, seperti apa yang difirmankan oleh Allah SWT.:

Artinya :

“Katakanlah olehmu Hai Muhammad, dengan karunia dan rahmatNya. Maka sebab itulah hendaknya mereka bergembira, hal itu adalah lebih baik dari pada apa yang mereka kumpulkan, yaitu lebih baik dari pada amal yang mereka lakukan yang mereka anggap dari mereka sendiri.”

Mereka yang melihat segala amalnya adalah karunia dan rahmat Allah terhadap -dirinya, golongan ini disebutkan dengan “khawwash” (orang-orang istimewa) pada tingkat menengah (wustho).

Golongan khawwash tingkat tinggi atau disebut “khawwasul khawwash” ialah mereka yang melakukan ibadat tidak merasa atas daya dan kekuatannya tetapi semata-mata. dari pada Allah SWT.

Allah berfirman:

Artinya :

“Segala nikmat yang ada padamu itu, semuanya dari pada – Allah.”

Mereka ini adalah seorang yang selalu ridla dan rindu untuk berjumpa Tuhannya, tetap berpegang teguh kepadaNya, tawakal/berserah diri sepenuhnya, tidak tersangkut hatinya kepada dunia, hadir hatinya beserta Allah, di mana pun  dan dalam keadaan yang bagaimana pun  juga, syukur atas segala nikmatNya, selalu memperbaiki adab, melaksanakan syareat lahir dan batin.

Inilah sebenarnya karomah yang paling besar.

Wallahu ‘alam. ‘ Fadlilat (Kelebihan) Membaca Sholawat

Sebagai tambahan untuk memudahkan anda mendapatkan kemuliaan di sisi Allah, dicatat di sini tentang kelebihan membaca sholawat untuk Nabi Muhammad Saw.

Sholawat Allah terhadap Nabi maksudnya adalah rahmatNya dan penganugerahan kebesaran. Sedang sholawat/salam yang selain itu hanyalah sekedar doa.

Hendaklah anda ketahui bahwa sholawat adalah salah satu cara yang dapat lebih memantapkan perasaan dekat kepada Allah, cara yang lebih tepat yang di sampaikan untuk Rasulullah Saw. sebagai suatu pernyataan terima kasih yang besar atas petunjuk-petunjuk beliau terhadap kita,dengansholawatitu pulaakan tertolak segala kesulitan dan kemudaratan, tertarik segala manfaat dalam hidup di dunia dan akhirat.

Di dalam firman Allah SWT.:

Artinya :

“Sesungguhnya Allah dan seluruh Malaikat mengucapkan sholawat untuk Nabi Muhammad, wahai orang yang beriman ucapkanlah sholawat untuknya dan ucapkanlah salam.”

Rasulullah bersabda:

Artinya :

“Siapa yang mengucapkan sholawat untukku sekali saja, Allah akan mengucapkan sholawat untuknya (yang membaca) sepuluh kali. .Maksudnya Allah memberi rahmat kepada pembaca.”

Rasulullah Saw. bersabda lagi mengenai ini, siapa yang ingin berjumpa, dengan Tuhannya dengan mendapat redla Tuhan, maka perbanyaklah membaca sholawat, karena itu akan menghilangkan segala ikatan dan kesulitan dan menghindarkan dari timbulnya rasa duka cita. Siapa yang membaca sholawat untukku seratus kali, niscaya dikabulkannya untuknya seratus hajat, tigapuluh untuk dia di dunia dan selebihnya untuk dia di akhirat. ,

Seorang ahli Tasawuf bercerita, katanya: aku ada mempunyai seorang tetangga (jaar) yang pekerjaannya penuh dengan maksiat, sampai dia sendiri lupa apa yang dia lakukannya itu karena luar biasa banyaknya. Ku ajarkan kepadanya agar ber-taubat, kelihatannya dia tidak begitu menghiraukan nasehatku itu.. Sewaktu si ahli maksiat itu meninggal dunia, aku melihatnya sedang berada di tempat yang tinggi, dengan pakaian hijau satu pakaian surga, suatu pakaian kebesaran ahli surga. Lalu aku bertanya kepadanya, dengan jalan apa anda bisa dapat kedudukan yang tinggi ini? Dia menjawab, “Suatu hari aku ikut hadir dalam suatu majelis zikir. Di sana ada seorang alim berkata, siapa yang mengucapkan sholawat untuk Nabi Saw. pasti dia akan mendapat surga. Lalu kemudian bersama-sama yang hadir saya mengucapkan sholawat dengan suara yang agak nyaring, ternyata dengan itu Allah telah memberikan keampunan untuk kami semua termasuk saya sendiri dengan limpahan rahmat dari pada Allah SWT.

Ada pula suatu cerita, seorang ibu yang mempunyai anak yang nakal luar biasa, ahli maksiat banyak melakukan kejahatan. Si Ibu menyuruh anaknya supaya bertaubat, namun si anak ternyata tidak begitu menghiraukan nasehat ibunya. Tidak berapa lama kemudian si anak meninggal dunia, si ibu bermimpi melihat anaknya diazab sehingga hal itu menyebabkan duka cita yang luar biasa terhadap siibu. Tetapi pada suatu ketika si ibu bermimpi lagi melihat anaknya dalam keadaan menyenangkan dengan kenikmatan, lalu si Ibu bertanya kepada anaknya, dahulu engkau kulihat berada dalam azab, tetapi sekarang malah sebaliknya, apakah sebabnya? Si anak menjawab: Wahai ibu sesuatu waktu ada orang yang melewati kubur (pesarean) ini, rupanya orang itu insyaf terhadap dirinya bahwa suatu saat diapun akan mati. Orang itu amat menyesal atas segala dosa-dosanya lalu dia duduk dengan membaca ayatayat Al-Our’an dan membaca sholawat.

Orang itu kemudian berdoa dan menghadiahkan pahala apa yang dibacanya kepada ahli kubur. Doanya ternyata dikabulkan oleh Allah, sehingga aku sendiri ikut merasakan hadiah pahala dari orang tersebut sekarang ini. Oleh sebab itu wahai ibuku ketahuilah, bahwa sholawat. itu membawa cahaya di dalam kubur dan menghapus dosa, membawa rahmat bagi yang hidup dan yang telah mati.

Ada lagi suatu cerita, dua anak beranak sedang melakukan perjalanan jauh. Di tengah jalan si ayah meninggal dunia. Si anak bersedih luarbiasa – tak ada kawan tak ada sanak lebih-lebih setelah dilihatnya wajah si ayah yang telah meninggal itu, kehitam-hitaman.

Melihat keadaan ayahnya dengan warna hitam pekat! yang mengerikan itu, kesedihannya bertambah-tambah. Karena sedihnya si anakpun tertidur di samping jenazah ayahnya itu. Di dalam tidur si anak melihat seorang laki-laki yang gagah tampan dan bercahaya-cahaya mukanya, datang langsung mengusap wajah si ayah. Tiba-tiba terlihatlah oleh si anak wajah ayahnya putih bersih. Si anak bertanya kepada orang itu, “Siapakah anda?” Orang itupun menjawab:” Akulah Muhammad Rosulullah ayahmu ini memang banyak dosanya dan banyak maksiat yang dilakukannya, namun demikian ayahmu adalah seorang yang banyak membaca sholawat untukku. Hasilnya ialah sebagai apa yang engkau lihat sekarang ini.” Setelah si anak itu terbangun dari tidurnya, terlihat olehnya cahaya putih pada wajah ayahnya, Si anak mengucapkan syukur puji dan sanjung atas rahmat Allah, lalu bergegas-gegas menanamkan mayat ayahnya itu.

Wallahu subhanahu wata’ala wa’alam.

Artinya :

“Semoga Allah jadikan kami dan anda semua termasuk golongan ahlil-minnati dan ahli syuhud. Termasuk pula dalam golongan yang selalu rindu dan ahli perasaan, demi kebesaran Muhammad sebagai pemimpin dari segala yang ada, dan demi keluarga dan sahabat yang Arif Billah yang sudah tenggelam dalam lautan ke-Esa-an Zat bersih dari faham dan pengertian Ittihad, Hulul dan Terbatas. Telah selesai penyusunan risalah ini di Kota Mekkah Musyarrafah, di waktu “isya yang sudah larut malam, di malam Rabu 217 Muharram tahun “Arab basithoh, ketika peredaran matahari pada perbintangan kalajengking (Scorpio) dari tahun Hijriah yang telah disebutkan Allah yang lebih tahu dengan tepat dan kepadaNyalah tempat kembali dan pulang. Semoga pula Allah memberikan taufik untukku dan kawan- kawanku yang sepaham pada jalan Allah, kepada kebajikan dan kenyataan.

Ampunilah aku Ya Allah, dan untuk kedua ayah bundaku, serta siapa pun yang telah memanfaatkan risalah ini. Sholawat untuk Penghulu kami Muhammad pemimpin Para Rasul, demikian pula untuk keluarga dan sahabat beliau seluruhnya, para Tabi’in dan Tabi ‘it-Tabi’in sampai Hari Pembalasan, untuk mereka segala yang baik.

Hanya untukMu Ya Allah segala macam puji dan sanjung di setiap waktu demi rahmatMu, wahai yang Maha Pengasih dart’ segala pengasih.

Penyusun ingin menyampaikan, semoga Allah memberi rahmat kepadanya, yang telah menyusun risalah ini, hamba yang fagir dan hina, hamba yang mengakui penuh dosa dan kekurangan,.hamba yang selalu mengharapkan maaf Tuhan yang Maha Kuasa, yang paling berhajat kepada keridlaan Allah yang Maha Kuasa, yang paling berhajat kepada keridlaan Allah yang Maha Perancang-Muhammad Nafis bin Idris bin Husein di Banjarmasin”) tempat lahirnya, di Mekkah tempat tinggalnya, Syafi’i mazhabnya, Asy arie iktikadnya, Juanaidie ikutannya, Oadiriyah thorikatnya, Syathariyah pakaiannya, Nagsyabandiyah amalannya, Khalwatiyah makanannya, Samaniyah minumannya, semoga juga Allah memberi maaf kepadanya dan kepada kedua ibu bapaknya, para guru-gurunya, semua muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat, yang hidup maupun yang telah meninggal.

Selamat dan sejahtera untuk Penghulu kami Muhammad Saw. sebaik-baik makhluk, demikian pula untuk keluarga para sahabat dan istri-istri beliau yang suci, selamat sejahtera sampai hari kiamat yang penuh rahmat.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker