Kitab Tauhid

Terjemahan Kitab Ad Durrun Nafis

BEBERAPA PENJELASAN

Untuk pasal ini perlurasanya dijelaskan beberapa istilah dan pengertian sekedarnya, meskipun penjelasanpenjelasan yang ada sebenarnya sudah cukup memadai, Alam dan Zat Allah SWT.

Alam yang dimaksudkan dalamkitab ini adalah sesuatu yang lain daripada Allah, yang diadakan atau yang. diciptakan, umumnya juga dikatakan dengan “aghyar”.

Jadi jelas sekali bahwa “alam” bukanlah Zat Allah.

Dari sinilah sebenarnya patokan kita untuk memahami setiap masalah yang menyangkut Ilmu Tasawuf yang membicarakan tentang Ketuhanan.

Di dalam pasal ini ada kata-kata sebagai berikut :

  1. a) “Alam Nuskhatul Haqqi – Alamadalahnaskah Tuhan.
  2. b) Alam Cermin Tuhan – Dalam istilah Arab dan umumnya dalam kalangan Sufi lebih dikenal istilah Alam Mir’atul Haqqi.
  3. Alam Mazhar Wujudullah – Alam, pembuktian ujud Allah.
  4. . Alam ‘Ainul Haqqi – Alam adalah kenyataan Tuhan.

Kata-kata yang seperti ini tidak bisa hanya dilihat dan dibaca menurut bunyi kata-kata itu semata-mata (leterlijk), sehingga asosiasi tertuju kepada arti dari kata-kata. Kata-kata dan ungkapan dari kalangan Sufi pada umumnya adalah berupa rumuz-rumuz, gambaran-gambaran sebagai pelampiasan kata hati dan perasaan.

Sebagaimana kita maklum, bahwa kata-kata adalah suatu alat komunikasi antara satu pihak dengan pihak yang lain sehingga terjadi hubungan pengertian dari kedua belah pihak.

Dapat pula dimengerti, bahwa kata-kata itu sendiri dapat pula menimbulkan perkiraan yang salah terhadap mereka yang melahirkan kata-kata itu.

Akan tetapi bila kita kembali kepada suatu ungkapan bahwa kata-kata hanyalah sekedar isyarat dan gambaran belaka, lebih-lebih lagi bila kata-kata itu ada hubungannya dengan perasaan, maka seharusnya tidaklah perlu ada prasangka buruk (negatif) terhadap mereka yang melahirkan kata-kata dan ucapan itu.

Lebih ngeri lagi kalau kita bandingkan dengan sebuah sabda Rasulullah Saw. .

Artinya :

“Allah ciptakan Adam seperti rupa-Nya’.

Kata-kata demikian ini sukar untuk menolaknya, lebihlebih bila diingat datang dari lidah Rasulullah sendiri yang . diriwayatkan oleh seorang Imam Hadits yang terkenal ketelitiannya dalam merawikan hadits.

Sabda Rasulullah ini tetap akan kita terima dan kita yakini, namun pasti ada pengertian yang lebih mendalam dibalik lafaz dan kata-kata dimaksud.

Begitu pula Hadits Rasulullah berupa Hadits Oudsi yang mana Allah berfirman “Aku jadi penglihatan, Aku jadi kakinya, Aku jadi tangannya….dan sebagainya….dan sebagainya.

Alangkah hebatnya kata-kata itu.

Adakah yang bertanya dan membantah? ‘

Kenapa Allah mau jadi tangan dan kaki hamba?

Dan kenapa jadi begitu?

Tidak ada tanya dan bantah.

Masya Allah hebat sekali.

Kalau demikian, apakah salahnya Ahlul Arifin Billah melahirkan kata-kata gambaran di atas? Kalau – mereka nyata-nyata tenggelam dalam lautan “rasa” akhirnya mereka tidak dapat berkata, bingung, nanar dan sasar, apakah ini harus dipersalahkan pula? Apabila mereka berkata “Tak dapat lagi membedakan antara hamba dengan Tuhan” apakah tepat bila kita secara langsung menuduh mereka “mempersamakan hamba : dengan Tuhan?”.

Tuduhan demikian adalah keliru.

Apa sebabnya? Jawabnya mudah saja. Tidak ada seorang hambapun yang dahulunya dapat membedakan antara hamba dengan Tuhan kecuali asalnya Allah sendiri. Para Rasulpun tidak. Para Rasul hanya menyampaikan apa-apa yang difirmankan Allah kepada mereka.

Tidak ada seorang manusiapun tadinya yang mengetahui bahwa Allah itu Ada, bahwa Allah itu Maha Pencipta, bahwa Allah itu Hidup dan sebagainya, semua itu adalah pemberitahuan Allah.

Setelah Allah memberitahu semua itu melewati Para Rasul dan nabi-nabi, barulah manusia ini tahu ‘keadaan Allah SWT. dan barulah manusia dapat membedakan antara hamba dengan Tuhan.

Karena pembicaraan ini menyangkut masalah hakikat dan yang sebenar-benarnya, maka pantas kalau mereka berkata dengan kata-kata tersebut itu.

“Oleh sebab itu, maka diharapkan jangan sampai ada tuduhan-tuduhan yang mengerikan kepada mereka (Arif Billah) yang hanya dengan kata-kata nuskhatul Haqqi, ‘ainul Haqqi, atau mu’atul Haqqi lalu langsung menuduh mereka berfaham sesat atau dengan perkataan lain berupa gelargelar yang cukup menyinggung perasaan, malah hanya membawa perpecahan dan pemisahan yang tajam di kalangan Umat Islam sendiri.

Untuk menjaga kemurnian dan kelanggengan Ajaran Islam memang seharusnya kita berusaha mempertahankan kebenaran Islam, menolak ajaran yangnyata kekafirannya, nyatapula kesesatannya. Penolakanitu tergantung dengan : kekuatan Da’wah sampai di mana kita bisa memikat . denganmengemukakan cara berfikir yang benar dan sehat sebagai yang. diajarkan oleh Allah sendiri : ‘

Artinya :

“Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan nasehat yang baik dan bantahlah keterangan mereka dengan cara yang baik”.

Metoda yang demikian saya kira tidaklah berarti merusakkan kerukunan beragama dalam Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Mengembalikan Tasawuf Ke Pangkalnya sebagaimana anjuran Buya Prof. Dr. Hamka pada Pidato Dies Natalis PTAIN di Jogyakarta tahun 1959 merupakan suatu anjuran yang beralasan, mengingat banyaknya gerakan kebatinan yang tumbuh laksana cendawan di musim hujan, tidak sedikit diantaranya yang lepas dari dasar-dasar Iman sepanjang ajaran Islam.

Saya beranggapan dan berharap bahwa dengan penyempurnaan Kitab Durrun Nafis yang diindonesiakan ini, Insya Allah dalam rangka itu, mengingat pula bahwa Kitab ini dahulunya (sebelum perang) termasuk Kitab yang tersebar luas dan merupakan pegangan masyarakat banyak. Kita Kaum Muslimin yang berpegang teguh kepada pendirian Ahlu Sunnah Wal Jama’ah masih tetap mempunyai kekuatan dan senjata ampuh ialah “doa” dan harap kepada Allah SWT. agar tetap memelihara . keagungan Agama Islam di mana pun  juga serta memelihara Agama Islam dan kaum Muslimin dari segala cobaan-cobaan.

Kita tetap menginginkan persatuan bangsa dan keutuhan Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini sesuai dengan azas Pancasila, dengan adanya suatujaminan untuk tidak membiarkan tumbuhnya bermacam-macam kepercayaan dan iktikad yang memanggil-manggil orangorang Muslim agar mengikuti ajaran mereka, di mana akhirnya selembar demi selembar daun-daun Muslimin berterbangan dari pohonnya.

Berparjang kata tentang masalah ini, hanya dengan suatu maksud agar Kaum Muslimin dan Ulama Islam yang ada kini, tidak begitu mudah melontarkan kata-kata, mengucilkan sesama umat yang bernabikan Muhammad Saw. dan berkitab sucikan Al Our’an, umat yang masih tetap percaya kepada hari kebangkitan, karena dengan cara demikian akan menghancurkan barisan Umat Islam sendiri pada akhirnya.

pengertian kata “nuskhatul Haqqi”

Sebagaimana dijelaskan pada bagian muka bahwa arti kata ini adalah “naskah ketuhanan”. Alam adalah naskah ketuhanan. Karena alam ini adalah laksana naskah atau kitab yang semuanya dapat dibaca dan dipelajari untuk mencari kebenaran hakiki ialah Allah SWT.

Allah banyak sekali berfirman dan berseru kepada manusia yang berakal agar membaca dan mempelajarinya, karena apa pun yang terpampang di permukaan alam ini adalah “ayat-ayat” yang harus difikirkan. Kumpulan ayatayat itu dapat pula dikatakan suatu naskah atau kitab.

Ibnu ‘Athoillah r.a. mengungkapkan dalam rangka membaca semua ini, janganlah laksana seekor sapi yang bekerja menggiling padi di penggilingan karena bagaimana pun  tidak akan sampai kepada titik tujuan yang sebenarnya.

Seorang manusia yang berfikir : Hidup perlu Kerja, Kerja perlu Makan, Makan untuk tambah Tenaga, Tenaga untuk dapat Kerja, Kerja untuk Makan dan seterusnya…… danseterusnya…… Akhirnya hanya laksana bulatan (sirkel) yang terus-menerus berputar dalam lingkaran itu saja, tidak bedanya dengan seekor sapi di penggilingan padi.

Kapan waktunya dia mencari kebenaran hakiki? kalau dia tetap disibukkan dalam suatu sirkulasi demikian, Kenapa dia tidak mau “membaca” naskah berupa dirinya dalam alam ini?

Apabila seseorang mau mempergunakan waktu untuk membaca naskah dirinya dan alam ini, dia pasti akan sampai kepada tujuan hidup yang sebenarnya, akan dapat mengenal dengan pengenalan sempurna kepada Maha Pencipta Naskah yang berupa diri dan alam.

Maka misal dan ungkapan bahwa alam ini adalah Naskah Ketuhanan sebenarnya dapat kita terima.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker