Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

PENJELASAN TAMBAHAN

Martabat tanazzul yang umumnya disebutkan Martabat Tujuh anazzul artinya menurut bahasa “menurun”. Lawan katanya adalah “targy” artinya “menaik”. Kedua istilah ini cukup dikenal di kalangan Ilmu tasawuf. .

Cerita Mi’rajnya Rasulullah Saw. pada waktu naik ke langitjuga dinamakan “targy” dan pada waktu beliau turun ke bumi dinamakan “tanazzul”.

Adapula pengertianlain, bahwa kita inijangan “targy” melulu, maksudnya jangan “hakikat” semata-mata,:

“akibatnya akan meninggalkan syariat. Dan jangan pula “tanazzul’ melulu, maksudnya jangan syariat semata,. akibatnya ibadat demikian tidak mendapat nilai.

Oleh itu pengarang kitab D.N menyatakan bahwa dengan adanya martabat atau tingkatan itujangan diartikan “turun” menurut tingkatan waktu dan tempat.

Didasarkan kepada rumusan ini, maka nyata sekali pendapat Arif Billah bahwa “insan ‘ainul Haqqi (Manusia kenyataan Tuhan).

Penampilan teori Martabat Tanazzul, Martabat Tujuh . ini benar-benar memudahkan proses pengertian dan faham, dibandingkan dengan teori af’al, asma, dan sifat :

Dalam tangga peningkatan makrifat, yang lebih penting adalah “mengerti” dan “faham”. Karena dengan demikian berarti akal sudah bisa menerima.

Lalu kemudian mengikuti proses berikutnya ialah “yakin” meskipun mungkin belum merupakan keyakinan yang mantap. Apabila seseorang sudah dapat menjelajahi wilayah “yakin” maka berarti sudah mulai memasuki nilai rasa atau zaug, hal mana adalah sasaran pokok dari pada Ilmu Tasawuf. ,

Apabila sudah sampai kepada suatu tingkatan yang dinamakan “tahkik” atau mantapnya keyakinan, tidak akan goyah lagi dalam keadaan apa pun dan bagaimana punjuga, seakan-akan seribupedang sejuta peluru untuk merubah keyakinan dan pegangannya atau itikadnya tidak di hiraukan. Apalagi kalau hanya seribu kata dan. seribu dalih.

Orang yang demikian ini dinamakan dengan ahluttahkik dan termasuk golongan muHaqqigin. Salah seorang guru saya berkata “apa bila undur setapak ikam kapir”. Ahadiyat, Wahdah, Wahidiyah

Ketiga kata ini dapatpula kita artikan dengan ke-Esaan Zat, ke-Esa-an Sifat dan ke-Esa-an Asma. Ketiga-tiganya . adalah gadim, karena ketiga-tiganya tidak bisa dipisah cerai.

Sudah dijelaskan bahwa adanya istilah-istilah itu pada “itibar makna”.

Ahadiyat adalah suatu tingkatan di mana pengertiannya hanya Kunhi Zat semata-mata yang laisa kamitslihi syai’un. Pada keadaan demikian dinamakan pula “penuh yang tidak terbatas atau ada pula yang menamakan “Kekosongan yang berisi”.

Pada tingkat itu “belum ada apa-apa, Ruang, dan Kosong pun belum ada”, yang ada hanyalah si Ada, padahal kata-kata Ada itupun belum ada. Di tingkat inilah yang dinamakan Oiyamuhu Ta’ala Binafsihi tidak terjangkau oleh akal dan fikiran manusia.

Kemudian, apakah si Ada yaitu Allah SWT. belum mempunyai dan memiliki sifat? Mustahil, : Kalau belum memiliki sifat, berarti sifat itu adalah sesuatu yang baru, kemudian dilekatkan atau menempel pada Zat. Hal ini jelas tidak diterima oleh akal dan tidak bisa jadi terhadap Zat Allah Yang Maha Suci.

Kalau demikian maka sifat-Nya si Ada sudah siap sedia bersamasi Ada sendiri, kalau si Adaitu gadim maka . sifatNya pun juga gadim.

Tingkatan pengertian tentang sifat ini dinamakan dengan kata Wahdah. Namun semua sifat-sifat dan nama sifat-sifatitu tersembunyi pada tingkatan wahdah dalam arti keseluruhan (mujmal)

Mustahil adanya kalausi Adaitu tidak mempunyai nama. Seorang anak yang baru lahirpun sudah sedia dengan namanya sendiri. Sebelum dia diberi nama oleh orang lain (ayah dan ibu-nya) semua orang tentu berkata dengan spontan si “Bayi” lahir. Nama “si bayi” ini adalah suatu nama yang sudah sedia pada dirinya

Pada tingkat wahdah inilah si Ada berkata “Sesungguhnya Akulah Allah” terurai namaNya yang sebenarnya (munfashil) “Aku Adalah Perbendaharaan Tersembunyi, Aku Berkeinginan Untuk Dikenal Lalu Kujadikanlah Makhlukku, Agar Dia Kenal Kepadaku”. Semua ini jelas terurai. Alam Roh, Alam Mitsal, dan Alam Ajsad/Ajsam

Sehubungan dengan kehendak Allah SWT. agar Dia dikenal, Allah dijadikan Alam Semesta ini pada tingkattingkat tertentu.

Yang menjadi pertanyaan, bahan baku untuk menjadikan alam nyata ini apa? Maha Sucilah Allah dari pada bertanya-tanya.

Pada tingkat Allah SWT. berdiri dengan sendiriNya, penuh dengan keadaanNya sendiri. Pada tingkat itu tidak”

ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Maka apabila Allah menciptakan bahan baku daripada Alam dan segala sesuatu ini, tentulah “bahan baku” itu dari diriNya sendiri, bukari dari sesuatu yang lainkarena sesuatu yang lain pada tingkat itu belum ada. Pengertian “bahan baku itu dari diriNya sendiri” bisa kita artikan dari sifat kelamNya”Kun” dan dari sifat “Iradatnya” (kehendak).

Yang kita maksudkan dengan istilah “bahan baku” ini, tentu-lah Nur Muhammad sebagai yang tercantum dalam beberapa Hadis Nabi Saw. Sebelum Nur Muhammad ini zahir sebagai sesuatu “yang diadakan” (makhluk) pastilah Nur Muhammad yang Diadakan.ini sudah tersedia secara mujmal dalam Hidlrat/ Martabat Wahdah.

Dengan demikian, maka kita dapat menerima keterangan Hadis Rasulullah Saw. bahwa ‘Nur Muhammad Adalah Daripada Nur Zat Allah SWT.” Apabila kemudian ternyata sudah ada bahan bakunya tentu -tidak ada kesulitan lagi bagi Allah SWT. untuk selanjutnya menciptakan roh, alam mitsal dan alam ajsad/ ajsam. Atau dengan lain perkataan, bahwa memang Allah sendiri berkehendak untuk menciptakan sesuatu ini dengan lebih dahulu menciptakan Nur Muhammad sebagai sumbernya.

Saya ingin mencoba membawakan sebuah contoh, seorang yang bernama “A” hendak membangun rumah, semoga dapat membuahkan pengertian dalam rangka memahami Martabat Tanazzul ini.

Contoh si A membangun rumah

I.Qadim (si Ada yang Sedia)

  1. Manusia

Esa Zat , Diri Esa Sifat Sifat/rupa

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker