Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

PASAL 4: TAUHIDUDZ DZAT (Ke-Esa-an Dzat)

Pasal ini adalah pasal ke empat yang menjelaskan tentang Tauhiduz Zat yaitu menyatakan ke-Esa-an Allah pada Zat-Nya.

Magam atau tingkatan inilah magam yang tertinggi dan tidak ada lagi tingkatan yang lebih tinggi dari ini.

Pada tingkatan inilah titik puncak pengetahuan makhluk tentang Allah SWT. atau tujuan terakhir dari perjalanan menuju Allah, pelabuhan dan bandar terakhir dalam perjalanan.

Pada tingkatan inilah akan dapat dirasakan suatu kelezatan yang tidak dapat digambarkan oleh kata-kata dan suara, oleh huruf dan angka.

Tidak ada yang mampu untuk melebihi tingkatan ini meskipun Para Nabi-nabi yang diutus (mursal), sekalipun malaikat muqarrabien. Tiada satupun makhluk ini yang dapat mencapai tingkatan Kunhi Zat (keadaan Zat). Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah :

Artinya : “Allah mencegah kamu untuk mengenali Kunhi Zatnya Begitu pula Hadits Rasulullah Saw. :

Artinya :

“Kamu semua tetap tidak bisa mengerti tentang Kunhi Zat Allah SWT.”

Catatan :

Pengertian “menyatakan” tentang ke-Esa-an Zatjangan disamakan dengan pengertian “mengenal Kunhi Zat”. Menurutkalangan Arif Billah, kita dilarang “mengenal Kunhi Zat” dan tidak mungkin mencapainya. Pada halaman lalu tentang “arti dan makna hakikat” telah dijelaskan. (DN yang di-ind. “)

Syekh ‘Abdul Wahab Sya’roni q.s. dalam rangka memberikan penjelasan arti tentang ucapan guru beliau, Syekh Sayyid’Ali Alkhawwash r.a. beliau berkata sebagai berikut :

“Tidak ada seorangpun Di antara makhluk ini yang dapat menggambarkan dalam hatinya serta menemukan Kunhi Zat Allah Ta’ala, karena Allah itu bukan sesuatu ” ‘ain” yang bisa diperkirakan oleh akal atau yang bisa dipandang oleh pandangan hati dan mata kepala, bahkan Dia sebenarnya bukan sesuatu ‘ain yang dapat dikenali atau – yang pernah dikenal”.

Dengan demikian, apabila sudah dipahami hendaklah menyembah-Nya dengan persembahan atau ibadat yang benar.

Saya tegaskan sekali lagi, bahwa tidak ada seorangpun yang dapat mencapai TAUHIDUZ-ZAT kecuali Rasulullah Muhammad s.a.w. sendiri serta para wali pengikut beliau.

(ingat yang dimaksudkan pada alenia ini adalah TauhiduzZat bukan Kunhi Zat).

Kaifiyat (cara) menyatakan Tauhiduz Zat itu adalah :

“Kita pandang dengan mata kepala dan mata hati bahwasanya tidak ada yang maujud ini kecuali wujud Allah, fana segala zat apa pun termasuk zat kita sendiri di bawah zat Allah yang berdiri dengan sendirinya”.

Semua yang lain daripada-Allah atau “aghyar” ini, tidak akan ada kalau tidak “diadakan”. Sedang segala yang diadakan (maujud) ini Oo’im Bi Wujudillah (berdiri dengan ujud Allah).

Segala “yang diadakan” (maujud) ini tentu tadinya Tidak Ada dan akan kembali kepada Tidak Ada. Jelaslah bahwa maujud ini diapit oleh Ketidak adaan. Pada hakikatnya berarti tidak ada atau khayal (kosong) waham (persangkaan) semata-mata, dinisbahkan (dibandingkan) dengan nyatanya Wujud Allah.

Kata Syekh Shiddieg Bin Amirkhan rahimahullah : “Adanya semua yang lain daripada Allah (aghyar) ‘ ini adalah laksana kenyataan yang kita lihat di dalam mimpi. apabila kita bangun tidur barulah kita sadar bahwa semuanya itu sebenarnya tidak ada.”

Mati “Hissi” dan mati “Maknawi

Seperti apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah :

Artinya : “Semua manusia sebenarnya dalam tidur. Apabila mereka mati barulah itu yang dinamakan bangun/terjaga”.

Di kalangan Ahli Tashawuf menjelaskan bahwa mati itu ada dua macam.

Pertama : yang dinamakan “mati hissi”, yaitu mati dalam arti berpisah nyawa dengan badan.

Kedua ‘: yang dinamakan “mati maknawi” mati . sepanjang pengertian semata-mata.

Mati yang kedua (mati-maknawi) inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah Saw. dengan sabda beliau :

Artinya : “Matilah kamu sebelum mati, siapa yang ingin melihat mayit yang berjalan di permukaan bumi, lihatlah Abu Bakar”.

Mati maknawi ini diartikan pula dengan mati segala ‘, nafsu ammarah (nafsu yang selalu menyuruh kepada jalan yang jelek dan nafsu yang hanya mementingkan sematamata urusan perut dan kesenangan duniawi). Mati yang kita maksudkan di sini ialah fana dalam arti hakiki.

Nabi Muhammad Saw. bersabda :

Artinya : “Ketahuilah, segala sesuatu yang lain daripada Allah adalah batil”.

Dalil-dalil lain yang menunjukkan kebenaran uraian diatas dapat dilihat pada firman Allah dan hadits-hadits Rasulullah Saw.

Artinya :

“Semua orang adalah fana, sedang yang kekal abadi hanyalah Zat Allah, Tuhanmu (Hai Muhammad) yang memiliki kebesaran dan kemuliaan”.

Artinya :

“Semuanya segala sesuatu ini binasa, kecuali Zat-Nya”.

Kata-kata “binasa atau lenyap (halikun – fana)” dalam ayat ini adalah dalam arti “fana fil mustagbal” (masa akan datang) “fana fil hadlir” (masa sekarang) dan “fana fil madli” (masa yang telah lalu).

Artinya :

“Adalah Allah itu tak ada satupun yang menyertai-Nya. (Hadis).

Ditambahkan oleh para “Ulama:

Artinya : “Dan Dia (Allah) itu, sekarang maupun dahulu adalah tetap demikian”.

Sabda Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi:

“Demi diri Muhammad yang berada dalam tangan-Nya, andaikata anda ulurkan tali ke bumi pasti sampai ujungnya kepada Allah. Kemudian Rasulullah membaca ayat – Dialah yang awalawal (tiada berpangkal) dan akhir-akhir (tiada berujung).

Berkata Arif Billah Maulana Sayyid “Abdullah Bin Ibrahim Mirghani rahimahullah salam Tuhfatul Mursalah: “segala mumkin yang maujud pada kharij (tampak) dilihat dari segi “adanya” maka itulah ” ‘ain wujudul Haqqi subhanahuwata’ala” (kenyataan/pembuktianadanya Allah SWT.).

Dilihat dari segi “zhohir mumkin” (bentuk dan rupa) sama sekali bukanlah dia Tuhan. Sebenarnya “wujud mumkin” itulah yang diartikan “ain wujudul Hag SWT.”.

Misalnya buih ombak atau es, semua itu adalah “‘ain wujud air” pada hakikatnya, namun pada rupa dan bentuknya (dhohir) tidaklah dapat dikatakan air.

Sebagian ‘Arif Billah berkata bahwa “alam ini adalah Nuskhatul Haqqi (Naskah Tuhan) dan ada pula yang berkata bahwa alam ini adalah Cermin Tuhan.

Assyekhul Akbar wal Kibritul Ahmar q.s. di dalam Pushush (nama kitabnya) mengemukakan: “Bilamana Haq Ta’ala itu wigayah (tertera) pada suatu segi bagi hamba, artinya bahwa Hak Allah Ta’ala itu dhohir (nyata) pada cermin hamba, maka si hamba adalah “bathin” (tersembunyi). Begitu pula sebaliknya bilamana si hamba itu wigayah pada suatu segi Hak Ta’ala, artinya si hamba itu dhohir pada cermin Hag ta’ala dan hag Ta’ala adalah bathin.

Wahai para penuntut! dengan itu anda dapat . membuat ‘itibar (gambaran) terhadap segala sesuatu ini dengan mencari lawannya.

Untuk memudahkan pengertian dalam perkataan “si hamba dhohir pada cermin Hak Ta’ala dalam arti si hamba wigayah pada Wujud Hak ta’ala”, adalah sinonim (ada persamaan) dengan istilah “Syuhudul Katsrah Fil Wahdah”‘.

Menurut Syekh Suhaimi q.s. “mendahulukan pengertian ini dalam istilah, agar bagi orang yang awam tidak begitu sulit untuk memahami gambaran (‘itibar) dalam kata-kata “cermin Hak Ta’ala”, ‘itibar mana memang sulit untuk dipahami.

Begitu pula andai kata anda ingin memahami perkataan “Hak Ta’ala dhohir pada cermin hamba atau dengan perkataan lain Hak Ta’ala itu wigayah pada hamba” maka ‘itibar ini adalah persamaan (sinonim) dengan istilah “Syuhudul Wahdah Fil Katsrah”.

Andai kata anda tidak mungkin dapat membedakan antara kedua ‘itibar itu, dua cermin yang terletak pada suatu arah yang tidak terkencong sehingga ada persamaan rupa pada cermin-cermin tersebut dhohir adalah batin atau batin adalah zhohir, maka hendaklah dimengerti bahwa ‘itibaritibar itu “tsabit” (tetap) di dalam Ilmu Allah SWT.

Begitu pula sebaliknya bila anda berkata “bahwajelas Hak Ta’ala itu, lain daripada makhluk dan makhluk lain daripada Hak Ta’ala, maka hal demikian karena suatu pandangan atau cermin pada suatu segi, bahwa alam itu bukanlah Zat , atau dengan perkataan lain, bahwa alam itu berbeda dengan Zat. –

Syekh ‘Abdul Ghoni An Nablusi q.s. berkata : “yang dimaksud dengan keadaan hamba itu bukanlah dia Hak Ta’ala, namunpada segi lain dapatlah diartikan ‘Itibar Hag Ta’ala karena hamba itu adalah maujud.

Andaikata anda heran (bingung) dalam hal demikian hingga anda tidak dapat mengerti, mana yang dhohir dan mana yang batin, namun dengan beberapa alasan dan keterangan di atas sudah cukup nyata bagi anda apa yang dicari dan dituntut oleh orang yang muttagien meskipun dengan keyakinan yang terbatas: |l

Keterbatasan (tahdid) dalam pengertian terhadap Hak Allah ta’ala tidaklah menjadi persoalan, bagi Allah hal tersebutadalahjaiz (boleh), bisa saja terjadi terhadap hamba.

Keterbatasan itu didasarkan kepada keterangan Rasulullah Saw. sendiri, bahwa Allah Ta’ala dapat “bertahwil” (berubah keadaan) dalam segala rupa.

Menurut kata Syekh An-Nablusi q.s. bahwa keterbatasan itu adalah dalam arti tetap yakin terhadap ‘amat nyatanya Allah Ta’ala” tidak berubah pada batinnya, bahwa Allah SWT. adalah tetap sejak asal-Nya.

Keterangan tentang “Allah bertahwil” didasarkan kepada Hadis Rasulullah Saw. bahwasanya Allah SWT. akan tampak nyata (tajalli) di Hari Kiamat dalam rupa makhlukseraya berkata “Ana Rabbukumul ‘Ala” (Akulah Tuhanmu yang Maha Tinggi) kemudian si hambapun menjawab dengan tegas “na ‘udzu billahi minka” (kami berlindung kepada Allah dan pada engkau). Lalu Allah tampak nyata (tajalli) dalam rupa yang sebenarnya — sebagaimana yang diiktikadkan oleh si hamba. Kemudian si hambapun bersujud kepada-Nya.

Untuk tegasnya hendaklah kita fahami bahwa “wujud yang lain daripada Allah Ta’ala itu fana di bawah wujud Allah maka tidak adalah yang maujud ini pada hakikatnya hanyalah wujud Allah dan wujud alam ini adalah mazhar wujud Allah”. :

Di kalangan Arif Billah dibuat suatu misal sekedar untuk mendekatkan paham yaitu : buih, ombak, dan laut yang ketiga-tiganya ini pada hakikatnya adalah “air” atau – dengan lain perkataan bahwa ketiga-tiganya itu adalah. “kenyataan wujud air”.

Apabila si air itu bergerak lalu dinamakan ombak yang kemudian timbul buih dari gerakan ombak tersebut. Karena . air itu ada batas dan tepinya, lalu air itu dinamakan dengan, lautan.

Jadi jelaslah bahwa pada arti hakiki semua itu adalah air atau dalam artian lain, hilanglah ombak, buih dan laut, yang nyata hanya air semata-mata.

Maka fanalah alam ini, yang ada hanyalah Ujud Allah dan meliputi segala sesuatu sebagaimana firman-Nya “Wallahu bikulli syai’in muhith” (Allah meliputi segala – sesuatu). : :

Pengertian “meliputi” ini, menurut kata Syekh Al’Alimul ‘Allamah al-‘Arif Billah Maulana ‘Abdurrahman Bin Abdul ‘Aziz Al Maghribi Al’umry Rahimahuilahu Ta’ala, adapun “meliputi” Allah Ta’ala adalah Zat-Nya serta sifat. Karena Allah Ta’ala itu adalah nama bagi Zat Yang Wajibul Wujud, memiliki sifat-sifat terpuji serta sempurna. Maka pengertian meliputi itu bukanlah hanya dalam arti “ilmu-Nya” saja, sebagai persangkaan kebanyakan Ulama zahir yang jelas belum sempurna makrifat mereka terhadap Zat Allah SWT. Firman Allah SWT. :

Artinya : “Kepunyaan Allah Barat dan Timur, ke mana pun  hadapmy di sanalah Zat Allah.

Artinya :  “Dia (Allah) bersama kamu, ke mana pun /di mana pun  kamu berada”.

Pengertian “beserta” dalamayatini tentu beserta dengan Zat-Nya yang pada maknanya, adalah juga “sifat”.

Menurut perkataan Syekh Abdul Wahab Sya’roni g-s. di dalam Kitab Jawagitu wal jawahir : “barang Siapa mengatakan bahwa ma’iyah (penyertaan) Allah akan makhluk-Nya hanya dalam arti sifat saja bukan beserta Zat-Nya berarti bisa terjadi pemisahan (infikak) antara Zat dengan Sifat, yang dalam hal ini berarti mustahil.

Akan tetapi bila dikatakan bahwa “penyertaan” Allah terhadap hamba itu dalam artian sifat (beserta dengansifat ilmu Allah) yang tidak berpisah cerai antara Zat dan Sifat

.maka perkataan tersebut adalah dalam rangka kesempurnaan adab.

Oleh sebab itu pelajarilah dan fahamilah hal ini benarbenar karena masalahnya cukup rumit.

Allah “laisa kamitslihi syai’un” (tidak ada persamaan-Nya dengan sesuatu).

Zat Allah SWT. dan ujud-Nya itu bukan “jisim” (berupa bentuk) bukan “jauhar” (sesuatu kesatuan yang tidak terbagi-bagi) dan bukan pula “arad!’ (inti jauhar tetapi bukan jauhar) dan bukan pula ‘ittihad” dan tidak pula “hulul” sebagaimana firman Allah :

Artinya :

“Tidakada seumpama-Nya/persamaan-Nya dengan sesuatu dan Dia, Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

Tidaklah Allah itu bersahabat, beranak dan diperanakkan, dan tidak pula ada pasangan-Nya. (5. Al-Ikhlash).

Dengan penjelasan semua itu, maka dapatlah disimpulkan seluruh pengertian ini dan hendaklah dengan penuh kemantapan (tahkik) “tidak ada yang maujud ini pada hakikatnya hanya Allah” berarti fanalah segala perbuatan hamba/ makhluk pada perbuatan Allah, fanalah asma hamba/makhluk pada asma Allah, fana pula sifat hamba/makhluk pada sifat Allah dan akhirnya fanalah zat hamba/makhluk pada Ujud Zat Allah Ta’ala.

Segala apa pun yang ada pada makhluk ini hilang sirna dan semata-mata khayal dan waham (sangka-sangka).

Berarti pula “lenyap atsar” (ketentuan) pada “mu’ atstsir” (yang menentukan). Si hamba hanyalah laksana benang melayang di udara, ke mana angin bertiup ke sanalah ia.

Demikian selanjutnya, si hamba tersebut berarti telah tenggelam dalam lautan “Ahadiyatullah (ke-Esa-an Zat Allah)seakan-akan sudah tidak mungkin dapat diselamatkan lagi atau seakan-akan mabuk (sakar) karena meminum “khamarul hagigat” yang hampir saja tidak dapat bangun lagi akibat kerasnya minuman tersebut. :

Dengan adanya dan timbulnya “rasa” yang demikian, maka dapatlah dikatakan bahwa ia telah berhasil dalam tingkatan “fana fillah” hilang sirna ujudnya pada ujud

Namun sebenarnya tingkatan yang demikian itu belum lagi mencapai tingkatan yang lebih tinggi yaitu tingkatan — ‘Bago Billah” kekal dengan Allah, dengan pandangan yang mantap, bahwa Allah yang menyatakan kekekalan pandangan tersebut.

Syuhudul katsrah fil wahdah. (Pandang yang banyak pada yang satu)

Kita ulangi lagi penjelasan tentang istilah ini agar lebih mantap pengertiannya, pandangan yang pasti bahwa ujud akwan (peristiwa, keadaan dan alam) ini adalah mazhar Ujud Allah Ta’ala. Semuanya kenyataan yang bermacam ragam ini (katsrah) adalah “qo’im (berdiri)” adanya semua ini karena adanya Allah SWT. yang Tunggal/Maha Esa.

Laksana sepohon kayu, kita lihat banyaknya daun, cabangdanranting, pohon danakar dansebagainya, semua itu datang dari biji yang tampak pada sir hati dan pikiran kita, hanyalah biji semata-mata.

Dari contoh ini dapat diambil pengertian bahwa daun, cabang, ranting, batang dan akar adalah alam dan akwan ini, sedang bijiitu adalah misal, adalah Allah Yang Maha Esa.

Catatan

Ini hanya sekedar contoh untuk memudahkan pengertian saja, jangan diputar lagi pengertiannya, “lantas biji datang dari mana?”. Contoh ini hanya menitik ‘beratkan pada pengertian biji sebagai sumber segala galanya. (DN. yang di-ind. “) La

syuhudul wahdah fil katsrah Artinya “pandangan yang satu pada yang banyak” maksudnya langsung pandangan dan pengertian kepada Allah Yang Esa, mesra dan meliputi ia pada segala zarratul wujud sebagai contoh di atas tadi, tampak hanya biji yang dari itulah timbul segala daun dan sebagainya.

Harap pengertian yang sungguh-sungguh bahwa pandangan yang dimaksudkan itu bukanlah pandangan dalam arti “gauli” dan “Tafdhi” (kata-kata dan ucapan) tetapi adalahsepanjang pandangan dalamarti “dzaugi’ (perasaan).

Ucapan dan kata-kata hanya sekedar untuk memudahkan pengertian. Tetapi yang penting adalah dinilai, dipandang dan ditanggapi dengan perasaan.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker