Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

PASAL 3 : TAUHIDUS – SHIFAT

(Tentang ke-Esa-an Sifat-sifat | Allah Swt.)

Yang dimaksudkan tentang ke-Esa-an sifat Allah adalah sepanjang pengertian”f ana seluruh sifat-sifat makhluk termasuk sifat dirinya sendiri di dalam atau pada sifatsifat Allah SWT.”

Cara untuk memusyahadahkan sifat-sifat Allah tersebutadalah: “bahwa segala sifat apa pun yang melekat/ berdiri pada zat seperti sifat-sifat kodrat (kuasa) iradat (kehendak)ilmu (tahu) hayat (hidup) sama’ (pendengaran) bashar (penglihatan) kalam (berkata-kata) pada hakikatnya semua itu adalah sifat-sifat Allah”. Yang ada pada makhluk itu sebenarnya hanyalah mazhar dari sifat-sifat Allah, karena sifat-sifat makhluk ini hanya majaz (bayangan) saja.

Apabila musyahadah anda tambah mantap (tahkik) akhirnya anda akan dapat merasakan bahwasifat-sifat anda adalah fana (lenyap sirna) di dalam/pada sifat-sifat Allah. Terasalah bahwa pendengaran itu adalah pendengaran Allah,-artinya tiada pada hakikatnya pendengaran hamba melainkan dengan pendengaran Allah, tiada lagi penglihatan hamba pada hakikatnya melainkan dengan penglihatan Allah.

Tiada lagi pada hakikatnya pengetahuan hamba, hidup hamba, kuasa hamba melainkan dengan pengetahuan, hidup kuasa Allah SWT.

Dalil (nas) yang membenarkan hal tersebut adalah dengan adanya sebuah Hadits Oudsi (firman Allah yang langsung datangnya ke dalam kalbu Rasulullah) yang berbunyi :

Artinya :

“Orang-orang yang merasa dekat kepada-Ku, tidak hanya melaksanakan apa yang aku fardlukan kepada mereka, malah si hamba itu merasa dekat kepada-Ku dengan melaksanakan amal-amal sunnah (tambahan) hingga Aku pun mencintainya. Apabila : Aku sudah mencintainya, Akulah menjadi pendengarannya yang dengan itulah dia mendengar, Akulah menjadi penglihatannya yang dengan itulah ia melihat, Akulah yang menjadi lidahnya yang dengan itulah ia berkata-kata. Aku menjadi tangannya yang dengan itu ia memegang, Akulah yang menjadi kakinya yang dengan itu ia berjalan dan aku pulalah yang menjadi hatinya yang dengan itu ia berdlomir (bercita-cita) – Riwayat Imam Bukhari.

Cara-cara yang tepat agar Tajalli Sifat (nampaknya sifat-sifat Allah) itu adalah dengan suatu pandangan (syuhud) yang mantap bahwa pendengaran hamba itu adalah dengan pendengaran Allah, maka berarti fanalah pendengaran dirinya, kemudian setelah tajalli (nyata) pada perasaan anda sifat Sama’ Allah (pendengaran Allah)hendaklah berpindah dari satu sifat ke sifat yang lain dengan musyahadah yang tekun. (tadrij – satu persatu).

Yakni seperti sifat-sifat Bashar, Kalam, Ilmu, Iradat, atau sifat-sifat seperti ‘atho (pemberi) man’u (tahan) yang semuanya adalah sifat-sifat Allah. Sedang yang ada pada hamba itu hanya sekedar “menerima” saja dari pada-Nya.

Setelah selesai serhuanya, hendaklah anda pandang (syuhud) bahwa hanya Allah yang Hayyun (Maha Hidup) maka berarti fanalah sifat hayat itu dari diri anda.

Mana kala anda berhasil dengan cara-cara demikian yang berarti pula telah fana sifat maka langsung anda mencapai magom atau tingkatan bagobillah (kekal dengan sifat-sifat Allah).

Dengan demikian berarti pula anda telah mencapai kemenangan pada ketika itu dengan pengenalan atau kesadaran yang benar.

Oleh sebab itu, kenalilah Allah dengan layak dan dengan pengenalan yang sempurna. agar anda benar-benar dapat merasakan Fana Fi Shifatillah (lenyap dalam/pada sifat-sifat Allah) dan Bago Bi Shifatillah (kekal dengan sifat-sifat Allah) Allah akan memberi tahu kepada anda tentang rahasia-rahasia sifat-Nya yang mulia.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker