Catatan :
Perasaan yang dimaksud adalah kemantapan keyakinan dengan akal dan hati yang jernih. Kalau hanya sekedar. diucapkan dan dikatakan, maka seorang yang kafirpun atau munafik dapat pula mengatakannya dan mengucapkannya. (DN. yang di-ind. “)
Sayyidi Musthofa Al Bakry r.a. berkata : “jalan yang ditempuh oleh orang-orang Arif Billah ini, nyata sekali jalan yang diridloi oleh Allah SWT. Jalan mereka yang sebenarnya bukarilah jalan yang dapat diraba oleh panca indera atau dilihat oleh mata, tetapijalan tersebut hanyalah dengan keyakinan hati dan perasaan hal mana adalah gaib sehinggajelasnya,jalan yang mereka tempuh adalah dengan cara Ilmu Dzaugi yang tidak mungkin dapat diuraikan dengan kata dan tulisan.
Catatan :
Seorang sufi ada yang berkata, ma yakhruju baina syafataini illa isyaratan wa’tibar, artinya apa yang keluar dari dua bibir ini hanya sekedar isyarat dan i’tibar. (DN. yang di-ind. “)
Siapa saja yang mengatakan, hal itu dapat diungkapkan secara tepat dengan kata dan gambaran, maka orang itu jelas kafir zindik.
Apabila Tajalli Zat Allah Ta’ala pada seorang hamba yang dikehendaki-Nya, tak ada seorangpun yang dapat menceritakan keadaan yang demikian itu dengan kata dan tulisan. Karena keadaan yang demikian adalah “amrun dzaugi” atau urusan perasaan. Oleh sebab itu ada sementara pujangga yang berkata :
Artinya :
“Siapa yang belum pernah merasa, pasti tidak tahu”.
Seorang kawan yang berada: di jawa ini misalnya mendengar cerita tentang buah “saparjalin” (sejenis buah jambu di tanah Arab) bagaimana pun juga jelasnya kata-kata – dan ucapan menguraikan tentang buah tersebut namun sama sekali tidak ada faedahnya sebelum dia merasai atau memakan buah itu. Dengan demikian apabila dia sudah memakan dan merasakan barulah dia mengerti, beginilah rasanya buah saparjalin itu.
Para guru dan Syekh-Syekh di kalangan Ilmu Tasawuf hanyalah sekedar menunjukkan jalan dalam bentuk isyarat dan gambaran semata-mata. Mereka pasti tidak akan mampu memberikan ta’rif (definisi / batasan) apa sebenarnya yang dikatakan Tajalli Zat.
Benar sekali apa yang disabdakan oleh nabi Saw. :
Artinya :
“Tidaklah kami dapat mengenal-Mu dengan pengenalan yang setepat-tepatnya”. ‘
Nabi bersabda lagi :
Artinya :
“Siapa yang dapat mengenal Allah, kelulah lidahnya”.
Allah ada pada segala zarratul-wujud
Maksud perkataan “Allah ada pada segala zarratulwujud’ adalah dalam pengertian hakikat dan qayyumiyahNya bukan sekali-kali dalam arti ittihad dan hulul.
Jika seandainya anda tidak dapat mencapai makrifat kepada Zat-Nya, hanya mampu mencapai tingkatan sifat saja, sebenarnya hal tersebut sudah dijelaskan pada bagian terdahulu tidak ada yang dapat mencapainya kecuali Rasulullah Saw. dan golongan para wali-Nya pengikut: Rasulullah.
Tegasnya : Manakala merasa seseorang akan tajalli zat berarti ia lenyap dalam lautan ahadiyat wujud Allah yang muthlak yang laisa kamitslihi syai’un.
Tidak terlihat lagi padanya apa yang disebut “amal yang disandarkan kepadanya” atau “:amal yang disandarkan kepada selain daripada dirinya” tidak pula dia sendiri yang dapat membanding-banding, tidak pula dia merasa bahwa dia sendirilah yang dapat mencapai tingkat demi tingkat itu dengan penuh kesungguhan, tidak pula dia tahu apa sebabnya dia dapat mencapai tingkat demikian, karena dirinya sendiri “ghoib” memandang ujud Mutlak.
Mereka yang berada pada tingkatan ini tidak pula merasa apa-apa karena bahwasanya Tajalli Zat itu yang mengakhiri pandangannya, seakan-akan hilang terbang segala akalnya sendiri karena amat nyatanya Nur dipandang.
Dapatlah dimengerti, mereka yang demikian hampir saja tidak berpegang kepadahukum, tidak berpegang kepada syara’ atau kadang-kadang lahirlah kata-katanya yang tidak dapat diterima oleh tata dan aturan hukum, tidak pula dapat diterima baik oleh Ulama-Ulama Ahli Syara’ sehingga para Ulama-Ulama itu menuduhnya dengan kafir zindiglq.
Inilah mungkin yang dimaksudkan oleh Imam Junaid r.a.
Artinya :
“Tidakakan mungkin seseorang akan sampai derajat hakikat kecuali dia sanggup menghadapi tuduhan zindig dari seribu orang Shiddigien”.
Syekh Abdul Wahab Sya’rani r.a. bertanya kepada guru beliauSyekh ‘Ali Al-Khawwashr.a. “apa sebenarnya tingkat hakikat itu?” gurunya menjawab : “tingkat hakikat itu ialah hilang pada pandangan segala yang dhohir ini, bukan hilang dalam arti hilang bentuk dan rupa (nafsul amri), yang terpandang itu hanya Allah semata-mata, yang memandang itu. adalah Allah jua, maka tidak tahuia apa yang ia harus-katakan, tidak pula “ia tahu apakah perkataan yang telah dikatakannya, tidak . pula ia terikat dengan kaedah-kaedah syara’ sehingga mereka dituduh zindig oleh orang-orang Shiddig.
Shiddiqien itu menuduh mereka tidak lain dengan maksud agar tetap terpelihara dhohir syari’at Rasulullah Saw. dan jangan sampai ada yang mengikuti jejaknya, sebagaimana terjadi peristiwa terhadap Hallaj (Husein Ibnu Manshur):
Lalu beliau (Sy. Abd. Wahab Sya’roni) berkata kepada ‘ gurunya “kalau demikian wahaiguru, takada seorangpun yang akan sampai kepada tingkatan tersebut”. Si guru (Sy. “Ali al Khawwash) menjawab: “benar katamu wahai muridku. Namun seorang guru akan dapat membukakan dinding (hijab) bagi muridnya hingga si murid tetap dalam adab yang sempurna (syariat) seperti golongan Salafus Sholihien.
Memelihara dan melaksanakan hukum-hukum syariat
Maka oleh sebab itu, bila telah nyata bagi anda yahasia yang didapat dalam musyahadah itu, jangan anda ceritakan atau beberkan kepada siapa pun karena menceritakan hal-hal itu adalah sebagian yang diharamkan atau dilarang oleh Allah SWT. dan sebenarnya Allah menyuruh anda menutupinya sebagaimana sabda Rasulullah Saw.
Artinya: .
“Dan Allah itu mempunyai beberapa rahasia yang diharamkan mengeluarkannya, maka oleh sebab itu jangan sekalikali anda buka hal itu. |
Bilamana nyata hal itu dengan dzaugi, maka tetaplah anda mengerjakan segala yang diperintah dan menjauhi segala larangan, tetap memelihara adab atau syariat Supaya. kenikmatan dan keindahan rahasia itu tetap ada padamu.
Turutilah ajaran syariat bahwa anda tetap menyembunyikan hal tersebut kecuali kepada ahlinya.
Yang dikatakan ahlinya, adalah mereka yang mempersiapkan hatinya,sunyi dari yang lain daripada Allah, mereka yang menguburkan segala rahasia di dalam dadanya sendiri, hal mana tidaklah mereka beritahukan kepada siapa pun kecuali yang oleh Allah sendiri memerintahkar ‘agar diberi tahu.
Perlu diingat benar-benar bahwa Magom Bago itu berarti pula kembali melaksanakan zahir syariat, amar ma’ruf nahi munkar, melaksanakan perintah dan menjauhi larangan, yang benar adalah benar yang salah adalah salah diberikannya apa yangpantas kepada yang berhak menerima pemberian, disempurnakannya segala hak dan kewajiban sebagaimana mestinya. :
Beberapa kesimpulan :
Kesimpulan dari seluruh uraian ini adalah dua hal, pertama Magom Fana dan kedua, Magom Bago.
Yang menyangkut magom fana adalah :
- Tauhidul Af’al.
- Tauhidul Asma. :
- Tauhidus Sifat
- Tauhiduz Zat.
Semua ini sudah dijelaskan pada pasal-pasal terdahulu, ‘ bagaimana pengertiannya dan bagaimana pula cara-cara musyahadahnya.
Kemudian yang menyangkut magom bago adalah :
- Syuhudul Katsrah Fil Wahdah.
- Syuhudul Wahdah Fil Katsrah
Kedua-duanya inipun sudah pula dijelaskan.
Di antara kedua magom ini (fana dan bago) yang tertinggi adalah magombago. Dapat pula dikatakan, bahwa magom fana itu adalah magom hilang sirna di bawah ahadiyatullah sedang magom bago itu adalah magom kekal dengan wahidiyatullah.
Tentang magom bago ini dapat pula diungkapkan dengan perkataan lain “hawiyatullah dan gayyumiyahNya (ke-Dia-an Allah dan tegak-Nya) sariyun (mesra/ meliputi) pada tiap-tiap zarratul wujud.
Magom Bago dinamai pula dengan nama Magom Tajalli atau Magom Zhuhur. Penguraian seluruhnya dapat disimpulkan dalam 4 (empat) kalimat : .
Artinya :
“Apa pun yang kulihat, hanya Allah yang kulihat besertanya”.
Artinya :
“Apa pun yang kulihat, hanya Allah yang kulihat padanya”.
Artinya :
“Apa pun yang kulihat, hanya Allah yang kulihat sebelumnya”.
Artinya :
“Apa pun yang kulihat, hanya Allah yang kulihat sesudahnya”.
Magom Tajalli ini tidak akan dapat dicapai, sebelum melewati magom fana dan magom “fana’ul-fana”.
Tidak salahnya bila disini dicantumkan beberapa pendapat para Arif Billah mengenai magom bago.
Pendapat Syekhuna ‘Alimul ‘AHamah wal Bahru. mughrig Maulana Syekh Abdullah bin Hijazi Al Mishrj rahimahullahu ta’ala tercantum dalam kitab Wirid Sahur : “Tidak akan dapat tercapai magom Billah itu, kecuali setelah berhasil tingkatfana. Tercapainya tingkat bago | ini adalah dengan jizib. Kalau ada yang berhasif tingkatan bago tanpa melalut tingkatan fana, hal itu adalah jarang terjadi (nadir)”.
Pendapat-pendapat di kalangan Ahli Tasawuf : .
- Fana menurut pengertian tasawuf adalah fana segala hawa nafsu basyariyah (kemanusiaan) dan tampak “nyata sifat-sifat ketuhanan.
- Bagoitu adalah tampak nyatanya “go’im” Allah Ta’ala pada segala sesuatu.
- Al Bago’u An (y) Yakuna Minallahi, Lillahi, Billahi.
Artinya : “Bago’ adalah daripada Allah, karena Allah, dengan Allah”.
Maksudnya: Daripada Allah, dijadikan segala sesuatu ini dan segala yang terjadi.
Karena/untuk Allah, maksudnya segala apa pun juga adalah karena Allah, untuk Allah danpada hakikatnya adalah milik/kepunyaan Allah.
Dengan Allah, maksudnya ada dan diadakan segala sesuatu ini adalah dengan Hak Ta’ala. :
- Syekh Qutubuddin Qasthoni q.s. berpendapat : Magom Fana dan Magom Bago, kedua-duanya adalah . “sifat maknawiyah” pada hamba. Bilamana berhasil pada satu tingkatan, di lain pihak dia berhasil pula.
Dengan pengertian lain, bilamana berhasil magom fana berarti fana pula sifat-sifattercela dan basyariah (kemanusiaan) dan sekaligus berarti berhasil magom bago, kekal dengan sifat-sifat terpuji yang uluhiyah (ketuhanan).
- Syekh Ibrahim bin Sofyan q.s. berpendapat : faria dan bago itu adalah berarti mengandung nilai ikhlas terhadap wahdaniyah (ke-Esa-an) dan menegakkan sifat-sifat kehambaan.
Demikianlah beberapa pendapat tentang masalah fana dan bago,yangbilamana seseorang berhasil mencapai tingkat tersebutakan dapat merasakan rasa lezat kejiwaan yang luar biasa, mendapat gelar shiddig, mugarrabin, ahli tauhid yang benar, arif billah yang sejati.
Setiap nafas dari orang yang demikian mempunyai nilai yang tinggi, seakan sama dengan pahala seribu orang yang syahid sebagaimana ucapan Outhubul Ghaus Mahyunnufus Maulana Sayid Al-‘Idrus q.s.. –
Artinya. :
“Sesungguhnya, tiap nafas seorang arif-billahsama pahalanya dengan seribu orang perang syahid”.
Hitungannafas dalam sehari semalam itu diperkirakan 28.000 kali Wallahu’alam.
Selain itu, orang yang arif-billah telah mendapat apa yang dinamakan “jannatun ma’jalah” (surga yang didapat dengan segera) yaitu surga makrifatullah dan didapat pula apa yang ia inginkan serta kenikmatan pandangan mata yang abadi sebagai yang tersebut di dalam Al. Our’an :
Artinya :
“Di surga itu terdapat apa yang mereka mau serta kesedapan pandangan mata dan mereka kekal di dalamnya”.
Demikian pula sabda Rasulullah Saw :
Artinya :
“Di Surga itu adalah suatu keadaan yang tidak pernah dipandang oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah pula tergambar atau terbayang pada hati manusia”.
Allah bukakan hijab buat mereka dan Allah sendiri memperkenalkan diri-Nya, sehingga mereka dapat mengenal Allah dengan pengenalan yang sempurna, mereka melihat dengan Nyata Zat-Nya yang laisa kamitslihi syai’un sehingga mereka merasa kedekatan dengan sebenarnya, tidaklah mereka dilanda rasa takut dan gentar selamanya sebagaimana tersebut dalam firman Allah.”
Artinya :
“Ketahuilah, sesungguhnya para Wali Allah itu tidak merasa takut dan gentar”.
Mereka memiliki dan mendapat kerajaan serta kemuliaan, sebagai seorang raja mereka dapat berbuat apa saja yang mereka mau, tidak ada satupun yang dapat membantah kehendaknya meskipunbatu dan pasir dapat mereka ciptakan menjadi emas atau perak.
Seperti cerita Ibrahim bin Idham r.a. pada suatu waktu beliau ingin menyeberang laut, beliau minta kepada seorang nahkoda kapal (mallahun) agar menyeberangkan beliau ke satu tujuan, namun semua awak kapal itu tidak bersedia menyeberangkan beliau apabila tidak memberikan upah sedinar emas. Beliaupun sembahyang dua rakaat. Setelah selesai beliau memohon kepada Allah Allahumma Innahum Oad Sa’aluni Ma Laisa ‘Indi Wa ‘Indaka Katsir (Ya Allah, sesungguhnya mereka minta kepadaku sesuatu yang tidak kupunyai, namun Engkau Ya Allah memiliki apa saja banyak sekali). Pasir di pantai kemudian menjadi dinar-dinar emas dengan izin Allah.
Selanjutnya beliau ambil sebuah diantaranya sekedar untuk membayar upah penyeberangan.
Jin dan manusia umumnya tunduk kepada mereka, kehendak dan keinginan mereka sesuai pula dengan kehendak Allah, segala makhluk memberikan penghormatan terhadap mereka, termasuk para raja dan penguasa duniawi.
Benar apa yang dikatakan oleh Sayid Musthofa Ibny Kamajuddin al Bakry r.a. di dalam wirid :
Artinya :
“Hamba yang benar-benar sebagai hamba Allah, Kepada mereka, raja dan penguasa tunduk hormat, segala makhluk menyampaikan khidmat.
Syekh Al-‘Arif Billahi Maulana Syekh Shiddig bin Amir khan q.s. berkata : “segala kaun dan kebendaan ini menyatakan khidmatnya kepada manusia, apalagi terhadap mereka Arif Billah orang-orang utama, ahli kebenaran yang kedudukan mereka bila dibandingkan dengan kedudukan raja atau penguasa jauh lebih tinggi 10 : 1 (sepuluh banding satu).
Kalau para Raja atau Penguasa punya kerajaan di dunia, para Wali-walipun lebih dari itu, yang mana mereka juga akan dapat kerajaan di akhirat, sedang nilai kerajaan akhirat itu jauh lebih besar daripada kerajaan dunia.
Diakhiratmerekaakanmendapatapa yang disebutkan dalam Al-Our’an, firman Allah :
Artinya :
“Bilamana anda melihat di akhirat, anda akan melihat kenikmatan dan kerajaan yang besar. “Terlihatlah betapa besarnya kerajaan akhirat itu dibandingkan dengan kerajaan dunia, sebagaimana pula apa yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. dalam sabda-sabda beliau, dan pendapat-pendapat Ulama yang antaranya berkata : Addun-Ya Agallu Minal Oolil, Wa ‘Asyiquha Adzallu Minadz-Dzalil (Dunia itu pada hakikatnya adalah sedikit daripada yang sedikit, dan lebih hina dari segala yang hina).
Semoga Allah menjadikan kita semua tergolong dalam golongan ahli syuhud dan ahlul-minnah (penuh cita-cita) dihiasi rasa kerinduan dan cinta kasih kepada Allah SWT. serta merasakan kelezatan yang terindah, berkat syafaat Nabi Muhammad Saw. :
Catatan :
Bagian selanjutnya adalah Bagian III yang berupa penutup khotimah dengan penjelasan tentang tingkatan-tingkatan tajalli zat. Sebelum sampai kepada bagian itu, harap ikuti dahulu penjelasan berikut ini. (DN yang diind. “)









One Comment