Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

Martabat Insan/Alam Insan

Insan atau alam semesta ini jelas sekali sebagai yang dikatakan “ainul Haqqi”. Apabila manusia sudah mengerti, faham dan sadar tentang asal usul rohnya sendiri, hakikat dari pada dirinya yangsebenarnya maka seharusnya dan sewajarnya dengan kesadaran demikian tidak akan dia menurunkan harkat dirinya sebagai manusia kepada hakikat kebinatangan.

Memang ada yang bertanya, bukankah manusia itu asalnya dari pada tanah? Sebagaimana yang banyak disebutkan dalam Al-Our’an? Teori martabat-tujuh ini bukanlah melemahkan dalil-dalil dan nas-nas yang sudah nyata dalam Al-Our’an yang menyatakan manusia dari pada tanah.

Tentang asal dari pada tanah adalah jasmaniatnya manusia sebagai di bagian muka ada dijelaskan bahwa jasmaniatnya manusia adalah termasuk “unsur ardli” (unsur bumi).

Tetapi rohnya manusia bukanlah berasal dari tanah, seperti apa yang difirmankan oleh Allah sendiri di dalam. Al-Our’an :

Artinya : “Aku tiupkan dari RohKu padanya (Adam).”

Apabila seseorang yang sudah memahami dan mengerti serta sadar tentang hakikat dirinya, lalu didasarkan keyakinan yang mantap dia ber’”musyahadah” dengan cara musyahadah yang benar, tidak ada pada hakikatnya segala yang muhaddas ini, yang ada hanya Dodim – sebagai Mazhar Wujud Allah dia tegakkan sifatsifat kehambaan, orang demikian inilah yang benar-benar : hamba kekasih Allah seperti yang dimaksud Hadis Oudsi “pandangannya, pendengarannya, perasaannya, tenaganya (pada kaki dan tangan) hatinya, diakui oleh Allah sebagai pandangan pendengaran, perasaan, hati dan tenaga Allah sendiri.

Sementara orang ada yang mengira bahwa dengan sampai tingkatnya seseorang pada tingkat itu, apasaja yang ia mau bisa jadi, hal-hal yang kharigun lil’adat (luar biasa) mudah bagi mereka.

Perkiraan ini mungkin pula benar tetapi mungkin juga keliru. Benarnya, karena apa yang mereka inginkan tentu sesuai dengan apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah buat mereka dan mereka diberi tahu oleh Allah dalam hal itu. Kelirunya, bila kemampuan mereka demikian itu dianggap seakan-akan bisa saja kita minta agar mau menuruti kehendak kita sebagai yang sering terjadi, misalnya ada seseorang dikhabarkan bertaraf waliullah, berbondong-bondong manusia datang kepadanya, meminta kepada si wali itu dengan bermacammacam maksud dan kehendak, padahal permintaan itu pada umumya berbau dunia semata-mata (minta banyak rejeki, minta sembuhkan penyakit, minta pangkat atau jabatan dan lain-lain).

Si Wali kadang-kadang tidak mau melayani, akhirnya dianggap salah. Atau si Wali berkata Insya Allah, kemudian . ternyata tidak berhasil, lalu si Wali itulah yang dipersalahkan.

Kita harus mengerti bahwa mereka yang sampai pada tingkat tinggi dalam makrifat kepada Allah hatinya dan jiwanya penuh dengan “mahabbah” kepada Allah, cinta kasih serta penuh kerinduan hanya kepada Allah, mungkinkah ada kecenderungan dan keinginan mereka untuk hal-hal yang sifatnya duniawi secara berlebihlebihan? Sebagaimana cerita Ibrahim bin Adham r.a.  pasir bisa menjelma menjadi uang, namun yang beliau perlukan hanya sebiji dinar sekedar membayar ongkos penyeberangan, tidak ingin mengantongi uang itu sebanyak banyaknya.

Memang masalah karomah untuk orang-orang Arif Bilah, adalah sesuai dengan firman Allah dan sabda Rasulullah Saw. sudah dijanjikan oleh Allah untuk mereka.

Sikap kita terhadap mereka, hendaklah dengan penuh hormat dan ta’dhim kita, karena memuliakan para waliullah besar sekali hikmah dan barakahnya. Tetapi bukanlah mereka didesak-desak dengan bermacam-macam kehendak dan keinginan kita.

Masalah karomah ini akan kita uraikan pada halaman lain.

Tidak benar para Arif Billah mengakui dirinya sebagai Tuhan

Manusia mana pun juga yang mengakui dirinya sebagai Tuhan adalah “syirik”. Sebagaimana Fir’aun la’natullah alaihi, pernah mengakui dirinya sendiri sebagai Tuhan, akhirnya hancur lebur.

Banyak bukti menunjukkan betapa bahayanya bila seseorang mengakui dirinya sendiri sebagai Tuhan, lebihlebih kata-kata demikian keluar dari mulutnya dengan penuh kesombongan.

Lalu bagaimanakah dengan adanya ucapan dari Al-Hallaj (Husein ibnu Manshur) yang menghebohkan itu? Bagaimana pula dengan ucapan-ucapan Abu yazid Busthomi r.a. yang kedengarannya cukup ngeri? Dan bagaimana pula puisi dan sajak dengan gaya bahasa yang indah yang mereka susun dalam tema yang sama?

Di Sumatera ada Hamzah Fansuri, di Jawa ada Syekh Siti Jenar, di Kalimantan ada H. Abdul Hamid Habulung (dikenal dengan Datuk Habulung) danbanyak lagi mungkin, ‘ Sama-sama pernah berungkap kata semacam Al-Hallaj. Terlepas dari soal mereka telah menerima hukum bunuh oleh penguasa pada masanya, hal mana dapat dimengerti karena adanya pengaruh politik dan pengaruh lain, namun kita akan mencoba memberi nilai secara obyektif sebagaimana penilaian yang pernah diberikan oleh Imam Ghazali r.a. atau Syekh Abdul Oadir Jaelani q.s. Sulthonul-Awliya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker