CATATAN TAMBAHAN
Pada pasal-pasal pertama dan kedua, jelas buat kita tentang ke-Esa-an-Nya. Untuk membicarakan tentang ke-Esa-an Allah bagaimana pun juga tidak mungkin melepaskan atau memisahkan pembicaraan tentang masalah sifat.
Misalnya kita melihat sehelai kertas putih tentu ada zatnya, ada namanya “kertas” dan tentu ada pula sifatsifatnya, putih, tipis, lemas, dan lain-lain.
Antara zatnya, namanya dan sifatnya adalah suatu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Istilah yang cukup dikenal “Laisa Fihil-Infikak Wat-Tafarrug”.
Kalausalah satunya terpisah, tentu bukan lagi bernama kertas, lain dari zat kertas dan lain pula sifatnya. .
Ini adalah sekedar misal dalam pembicaraan agar mudah mengerti dan memahami masalah ketuhanan Allah SWT., meskipun sebenarnya Allah itu tidak ada yang dapat menyamai-Nya.
Memang diakui bahwa perbedaan pendapat dalam pembicaraan masalah Tuhan banyak sekali, halmana dapat dimengerti karena masalah yang dibicarakan tidak dapat dilihat oleh mata, tidak bisa diraba oleh tangan, bahkan masalahnya terletak “di atas puncak akal” yang tidak dapat dijangkau oleh akal itu sendiri. Imam Ghazali r.a. menyebutkan ‘faugathuril ‘agli’.
Allah berfirman :
Artinya :
“Tak ada mata yang dapat melihat-Nya, malah Dia yang , meletakkan pandangan pada mata dan Dia Maha Halus Maha Waspada .Pemberi Kabar.
Oleh sebab itu di saat kita mempelajari masalah ini alangkah baiknya kita ambil pendapat yang kira-kira dapat kita pahami dan mudah pula memahaminya dengan Suatu patokan bahwa kita jangan sampai memegang pendapat Mu tazilah.
Tiga pendapat yang berbeda :
- Mu’tazilah :
- Sifat Adalah Zat, dengan perkataan lain, Allah tidak mempunyai sifat. Kalau Allah bernama Oodirun, maka Kuasa berpadu (ittihad) dengan Zat.
- Sifat hamba adalah mutlak milik hamba.
2, Asy’ariyah:
- Sifat melekat pada Zat menurut makna. Hal ini dilihat dari segi bahasa. Sedang pada hakikatnya : adalah “laisa kamitslihi syai’un’.
- Sifat hamba adalah amanah Allah pada hamba dan bukan milik hamba : . secara mutlak.
- Ahl-Kasyaf:
- Sifat adalah maushuf (yang disifat) Halini dipahami denganjalan kasyaf pada magom musyahadah/ mukafahah.
- Sifat hamba adalah mazhar sifat Allah. Dalam arti hakiki, hamba tidak memiliki. apa-apa.
Dari ketiga pendapat ini yang kita pilih tentu yang kedua dan ketiga karena ajaran itu sudah umum diterima dan terjamin kebenarannya.
Memang untuk mencapai tingkat atau pendapat yang ketiga jelas harus berdasarkan ajaran yang tercantum dalam . Kitab Durrun-Nafis atau kitab-kitab lain yang serupa dan sepaham.
Pengertian dari istilah “bumi hanya setelapak kaki para wali” “pendengaran jarak jauh” dalam bentuk karomah.
Tentang peristiwa-peristiwa yang “luar biasa” atau biasa dalam istilah kitab disebutkan “khawarigun lil adat” sebenarnya bukanlah sesuatu yang mustahil.
La Istihalata Fil-Hawadits”.
Artinya :
“Tidak ada yang mustahil dalam lingkungan hawadits/ makhluk”. :
Yang mustahil itu hanya menyatakan dan beriktikad bahwa Allah itu mempunyai sifat-sifat kekurangan, menyatakan Allah lebih dari satu atau menyatakan-Nya tidak ada. Jelasnya bila menyatakan sifat-sifat yang berlawanan dengan kesempurnaan Allah SWT., maka itulah yang bisa dikatakan mustahil.
Ada sementara pendapat yang tidak mau menerima terjadinya hal-hal “khawarigun lil ‘adat” ini terhadap para Wali namun lebih banyak yang mengakui adanya hal-haj tersebut dilihat dari segi kenyataan hal mana sering terjadj meskipun di kalangan orang awam.
Khawarigunlil’adat (keluar biasaan) ini dinamakan Mukjizat bila terjadi terhadap para Nabi/Rasul-Rasul, dinamakan Karomah bila terjadi terhadap para Wali. wali, dinamakan Ma’unah bila terjadi terhadap Mukmin yang awam, sedang bilamana terjadi terhadap Musyrik/ Kafir/Munafik dinamakan Istidraj.
Imam Ghazali r.a. menekankan tentang keharusan percaya terhadap adanya khawarigunlil’adat dengan dalildalil dan ras-nas yang meyakinkan selain apa yang pernah beliau alami atau hal-hal yang terjadi terhadap para Wali.
“Oleh sebab itu pengistilahan yang dikemukakan dalam Kitab ini jelas mempunyai dasar-dasar yang kuat dan meyakinkart.
Jenis-jenis karomah dan bagaimana seharusnya sikap hati terhadapnya, akan dijelaskan pada bagian terakhir dari kitab ini. :
Allah berfirman :
Artinya :
“Sesungguhnya orang yang berkata “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka istigomah (teguh pendirian), turunlah Malaikat kepada mereka (seraya berkata) janganlah kamu takut dan gentar, dan bergembiralah kamu dengan surga yang dijanjikan buat kamu. Kami (Para Malaikat) membantu kamu dalam kehidupan duniamu dan akhiratmu. Di sana kamu mendapat apa yang kamu ingini dan apa pun yang kamu kehendaki”. :
Memang segala sesuatu yang Allah ciptakan ini berlakulah “sunnah-Nya” atau hukum-hukumNya, termasuk diantaranya hukum “sebab akibat’ (‘illat wa ma’lul).
Terjadinya kharigunlil’adat bisa saja terjadi dengan melalui “hukum sebab akibat’, sebagaimana ayat tersebut di atas menegaskan adanya bantuan malaikat untuk urusan dunia maupun urusan akhirat.
“Namun kita harus yakin bahwa segala apa pun bisa terjadi, dengan adanya sebab atau tidak, karena Allah tidak terpengaruh oleh “hukum sebab akibat”, bilamana Allah menghendaki jadi, maka jadilah.
Beberapa istilah dalam pasal Tauhidus-Sifat.
Fana Fi Sifatillah/ Bago Bisifatillah : Artinya “lenyapsirna di dalamsifat Allah dan kekal dengan sifat Allah. Perkataan “di dalam” atau “dengan pada kata-kata di atas jangan diartikan Ittihad (terpadu) atau Hulul (bersatu). Karena Ittihad atau Hulul adanya dua teori yang tidak bisa diterima berhubung dalafn pengertian dua kata itu terdiri adanya perpaduan dan persatuan dua unsur (elemen) yakni antara Zat Tuhan dengan hamba, hal Man : tidak bisa jadi (mustahil).
Isim Musytag/ Mustaq Minhu : Dalam bahasa Arab ada yang dinamakan Asmaul Musytag.s yaitu, Mashdar, Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Isim Makan, Isim Zaman, Isim Alat, Sifat dan lain. lain. Musytag artinya Yang Di terbitkan Musytag Minhu artinya Yang Diterbitkan Dari Padanya.
Ilmu Laduni : Ladun artinya “sisi”. Ilmu laduni ialah ilmu yang diterima langsung dari sisi Allah. Nabi Musa a.s. diperintah oleh Allah untuk menjumpai Khaidir a.s. seorang yang telah memiliki ilmu laduni. Beliau (Nabi Khaidir, a.s.) telah menunjukkan hal-hal yang kharigun lil’adat. Selain itu ini ada yang dinamakan Ilmu Iktisabi (ilmu yang didapat dengan usaha).









One Comment