Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

Catatan Tambahan

Asmaul Husna (Nama-nama Allah yang Baik-baik)

  1. Allah : Lafazh/ ucapan Yang Maha Mulia yang merupakan nama bagi Zat ‘ Ilahi Yang Maha Suci serta wajib ada-Nya (Ismuzzat).
  1. Ar-Rahman : Maha Pengasih, pemberi kenik| matan yang agung-agung, pengasih di dunia atau pengasih pada zahir.
  1. Ar-Rahiem : Maha Penyayang, pemberi : kenikmatan yang pelik-pelik, penyayang di akhirat dan/atau | pengasih pada batin.
  1. Al-Malik ‘ : Maha Merajai, Maha Memiliki, mengatur kerajaan dan milik-Nya : ‘ dengan kehendak-Nya.
  1. Al-Quddus : Maha Suci, suci dari segala cacat dan cela.
  1. As-Salam : Maha Penyelamat, pemberi keamanan dan kesentosaan bagi makhluk-Nya.
  1. Al-Mu’min : “ Maha Pemelihara Keamanan siapa yang salah mendapat siksa, sedang yang taat diberi pahala.
  1. Al-Muhaimin : Maha Penjaga, Maha Pemberi Kebahagiaan lahirbatin,melindungi 9 : segala sesuatu.
  1. Al-Aziz : Maha Mulia, kuasa dan mampu berbuat sekehendak-Nya.
  1. Al-Jabbar : Maha Perkasa, mencukupi segala kebutuhan, melangsungkan segala perintah-Nya serta memperbaiki keadaan seluruhnya.
  1. Al-Mutakabbir : Maha Megah, menyendiri . dengan sifat keagungan dan kemegahan-Nya.
  1. Al-Khaliq : Maha Pencipta, mengadakan seluruh makhluk tanpa asal, juga menakdirkan adanya semua ini.
  1. Al-Bari . : Maha Pembuat, mengadakan sesuatu yang bernyawa yang ada asal mulanya.
  1. Al-Mushawwir : Maha Pembentuk, memberikan gambaran atau bentuk pada sesuatu yang berbeda dengan lainnya, yang sesuai dengan keadaan dan keperluan-nya.
  1. Al-Ghaffar : Maha Pengampun, banyak pemberian maaf-Nya, dan menutupi dosa-dosa dan kesalahan.
  1. Al-Oahhar : Maha Pemaksa, menggenggam segala sesuatu dalam kekuasaanNya serta memaksa makhluk menurut kehendak-Nya.
  1. Al-Wahhab : Maha Pemberi, banyak kenikmatan dan selalu memberi kurnia.
  1. Ar-Razzaq : Maha Pemberi Rejeki, membuat berbagai rezki serta membuat pula sebab-sebab diperolehnya.
  1. Al-Fattah : Maha -Membukakan, yakni membuka gedung penyimpanan rahmat-Nya untuk seluruh hamba- Nya.
  1. Al-‘Aliem : Maha Mengetahui, yakni mengetahui segala yang maujud ini, dan tidak ada.sesuatu benda apa pun yang tersembunyi dari ‘ pengetahuan-Nya.
  1. Al-Qobidl : Maha Pencabut, mengambil nyawa atau mempersempit rezki bagi ‘ siapa yang dikehendaki-Nya.
  1. Al-Basith : Maha Meluaskan, memudahkan terkumpulnya rezki bagi siapa yang diinginkan oleh-Nya.
  1. Al-Khafidl : Maha Menjatuhkan, yakni terhadap orang-orang yang selayaknya dijatuhkan karena akibat kelakuannya sendiri.
  1. Ar-Rafi’ : Maha Mengangkat, yakni terhadap orang yang selayaknya diang-kat karena usahanya yang giat yaitu yang termasuk golongan kaum yang bertakwa.
  1. Al-Mu’iz : Maha Pemberi Kemuliaan, yakni kepada orang yang berpegang teguh kepada agama-Nya dengan memberinya pertolongan dan kemenangan.
  1. Al-Mudzil : Maha Pemberi Kehinaan, yakni – kepada musuh-musuh-Nya dan musuh ummat Islam seluruhnya.
  1. As-Sami’ :’ Maha Mendengar
  1. Al-Bashir : ‘Maha Melihat,
  1. Al-Hakam : Maha Menetapkan Hukum, sebagai hakim yang memutuskan yang tidak seorangpun dapat : menolak keputusan-Nya, juga ‘ tidak seorangpun yang kuasa merintangi kelangsungan hukumNya.
  1. Al-‘Adlu : Maha Adil, serta sangat sempurna dalam keadilan-Nya.
  1. ‘ Al-Lathief : Maha Halus, yakni mengetahui segala yang samar-samar, yang . pelik-pelik dan yang kecil-kecil.
  1. Al-Khobir: : Maha Waspada/Maha Pemberi Khabar.
  1. Al-Halim : Maha Penghiba/Maha Penyantun, penyantun yang tidak tergesa-gesa — melakukan kemarahan dan tidak pula, gegabah memberikan siksaan.
  1. Al Adhiem: : Maha Agung, yakni mencapai puncak tertinggi dari mercusuar ke-agungan karena bersifat . dengan segala macam sifat kebesaran dan kesempurnaan.
  1. Al-Ghafur : Maha Pengampun, banyak pengampunan-Nya kepada hambahamba-Nya. :
  1. As-Syakur ” : Maha – Pembalas, yakni memberikan balasan yang banyak sekali atas amalan yang kecil dan tidak berarti.
  1. Al-‘Aliy : Maha Tinggi, yakni mencapai . tingkat yang setinggi-tingginya yang tidak mungkin digambarkan oleh akal fikiran siapa pun dan tidak dapat dipahami oleh otak yang bagaimana pun pandainya.
  1. Al-Kabir : Maha Besar, yang kebesaran-Nya : tidak dapat diikuti oleh panca indera ataupun akal manusia. .
  1. Al-Hafidz : Maha Pemelihara, yakni menjaga sesuatu jangan sampai rusak dan goncang. Juga menjaga segala amal perbuatan hamba-hamba-Nya, sehingga tidakkan disia-siakan sedikitpun untuk memberi balasan Nya.
  1. Al-Muqit : Maha Pemberi Kecukupan, baik yang berupa makanan tubuh ataupun makanan rohani.
  1. Al-Hasib : Maha Penjamin, yakni memberi jaminan kecukupan kepadaseluruh hamba-Nya, juga dapat diartikan MAHA MENGHISAB amalan hamba-Nya pada hari Kiamat.
  1. Al-Jalil : Maha Luhur, yang memiliki sifat sifat keluhuran karena kesempurnaan sifat-sifat-Nya.
  1. Al-Kariem : Maha Pemurah, mulia hati dan memberi siapa pun tanpa diminta .atau sebagai penggantian .dari sesuatu pemberian.
  1. Ar-Raqieb:’ Maha Peneliti, yang mengamatamati gerak-gerik segala sesuatu . dan mengawasinya.
  1. Al-Waasi’ : Maha Luas, yakni bahwa segala ‘ kerahmatan-Nya itu merata kepada segala yang maujud dan luas pula ilmu-Nya terhadap segala sesuatu.

46: Al-Mujib : Maha Mengabulkan, yang mei menuhi permohonan siapa saja. yang berdoa kepada-Nya.

  1. Al-Hakim : Maha Bijaksana, yakni memiliki ” kebijaksanaan yang tertinggi, | kesem-purnaan ilmu-Nya serta kerapian-Nya dalam membuat segala sesuatu.
  1. Al-Wadud : Maha Pencinta, yang menginginkan segala kebaikan untuk seluruh | hamba-Nya dan pula berbuat baik pada mereka itu dalam segala halihwal dan keadaan.
  1. Al-Majid : Maha Mulia, yakni yang mencapai tingkat teratas dalam hal kemuliaan dan keutamaan.

50 Al-Baa’its . : Maha Membangkitkan, yakni membangkitkan para Rasul, membangkitkan semangat dan kemauan, juga membangkitkan orang-orang yang telah mati dari masing-masing kuburnya nanti setelah tibanya Hari Kiamat.

  1. Asy-Syahid : Maha Menyaksikan atau Maha Mengetahui keadaan semua makhluk.
  1. Al-Haq . : Maha Haq, Maha Benar yang kekal dan tidak akan berubah sedikitpun.
  1. Al-Wakil : Maha Memelihara Penyerahan yakni memelihara semua urusan hamba-hamba-Nya dan apa-apa yang menjadi kebutuhan mereka itu.
  1. Al-Qawiy : Maha Kuat, yaitu yang memiliki kekuatan yang sesempurna| sempurna-nya.
  1. Al-Matin : Maha Kokoh atau Perkasa, yakni memiliki keperkasaan yang sudah sampai dipuncaknya.
  1. Al-Waliy : Maha Melindungi, yakni melindungi serta menertibkan . semua kepentingan makhluk-Nya karena kecintaan-Nya yang sangat pada mereka itu dan pemberian pertolongan-Nya yang tidak terbatas pada keperluan mereka.
  1. Al-Hamid : Maha Terpuji, yang memang sudah selayaknya untuk memperoleh pujian dan sanjungan.
  1. Al-Muhshi : Maha Menghitung, yang tidak satupun tertutup dari pandangaNya dan semua amalan itupun diperhi-tungkan sebagaimana wajarnya.
  1. Al-Mubdi : Maha Memulai, yang melahirkan sesuatu yang asalnya tidak ada dan belum maujud.
  1. Al-Murid : Maha Mengulangi, – yakni menumbuhkan kembali setelah lenyapnya atau setelah rusaknya.
  1. Al-Muhyi : Maha Menghidupkan, yakni memberikan daya kehidupan pada setiap sesuatu yang berhak hidup.
  1. Al-Mumit : Yang Maha Mematikan, yakni mengambil kehidupan (roh) dari apa-apayang hidup, lalu disebut mati.
  1. Al-Hayy : : Maha Hidup, kekal pula hidupNya itu.
  1. Al-Oayyum : Maha Berdiri Sendiri, Baik Dzatnya, Sifatnya, Asmanya, dan Af’alnya. Juga membuat berdirinya apa-apa yang selain Dia. Dengan-Nya pula berdirinya langit dan bumi ini. ‘
  1. Al-“waajid : Maha Kaya, dapat menemukan apa saja yang diinginkan-Nya, maka tidak membutuhkan pada suatu apa pun karena sifat kaya. Nya yang secara mutlak.
  1. Al-Maajid : Maha Mulia (sama dengan no. 49) yang berbeda hanyalah tulisannya dalam bahasa Arab.
  1. Al-Waahid : Maha – Esa.
  1. As-Shomad : Maha Dibutuhkan/Tempat Bergantung, yakni selalu menjadi : tujuan dan harapan orang diwaktu ada hajat dan keperluannya.
  1. Al-Qaadir : Maha Kuasa
  1. Al-Muqtadir : Maha Menentukan
  1. Al-Muqaddim : Maha Mendahulukan, yakni mendahulukan sebagian benda dari yang lainnya. dalam perwujudannya, atau dalam kemuliaan, selisih waktu dan tempatnya.
  1. Al-Mu’akhkhir : Maha Mengakhirkan atau Membelakangkan.
  1. Al-Awwal : Maha Pertama, dahulu sekali dari semua yang maujud .
  1. Al-Aakhir : Maha Penghabisan, Kekal selama-lamanya tanpa ujung.
  1. Adh-Dhohir : Mahanyata, yakni menyatakan dan menampakkan. ke-wujudan-Nya itu dengan bukti-bukti dan tanda-tanda ciptaan-Nya.
  1. Al-Baathin ‘ Maha Tersembunyi, tidak dapat dimaklumi Dzatnya, sehingga tidak seorangpun yang dapat mengenal Dzatnya (istilah D.N. Kunhi Dzat).
  1. Al-Waati : Maha Menguasai, menggengam | sesuatu dalam kekuasaan-Nya dan menjadi milik-Nya.
  1. Al-Muta’ali : Maha Suci/MahaTinggi terpelihara dari segala kekurangan dan kerendahan.
  1. Al-Barr : Maha Dermawan, banyak kebaikan-Nya dan besar : kenikmatan yang dilimpahkan| -Nya.
  1. At-Tawwab : Maha Penerima Taubat, memberikan pertolongan kepada Orang-orang yang bermaksiat untuk melakukan taubat lalu Allah akan mencrim.. Nya.
  1. Al-Muntaqim : Maha Penyiksa k–. :: orang yang berhakuntuk mu. . eroleh siksa-Nya.
  1. Al-“Afuw : Maha Pemaaf, pelebur kesalahan orang yang suka kembali untuk meminta maaf kepada-Nya.
  1. Ar-Ra’uf : Maha Pengasih, banyak ke rahmatan-Nya dan kasih sayangNya.
  1. Maalikul-Mulki : Maha Menguasai Kerajaan, maka segala perkara yang berlaku di alam semesta, langit, bumi dan sekitarnya serta yang dibaliknya alam semesta itu semuanya sesuai dengan kehendak dan iradat-Nya.

85 Dzul-Jalali : Maha Memiliki Kebesaran Wal Ikram dan Kemuliaan, juga dzat yang mempunyai keutamaan dan : kesempurnaan pemberi karunia dan kenikmatan yang amat , banyak dan melimpah ruah.

  1. Al-Muqsith : Maha Mengadili, yakni memberikan kemenangan pada orang-orang yang teraniaya dari tindakan orang-orang yang menganiaya dengan keadilan-Nya.
  1. Al-Jaami’ : Maha Mengumpulkan, yakni mengumpulkan berbagai hakikat | yang telah bercerai-berai dan juga mengumpulkan seluruh ummat manusia pada hari pembalasan.
  1. Al-Ghoniy : Maha Kaya, maka tidak membutuhkan apa pun dari yang selain Dzat-Nya sendiri, tetapi yang selain-Nyaitu amatmembutuhkan pada-Nya.
  1. Al-Mughniy : Maha Pemberi Kekayaan, yakni memberikan kelebihan yang berupa kekayaan yang berlimpah-limpah kepada siapa saja yang di-kehendaki dari golongan hamba-hamba-Nya.
  1. Al-Maani’ : Maha Pembela atau Maha Penolak, yaitu membela hamba-hamba-Nya yang shalih dan menolak sebab-sebab yang menyebabkan kerusakan.
  1. Adl-dlar: Maha Pemberi Bahaya, yakni dengan menurunkan siksa-siksa| Nya kepada musuh-musuh-Nya
  1. An-Naafi’ : Maha Pemberi Kemanfa’atan, ‘ yakni meratalah kebaikan yang dikaruniakan-Nya itu kepada semua hamba dan negeri
  1. An-Nur : Maha Bercahaya, yakni menonjolkan Dzatnya sendiri dan menampakkan untuk yang selain-Nya dengan menunjukkan : tanda-tanda kekuasaan-Nya.
  1. Al-Haadi . : Maha Pemberi Petunjuk, yaitu memberikan jalan yang benar kepada segala sesuatu agar langsung adanya dan terjaga: kehidupan-nya.
  1. Al-Badi’ : Maha Pencipta yang Baru, sehinggatidakadacontoh dan yang menyamai sebelum keluarnya ciptaan-Nya itu.
  1. Al-Baagi : Maha Kekal, yakni kekal hidup| Nya. untuk selama-lamanya.
  1. Al-Warits : Maha Pewaris, yakni kekal setelah musnahnya seluruh makhluk.
  1. Ar-Rasyid : Maha Cendekiawan yakni memberi penerangan dan tuntunan pada seluruh hamba-Nya dan yang segala peraturan-Nya itu berjalan menurut ketentuan yang i digariskan oleh ke-bijaksanaan dan kecendekiawanan-Nya.
  1. Ash-Shabur : Maha Penyabar yang tidak tergesa-gesa memberikan siksaan dan tidak pula cepat-cepat melaksanakan sesuatu sebelum waktunya.

Jalla-Jalaluh : Nyata Benar Kemuliaannya.

Hadist Rasulullah Saw., riwayat Ibnu Majah .

Artinya :

“Allah mempunyai 99 nama, siapa yang menghafalnya masuk surga. Sesungguhnya Allah itu maha ganjil dan paling senang kepada yang ganjil (tidak genap)”.

Ismul ‘Adhom (Nama Yang Agung) atau umumnya disebut nama yang satu.

Allah Swt. mempunyai nama Yang Agung, siapa yang berdoa, doanya terkabul. Banyak ‘ orang yang mencari-cari nama tersebut, yang umumnya juga disebut “Nama Yang Satu” Kadang-kadang ada orang yang mengajarkannya dengan cara-cara dan syarat-syarattertentu, ditambahi ulasan, “apabila cecak mendengar, cecakpun masuk surga”.

Untuk hal tersebut, Syekh Abdurrahman Shiddiq penyusun Kitab “Amal Ma’rifat sangat tidak menyetujui bahkan oleh beliau dikatakan bid’ah (mengada-ada).

Salah seorang guru saya, mengatakan bahwa nama yang dimaksud (Ismul ‘Adhom) adalah suatu rahasia antara seorang hamba yang dikasihi-Nya dengan Dia sendiri, tidak mungkin diketahui dan disampaikan kepada orang lain.

Syekh Abu Hayyullah Al-Marzugi dalam kitab beliau (salah seorang “Ulama ahli “Ilmu Hikmat) yang bernama Jawahirul-Luma’ah, di sana banyak sekali nama-nama yang disebutkan Ismul ‘Adhom.

Berdasarkan beberapa Hadits Rasulullah Saw. antaranya sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Buraidah r.a. katanya :

Artinya : “Nabi Saw. mendengar seorang laki-laki berkata doanya: Ya Allah sesungguhnya hamba memohon kepadaMu, dengan sesungguhnya aku naik saksi bahwa Engkau adalah Allah yang tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Engkau, Yang Maha Esa, Tempat bergantung, yang tidak beranak dar tidak diperanakkan dan tidak pula yang dapat menyamai-Nya.

Buraidah berkata selanjutnya – Lalu Rasulullah bersabda, . Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, sesungguhnya orang itu telah meminta kepada Allah dengan nama-Nya yang agung. Yang apabila dipanjatkan doa dengan nama itu, Allah kabulkan dan apabila dimintai dengan Ismul ‘Adhom itu diberi-Nya.

Selain itu, ada pula Hadits Rasulullah yang lain diriwayatkan dari Asma puteri Yazid r. ‘anha, katanya. Nabi Saw. bersabda :

Artinya : “Nama Allah yang Agung ada di dalam dua ayat ini: -“wa ilahukum…….(Tuhanmu adalah Esa, tidak ada Tuhan lain yang patut disembah kecuali Dia Yang Maha Pengasih Maha Penyayang) dan pada pembukaan surat Ali “Imran, -alif lam mim …….. (Alif Lam Mim, tidak ada Tuhan lain kecuali Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri dengan sendiri-Nya ‘.

Banyak Hadits Rasulullah yang mengungkapkan tentang ini, namun Ismul ‘Adhom yang dimaksud kelihatannya “tersembunyi” di dalam susunan kata-kata yang panjang.

Syekh Sayyid Sabiq dalam Kitab beliau yang bernama Oawa’idul Islamiyah cetakan Darul Outhub 1383 H. Kairo, beliau menjelaskan : “….jikalau seorang memahami pengertian dan makna dari semua nama-nama dan berkesan dalam jiwanya sendiri disertai penyelidikan atas nama-nama tersebut maka akan terbuka jelas baginya hakikat yang ada dalam alam semesta ini………..’.

Ucapan Al-Hallaj yang menjadi permasalahan. Al-Hallaj, nama yang sebenarnya adalah Husein Ibnu Manshur lahir 244 H. meninggal 309 H. di Bagdad.

Persangkaan bahwa dia adalah golongan Syi’ah masih belumadaketerangan yang kuat. Yangjelas dia mempunyai faham sendiri sepanjang ilmu yang dipelajarinya dan diyakininya.

Di antara sekian banyak ucapannya, terdapat ‘ kesimpangsiuran kata-kata, kadang-kadang seakan-akan Hulul, dan kadang-kadang kedengarannya Ittihad dan kadang-kadang juga dalam nada-nada Mahabbah (Cinta Kasih) yang berkelebihan sehingga lahir dari lidahnya katakata Syathathah.

Kata-kata yang menghebohkan ituialah :

Artinya : “Akulah Al-Haq, apa yang dalam jubahKu adalah Tuhan”.

Menurut suatu ulasan, bahwa dia sendiri tidak mengakui bahwa jubah yang dimaksud adalah jubah yang ia pakai,jubah yang dimaksudkan adalah jubah Tuhan sendiri Selain itu ada pula kata-katanya :

Ana Ahwa Waman Ahwa Ana Nahnu Ruhani Hallalna ‘Badana.

“Artinya : Aku rindu, yang kurindui adalah Aku, kami dua roh yang bersatu tubuh.

Dilihat susunan kata-katanya ini, jelas sekali dalam keadaan Hulul (bersatu antara dia dengan Tuhan). Di lain fihak dia sendiri menyatakan tentang kefanaan dirinya.

Apa yang dia katakan semuanya itu tidak bisa dijadikan hujjah atau diambil sebagai suatu keterangan untuk menjadi pegangan kita. Hal itu tentu khusus untuk dia sendiri yang lahir dari perasaannya sendiri (dzaugnya). Mungkin karena “mabuknya” yang dalam istilah kalangan Shufi “sakar rububiyah”.

Dari segi ini mungkin, sampai Syekh Outhubul ‘Azham ‘Abdul Oadir Jaelani q.s. berhasrat mencegah pembunuhan terhadap Al Hallaj, andaikata terjadi semasa dengan beliau.

Hadits Rasulullah Saw. yang dikemukakanoleh Imam Ghazaly r.a. berbunyi :

Artinya :

Perbanyaklah mengatakan la-Ilaha Illa Allah, meskipun mereka berkata, orang gila.

Kepada orang-orang. yang belum sampai/ mencapai tingkat perasaan yang demikian (dimabuk cinta) jangan coba-coba untuk meniru-niru kata-kata tersebut atau dengan mudah membuat kata-kata yang serupa, selain apa yang tercantum dalam Al-Our’an.

Bahayanya besar sekali. Tanpa mencapai tingkatan perasaan atau kesadaran yang tinggi, salah-salah akan serupa dengan Fir’aun la’natullah (na’udzu billahi min dzalik).

Namun demikian, bagaimana pun  juga, ‘ilmunya dapat. dituntut oleh orang yang berminat untuk menambah pengetahuan dalam bidang ini, dan baik pula untuk dipelajari sebagai ilmu pengetahuan perbandingan. Semoga kita bisa mencapai tingkatan makrifatullah dalam arti kesadaran yang hakiki.

Yang penting dalam pengertian kita adalah, bahwa kita ini adalah “hanya setetes embun berbanding dengan lautan yang tak terbatas” apabila kita membandingkan diri kita dengan Allah SWT.

Hal itu bukanlah kata-kata lagi, hendaklah dihayati dengan penuh perasaan murni dan akal murni, pasrah dalam arti yang hakiki, cinta yang bukan dibuat-buat. Menghafal nama-nama Allah SWT. masuk surga.

Untuk menghafalkan nama-nama Allah bukanlah soal yang sukar dan sulit, semua orang akan bisa. :

Bagi seorang muslim, menghafal nama-nama tersebut tentu ada harga dan nilainya meskipun dalam arti hafalan. Tetapi apakah dengan menghafal demikian saja, dapat menjamin masuk surga? Bagaimana kalau

| seorang fasik atau munafik yang menghafalkannya?.

— Untuk menjawab itu dapatlah kita kemukakan, bahwa Mukmin Kholis (Mukmin yang bersih imannya) adalah mereka yang benar-benar menghayati Nama-nama Tuhan itu bagi diriya dan segala sesuatu ini.

 Bagi mereka, Allah yang mempunyai banyak namanama itu tajalli/tarmpak nyata dan lebih nyata dari apa pun juga.

Mereka takut berkata bohong (suatu ciri orang munafik) karena pasti kedengaran oleh Allah As-Sami’u (Maha mendengar) pasti pula dilihat dan diketahui oleh Al-Bashir (Maha melihat) dan Al-‘Alim (Maha Tahu) dan seterusnya.

Konon lagi Allah itu Ooribun (Maha dekat) lebih dekat dari diri sendiri.

Orang yang ‘Arif Billah merasakan benar-benar nyatanya As-Salam (Maha penyelamat) Al-Mu’min (Maha Pengaman) Al-Muhaimin (Maha Pemberi kebahagiaan)oleh karena itulah mereka tidak merasa takut dan gentar menghadapi hidup ini. Merekalah yang dituju oleh firman Allah :

Artinya :

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Wali-Wali Allah itu, tidak merasa takut dan tidak pula merasa gentar”.

Rezki buat mereka sudah ada yang menjamin yaitu Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezki) sudah pula ada ketentuannya ditangan Al-Mugtadir (Maha Menentukan). Karena mereka tidak tahu jumlahnya rezki itu, merekapun meminta dengan penuh kesungguhan karena Allah itu AlWahhab (Maha Pemberi) dan Al-Mujib (Maha Memperkenankan). ,

Allah itu Al-Ghoniy (Maha Kaya) Al-Kariem (Maha Murah/Dermawan) mereka yakin bahwa bagi Allah, tidak ada kesulitan untuk memperkenankan apa yang mereka mau karena sifat permurah-Nya, tidak sebagai manusia satu saat dia pemurah tapi di saat lain manusia itu bersifat kikir.

Pada waktu mereka makan dan minum, terasa sekali nyatanya Al-Muqit (Maha Mencukupi termasuk segala makan dan minum) bahkan lebih nyata buat mereka AlMugit dibanding dengan makanan dan minuman yang mereka hadapi.

Semua ini adalah permainan rasa, rasa iman, rasa yakin, rasa kebenaran, rasa indah, rasa cinta dan rasa kerendahan dirinya dalam arti yang hakiki, berbaur dengan asyik dan indahnya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker